Masalah kesuburan alias infertilitas tidak hanya menghantui wanita, tetapi juga pria. Untuk mengetahui lebih jelas tentang penyebab dan cara menangani infertilitas pada pria, simak pembahasan berikut ini.
Masalah kesuburan alias infertilitas tidak hanya menghantui wanita, tetapi juga pria. Untuk mengetahui lebih jelas tentang penyebab dan cara menangani infertilitas pada pria, simak pembahasan berikut ini.

Ketidaksuburan atau infertilitas merupakan masalah yang bisa dialami wanita maupun pria. Infertilitas pada pria biasanya menandakan gangguan pada sistem reproduksi yang memengaruhi produksi sperma.
Dikutip dari Mayo Clinic, masalah kesuburan pada pria adalah penyebab susah hamil pada lebih dari sepertiga pasangan yang sedang menjalani program hamil.
Masalah kesuburan pada pria kerap kali tidak menunjukkan gejala yang jelas. Akan tetapi, Anda mungkin mengalami salah satu atau beberapa tanda berikut ini.

Berikut ini adalah beberapa penyebab umum infertilitas atau masalah kesuburan pada pria.
Ciri-ciri sperma tidak sehat antara lain jumlah sperma sedikit, bentuk sperma abnormal, dan sperma tidak mampu berenang dengan baik.
Masalah pada sperma ini adalah penyebab utama dari infertilitas pada pria. Adapun, beberapa kelainan sperma yang mungkin terjadi adalah sebagai berikut.
Impotensi atau disfungsi ereksi adalah ketidakmampuan seorang pria untuk melakukan ereksi.
Walau kondisi ini dapat dialami oleh pria pada usia berapa pun, disfungsi ereksi tetap dianggap tidak normal dan bisa memengaruhi kesuburan pria.
Di samping itu, impotensi juga bisa menandakan masalah kesehatan yang lebih serius, seperti penyakit jantung, diabetes melitus, atau gangguan hormonal para pria.
Masalah ejakulasi juga dapat menyebabkan infertilitas pada pria. Adapun, beberapa masalah ejakulasi yang umum terjadi adalah sebagai berikut.
Gangguan yang berdampak pada testis juga merupakan penyebab masalah kesuburan pada pria. Berikut ini adalah beberapa contohnya.
Prostatektomi (prosedur operasi untuk mengatasi kanker prostat) juga bisa menjadi salah satu penyebab infertilitas pada pria.
Ini karena prostatektomi akan mengangkat kelenjar prostat dan vesikula seminalis yang berfungsi untuk menghasilkan air mani yang membawa sel sperma.
Pria yang menjalani operasi ini mungkin akan kehilangan air mani dalam jumlah banyak. Kondisi ini bisa menyulitkan ejakulasi dan bahkan menimbulkan masalah kesuburan.
Diabetes bisa mengganggu kesuburan pria. Pasalnya, kondisi yang ditandai dengan tingginya kadar gula darah ini bisa berdampak pada sistem reproduksi.
Sebagai contoh, diabetes dapat meningkatkan risiko terjadinya impotensi dengan memengaruhi kadar hormon testosteron sehingga menjadi lebih rendah.
Akibat testosteron yang menurun, libido ikut berkurang dan produksi sel sperma bisa terganggu.
Selain kondisi atau penyakit tertentu, beberapa kebiasaan sehari-hari di bawah ini juga meningkatkan risiko gangguan kesuburan pria sehingga menjadi penyebab wanita susah hamil.
Paparan panas pada testis bisa mengganggu produksi sperma, sebab suhu ideal pembentukan sperma lebih rendah beberapa derajat daripada suhu normal tubuh.
Berendam air panas, memangku laptop, memakai celana terlalu ketat, atau duduk terlalu lama merupakan beberapa aktivitas yang mampu meningkatkan suhu pada sekitar area testis.
Konsumsi minuman beralkohol atau berkafein secara berlebihan berisiko menurunkan kualitas sperma, mengurangi gairah seksual, dan menyebabkan impotensi.
Hampir sama dengan pengaruh dari alkohol, zat-zat beracun dalam rokok dapat menyebabkan kerusakan pada sel sperma yang sehat.
Merokok juga kemungkinan akan mengganggu keseimbangan hormon dalam tubuh yang berujung pada masalah kesuburan pada pria.
Pria dengan berat badan berlebih memiliki risiko dua kali lebih tinggi untuk mengalami kelainan sperma, seperti jumlah sperma lebih sedikit dan pergerakan sperma yang buruk.
Pasalnya, lemak yang berlebihan di dalam tubuh bisa mengubah testosteron menjadi estrogen. Kelebihan estrogen dalam tubuh pria dapat menyebabkan penurunan kualitas sperma.
Untuk mendiagnosis masalah kesuburan pada pria, dokter akan melakukan beberapa pemeriksaan di bawah ini.

Penanganan infertilitas pada pria akan tergantung pada penyebabnya. Berikut ini adalah beberapa metode yang umumnya disarankan oleh dokter.
Pada kasus infertilitas yang ringan, umumnya dokter akan menyarankan pasein untuk menghentikan perilaku yang tidak sehat, seperti merokok dan minum alkohol secara berlebihan.
Hal ini juga perlu dibarengi dengan penerapan gaya hidup sehat, meliputi pola makan sehat dan seimbang serta berolahraga rutin untuk membantu meningkatkan kualitas sperma.
Dokter akan meresepkan obat-obatan tertentu yang dapat meningkatkan produksi sperma serta mengatasi gangguan hormonal yang menjadi penyebab masalah kesuburan pada pria.
Beberapa jenis obat kesuburan pria yang umumnya digunakan yakni clomiphene citrate dan anastrozole untuk merangsang produksi testosteron dan meningkatkan jumlah sperma.
Jika ada masalah struktural, seperti varikokel dan penyumbatan pada saluran sperma, prosedur bedah mungkin diperlukan untuk memperbaiki kelainan tersebut.
Prosedur yang juga dikenal sebagai assisted reproductive technology (ART) ini dapat dilakukan untuk mengatasi masalah kesuburan pada kebanyakan pasangan suami-istri.
Dokter akan terlebih dahulu mengambil sperma melalui ejakulasi normal atau prosedur operasi.
Kemudian, dokter dapat mengusahakan pembuahan sel telur melalui inseminasi intrauterin (IUI) atau fertilisasi in vitro (IVF).
Dengan diagnosis dan penanganan yang sesuai, banyak kasus infertilitas pada pria bisa diatasi dengan baik.
Oleh karena itu, konsultasikan dengan dokter bila Anda sudah mencoba memiliki anak dengan metode alami, tetapi pasangan belum kunjung hamil.
Catatan
Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan. Selalu konsultasikan dengan ahli kesehatan profesional untuk mendapatkan jawaban dan penanganan masalah kesehatan Anda.
Infertility. (2023). World Health Organization. Retrieved September 26, 2024, from https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/infertility
Infertility: Frequently asked questions. (2024). Centers for Disease Control and Prevention. Retrieved September 26, 2024, from https://www.cdc.gov/reproductive-health/infertility-faq/
Male infertility. (2019). Johns Hopkins Medicine. Retrieved September 26, 2024, from https://www.hopkinsmedicine.org/health/conditions-and-diseases/male-infertility
Infertility in men. (2023). Better Health Channel. Retrieved September 26, 2024, from https://www.betterhealth.vic.gov.au/health/ConditionsAndTreatments/infertility-in-men
Premature ejaculation. (2023). Urology Care Foundation. Retrieved September 26, 2024, from https://www.urologyhealth.org/urology-a-z/p/premature-ejaculation
Testicular trauma. (2023). Urology Care Foundation. Retrieved September 26, 2024, from https://www.urologyhealth.org/urology-a-z/t/testicular-trauma
Retrograde ejaculation. (2022). Mayo Clinic. Retrieved September 26, 2024, from https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/retrograde-ejaculation/symptoms-causes/syc-20354890
Low sperm count. (2022). Mayo Clinic. Retrieved September 26, 2024, from https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/low-sperm-count/symptoms-causes/syc-20374585
Does male masturbation affect fertility? (2023). Mayo Clinic. Retrieved September 26, 2024, from https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/male-infertility/expert-answers/male-masturbation/faq-20058426
High blood sugar and male infertility. (2019). Your Fertility. Retrieved September 26, 2024, from https://www.yourfertility.org.au/high-blood-sugar-and-male-infertility
Versi Terbaru
17/10/2024
Ditulis oleh Satria Aji Purwoko
Ditinjau secara medis oleh dr. Damar Upahita
Diperbarui oleh: Edria