home

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

12 Jam Mencari Vaksin untuk Istri Hamil dengan Hepatitis B

12 Jam Mencari Vaksin untuk Istri Hamil dengan Hepatitis B

Bayi yang lahir dari ibu hamil dengan hepatitis harus segera diberi vaksin dalam waktu 12 jam atau maksimal 24 jam setelah dilahirkan. Tapi hari ketika istri saya melahirkan, vaksin hepatitis untuk bayi kami tak tersedia. Inilah kisah saya dikejar waktu mencari vaksin untuk anak saya yang lahir dari ibu dengan hepatitis.

Istri positif hepatitis B saat hamil anak ketiga

hamil dengan hepatitis

Saya dan istri tinggal di Kabupaten Tangerang dan telah memiliki dua anak perempuan yang sehat. Pada Juni 2019, istri saya dinyatakan hamil kembali dan kandungannya telah memasuki usia 4 minggu.

Istri saya selalu memeriksakan kehamilannya kepada bidan terdekat. Dua anak kami sebelumnya pun lahir dengan bantuan bidan tersebut. Namun, berdasarkan informasi baru yang kami terima dari grup ibu posyandu, kami harus memeriksakan kehamilan kali ini ke puskesmas terdekat. Katanya, ibu hamil harus periksa ke puskesmas.

Maka satu minggu setelah pemeriksaan di bidan, saya mengantarkan istri saya ke puskesmas untuk periksa kembali. Di puskesmas tersebut istri saya melakukan banyak pemeriksaan, mulai dari pemeriksaan HIV, sifilis, hingga hepatitis B. Tiga pemeriksaan tersebut wajib dilakukan oleh ibu hamil di awal kehamilannya.

Setelah menjalani semua pemeriksaan tersebut, istri saya dinyatakan positif Hepatitis B. Saya kaget sekali saat dokter di sana menjelaskan bahwa hepatitis B merupakan penyakit akibat infeksi virus dan bisa menyebabkan penyakit hati serius. Penyakit ini juga bisa menular secara vertikal dari ibu ke janin saat masa kehamilan atau saat melahirkan.

Kami berdua tentu saja panik dan bertanya-tanya. Ini penyakit apa? Dari mana asalnya?

Ketidaktahuan membuat rasa was-was dalam diri kami semakin menjadi. Melihat resah yang terpancar dari diri kami, petugas puskesmas segera mencoba menenangkan. “Bapak dan Ibu jangan sedih, hepatitis B sudah ada vaksinnya. Jadi Bapak dan Ibu jangan berkecil hati,” ucapnya pada kami.

Mereka menjelaskan bahwa vaksin hepatitis bisa didapatkan secara gratis asalkan kami mengikuti semua prosedur yang dianjurkan puskesmas. Setelah itu istri saya dirujuk ke RSUD Pakuhaji untuk memastikan diagnosis hepatitis B sekaligus berkonsultasi dengan dokter spesialis penyakit dalam.

Di rumah sakit, dokter pun berkata serupa. “Bapak dan Ibu jangan khawatir, ada vaksin untuk anaknya nanti setelah lahir. Kalau lahiran di sini, vaksinnya langsung ada di sini,” ucapnya.

Saya dan istri pun sedikit lega namun saya tetap mencari-cari informasi seputar hepatitis B dan bagaimana mencegahnya. Semua artikel yang saya baca menyatakan bahwa vaksin merupakan salah satu cara yang efektif mencegah infeksi ke bayi yang dilahirkan dari ibu dengan hepatitis. Saya pun bertekad sebisa mungkin harus mendapatkan vaksin hepatitis B untuk anak saya nanti.

Selama menjalani kehamilan dengan hepatitis, istri saya rutin memeriksakan kandungannya. Saya pun tak pernah absen mendampingi ia setiap bulannya. Setiap kali pemeriksaan, saya selalu memastikan bahwa kami telah melalui prosedur yang tepat untuk mendapatkan vaksin hepaptitis tersebut.

Di hari kelahiran, vaksin hepatitis tidak tersedia

hamil dengan hepatitis

Hingga hari perkiraan lahir (HPL) tiba, istri saya belum juga mengalami kontraksi. Maka di hari perkiraan lahir itu, Jumat pagi sekitar pukul 09.00, saya dan istri segera pergi ke puskesmas untuk melapor.

HPL memang sudah tiba tapi istri saya belum juga mengalami pembukaan. Awalnya istri saya akan diminta untuk pulang dan istirahat di rumah. Namun karena tekanan darahnya tinggi, dia dianjurkan dirawat di ruang bersalin. Namun, puskesmas tak membuka layanan perawatan tersebut di tengah situasi pandemi.

Ketika istri saya beristirahat, seorang petugas puskesmas menghampiri saya dan berkata bahwa saya harus menyiapkan uang sebesar Rp 3-4 juta untuk membeli vaksin hepatitis B. “Di (puskesmas) kita nggak ada, jadi harus beli dari distributor, Pak,” kata petugas itu.

Mendengar kabar tersebut saya terkejut tak menyangka. Rasanya ingin marah sebab saya merasa bahwa kami sudah terdaftar sebagai penerima vaksin, namun kenapa vaksin tersebut tak tersedia saat HPL. Namun saya tak berkata apapun.

Selain itu, kami diberi pilihan rumah sakit untuk perawatan karena istri saya belum mengalami kontraksi dan tekanan darahnya tinggi. Lalu saya memilih Rumah Sakit Mitra Husada karena saya pikir fasilitasnya lebih lengkap. Saya khawatir jika istri saya harus melahirkan secara sesar.

Setibanya di rumah sakit, ternyata tekanan darah istri saya normal. Saya hanya bersyukur dan tidak pikir pusing kenapa hasil pemeriksaan di puskesmas dan rumah sakit bisa berbeda. Namun istri saya tetap di rumah sakit karena sudah HPL.

Pihak rumah sakit memberi pilihan pada istri saya mau diinduksi atau mau lahiran sesar. Istri saya memilih diinduksi. Pihak rumah sakit pun kembali melakukan pemeriksaan darah untuk memastikan istri saya positif hepatitis B.

Setelah pemeriksaan itu, pihak rumah sakit memberi tahu bahwa saya harus menyiapkan vaksin untuk bayi kami nanti, paling lama 12 jam setelah kelahiran. Hal ini karena rumah sakit tidak menyediakan ataupun memperjualbelikan vaksin hepatitis untuk bayi.

“Vaksin hepatitis itu tanggung jawab puskesmas,” begitu kira-kira ucap petugas rumah sakit. “Kalau vaksin tidak ada dalam 12 jam, Bapak bisa membuat surat hitam diatas putih yang menyatakan bahwa Bapak tidak menyediakan vaksin untuk bayi.”

Pontang-panting mencari vaksin hepatitis

 hamil dengan hepatitis

Hari sudah menunjukkan pukul 17.00 sore. Pusing, takut, dan marah menyelimuti saya di sore ketika istri saya sedang berjuang untuk melahirkan anak ketiga kami. Saya bingung bagaimana caranya mendapatkan vaksin hepatitis untuk anak kami sementara saya tak memiliki uang saat itu. Sebab, pekerjaan saya batal semua semenjak pandemi COVID-19 melanda.

Saya memutuskan untuk turun ke parkiran karena lorong rumah sakit terasa menyesakkan bagi saya yang sedang mumet. Saya telepon sejumlah kerabat dan kawan dekat untuk meminjam uang demi membeli vaksin. Namun mereka juga sama-sama sedang kesusahan. Sebagian mentransfer uang Rp 100-200 ribu untuk membantu dan mendoakan keselamatan istri saya yang hamil dengan hepatitis dan anak yang akan dilahirkan.

Selepas magrib, saya nyalakan motor dan pergi menuju puskesmas. Sekitar pukul 19.00, saya tiba kembali di sana dan memohon informasi apa yang bisa saya lakukan demi mendapat vaksin untuk anak kami. Namun pihak puskesmas menyatakan tak ada yang bisa mereka bantu.

Mereka mencoba menghubungi bidan koordinator atau bidan desa, namun tanggapannya sama. Saya harus menyiapkan uang Rp 4 juta untuk memesan vaksin kepada distributor. Mereka nanti akan mengantarkan vaksin tersebut ke rumah sakit.

Saya tak tahu lagi apa yang harus saya lakukan. Saya butuh uang untuk membeli vaksin bagi anak saya, tapi saya tak memiliki. Apakah anak saya harus sakit-sakitan setelah ia dilahirkan nanti? Saya tak ingin hal tersebut terjadi.

Saya mencoba pergi ke RSUD Pakuhaji walaupun saya tahu jam kerja administrasi di rumah sakit telah tutup. Mereka tetap melayani saya. Namun, dengan berat hati petugas di rumah sakit berkata bahwa vaksin hepatitis harus berdasar rujukan dari puskesmas.

Akhirnya saya pergi lagi ke puskesmas. Bidan di sana segera meminta saya untuk menghubungi bidan desa. “Ini vaksinnya sudah ada di RSUD Pakuhaji, Bu. Saya mau minta surat rujukan dari puskesmas,” ucap saya setelah telepon tersambung. Bidan desa menyalahkan saya karena tidak memilih melahirkan di RSUD Pakuhaji. Saya tak bisa mendapat surat rekomendasi tersebut karena saya telah memilih rumah sakit lain.

Sekitar pukul 22.00 WIB, saya membuka laman Facebook. Di situ saya cari semua kata kunci yang berhubungan dengan hepatitis. Saya tanya banyak orang, masuk ke grup hepatitis, dan menceritakan apa yang kami alami. Kemudian ada seseorang yang menanggapi dengan serius dan mengirim pesan pribadi.

Ibu ini meminta bukti bahwa istri saya hamil dengan hepatitis dan akan melahirkan. Setelah itu ia memberikan kontak ketua Komunitas Hepatitis, namanya Ibu Ita.

Bantuan dari komunitas hepatitis untuk ibu hamil

Bayi menerima injeksi vaksin hepatitis B sebagai pengganti vaksin hepatitis B

Saya telepon Ibu Ita, dua kali tidak diangkat. Saya lihat jam sudah menunjukkan pukul 23.00 WIB. Pantas saja tidak diangkat. Saya tak terpikir sama sekali saat itu bahwa menelepon orang tak dikenal di tengah malam sangatlah tidak sopan. Namun saya tak punya pilihan lain karena saya hanya diberi waktu 12 jam untuk mendapatkan vaksin.

Saya pun mengirim pesan WhatsApp kepada Bu Ita. Saya memperkenalkan diri dan menjelaskan kondisi istri saya yang hamil dengan hepatitis. Tak lama setelah pesan tersebut terbaca, Bu Ita menelpon saya sekitar pukul 23.30. Ia menanyakan beberapa lebih rinci terkait kondisi saya.

“Bapak, ini hari Jumat malam dan sudah hampir tengah malam. Besok hari Sabtu, hampir semua instansi libur. Jadi saya tidak bisa janji bisa bantu banyak, tapi akan saya usahakan,” ucap Bu Ita malam itu.

Ibu Ita bilang akan mengusahakan agar kami dapat vaksin gratis karena berkas-berkas itu sudah lengkap dan seharusnya vaksin jatah bayi saya sudah tersedia 3 bulan sebelum HPL. Tapi jika tidak bisa, maka komunitas hepatitis akan patungan membantu untuk membeli vaksin dari distributor.

Setelah menutup telepon saya kembali ke rumah sakit. Sekitar pukul 00.30, saya dipanggil ke ruang bersalin. Katanya, istri saya kehabisan napas dan harus dibawa ke ruang operasi sesar. Sambil bergetar saya mengisi formulir persetujuan operasi. Tapi sebelum saya selesai mengisi formulir ternyata napas istri saya kembali stabil. Syukur alhamdulillah.

Pukul 01.00 WIB, hari Sabtu, bayi saya lahir dengan selamat.

“Pak bayinya lahir dengan selamat dengan berat dan tinggi sekian,” kata petugas. “Siang nanti paling lama pukul 1 siang harus sudah ada vaksin, ya.”

Malam itu sampai pagi, selain mengurus istri saya, saya terus mencari informasi baik di Google, di Facebook, dan di mana-mana.

Di pagi hari itu, Ibu Ita mengirim pesan berkata bahwa ia masih berusaha menghubungi beberapa orang. Pukul 12.30, Sabtu siang, Ibu Ita telepon saya untuk mengabarkan bahwa akan ada orang dari Kementerian Kesehatan yang menelepon saya.

Orang Kemenkes ini menelpon Dinas Kesehatan setempat. Lalu Dinas kesehatan menelpon puskesmas kecamatan dan akhirnya dikonfirmasi vaksin untuk anak dari ibu hamil dengan hepatitis tersedia.

“Pak, vaksin hepatitis tersedia banyak. Bapak bisa ke puskesmas untuk menandatangani formulir,” kata orang Dinas Kesehatan ketika menelepon saya. Dia bilang semua data yang saya pegang itu lengkap dan cukup untuk mendapatkan vaksin gratis.

Pukul 13.30 WIB, Ibu Ita menelepon pihak rumah sakit meminta bantuan agar saya diberi waktu hingga vaksinnya tiba. Saya dengan tenang pergi ke puskesmas. Dalam perjalanan ke puskesmas itu air mata saya tidak terasa keluar. Saya lega sekali.

Saya tiba di puskesmas pukul 14.30 WIB, lalu vaksin di bawa ke rumah sakit menggunakan ambulans agar tiba dengan cepat. Pukul 17.00 WIB bayi saya selesai di vaksin. Saya potret momen tersebut dan saya kirimkan ke Bu Ita serta Ibu dari Kemenkes yang telah menelepon dan membantu saya.

Terima Kasih yang luar biasa untuk kebaikan Ibu Ita, Komunitas Hepatitis, dan orang-orang yang ikut membantu saya.

Lasdogefi bercerita untuk pembaca Hello Sehat.

Memiliki kisah atau pengalaman kehamilan yang menarik dan inspiratif? Mari berbagi cerita bersama para orang tua lain di sini.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Foto Penulis
Ditinjau oleh dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh Ulfa Rahayu
Tanggal diperbarui 3 minggu lalu
x