Hati-hati, Ini Risiko Memelihara Hewan Selama Hamil

Ditinjau secara medis oleh: | Ditulis oleh:

Dipublikasikan tanggal: 05/04/2020
Bagikan sekarang

Memiliki hewan peliharaan yang lucu, dapat menghidupkan suasana rumah. Namun, ada risiko memelihara hewan saat hamil justru yang perlu diwaspadai. Risiko ini bukan hanya untuk kesehatan ibu, namun juga pada bayi dalam kandungan. Lantas, apa saja dampak yang akan timbul memelihara hewan selama hamil? Hewan apa saja yang membawa dampak tersebut?

Risiko penyakit jika memelihara hewan selama hamil

Setiap hewan peliharaan membawa bakteri yang berbeda yang dapat ditularkan dan menimbulkan penyakit pada manusia. Beberapa penyakit dapat dengan mudah disembuhkan, tetapi beberapa lainnya berbahaya bagi kelompok orang dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah, termasuk ibu hamil.

Berikut beberapa penyakit yang bisa timbul pada ibu hamil yang memiliki hewan peliharaan:

  • Sindrom TORCH

TORCH merupakan akronim dari empat nama bakteri/virus, yaitu Toksoplasmosis, Rubella, Cytomegalovirus (CMV), dan Herpes Simplex. Adapun sindrom TORCH merupakan infeksi pada janin yang sedang berkembang atau bayi baru lahir yang disebabkan oleh salah satu dari empat bakteri tersebut.

Keempat jenis bakteri ini bisa ditularkan dari hewan kepada manusia. Oleh karena itu, sindrom TORCH dapat terjadi bila ibu hamil memiliki hewan peliharaan dan terinfeksi salah satu dari bakteri tersebut. Bakteri ini dapat melewati plasenta sehingga akan menggangu perkembangan janin.

Bila sudah menular ke janin, hal ini dapat menyebabkan keguguran, lahir mati (stillbirth), keterlambatan pertumbuhan dan pematangan janin, atau persalinan dini. Ketika lahir pun, bayi bisa mengalami beragam gejala, seperti lesu, demam, sulit makan, pembesaran hati dan limpa, dan anemia.

Gejala lain yang mungkin muncuo, yaitu bintik kemerahan serta perubahan warna pada kulit, mata, atau gejala lainnya. Setiap bakteri pun mungkin memunculkan gejala tambahan lainnya.

  • Toksoplasmosis

Toksoplasmosis merupakan bagian dari sindrom TORCH. Penyakit ini merupakan infeksi terhadap bakteri toksoplasma gondii yang terdapat di dalam kotoran kucing dan dapat ditularkan melalui kontak langsung atau tak sengaja terhirup oleh manusia.

Kasus toksoplasmosis memang jarang terjadi. Dari 1.000 ibu hamil, kemungkinan penularannya hanya terjadi pada satu orang. Penyakit ini pun tidak berbahaya bagi ibu hamil bila ia telah memelihara kucing sejak lama. Biasanya, ibu hamil yang telah lama memelihara kucing sudah pernah terkena toksoplasmosis dan sistem kekebalan tubuhnya sudah kuat melawan bakteri tersebut.

Namun, berbeda halnya dengan ibu hamil yang baru memiliki hewan peliharaan kucing. Pada kondisi ini, penyakit tersebut bisa membahayakan janinnya, seperti halnya bahaya yang dijelaskan pada sindrom TORCH di atas.

  • Rabies

Rabies bisa ditularkan melalui air liur binatang yang terkena virus rabies. Biasanya, bintang yang membawa virus ini adalah anjing, rakun, atau kelelawar. Bila terkena rabies, gejala yang akan dirasakan seperti demam, menggigil, dan otot melemah. Kemudian, akan mulai mempengaruhi otak yang menyebabkan kebingungan, kegelisahan, dan sulit tidur.

Bila memiliki hewan peliharaan anjing, ibu hamil bisa tertular rabies. Apalagi, bila anjingnya tidak sehat dan belum pernah mendapatkan vaksin rabies.

Sejauh ini memang belum ada bukti bahwa rabies dapat membahayakan janin. Namun, bila ibu hamil terkena penyakit tertentu tentu tidak baik bagi ibu dan janinnya. Apalagi, rabies pun bisa menyebabkan kematian jika tidak ditangani dengan baik.

  • Salmonellosis

Salmonellosis merupakan infeksi akibat bakteri salmonella. Pada hewan peliharaan, bakteri salmonella dapat ditemukan di kura-kura.

Wanita yang selama hamil memelihara hewan peliharaan kura-kura berisiko terkena Salmonellosis. Gejala yang timbul dari infeksi bakteri ini, yaitu demam, diare, muntah, dan sakit perut.

Bila diare dan muntah terjadi pada ibu hamil, hal ini dapat mengakibatkan dehidrasi. Parahnya, bakteri salmonella juga dapat menyebabkan infeksi darah atau meningitis. Ibu hamil juga bisa menularkan bakteri tersebut pada janinnya.

  • Lymphocytic choriomeningitis (LCM)

Lymphocytic chorio-meningitis (LCM) merupakan penyakit akibar virus dengan nama yang sama. Virus LCM biasanya ditularkan melalui tikus atau hewan pengerat lainnya, seperti hamster, tupai, landak, berang-berang, dan kelinci. Bahkan , selain LCM, tikus pun dapat menimbulkan penyakit lainnya.

Gejala yang ditimbulkan dari LCM sama halnya seperti flu dan sebagian besar orang yang terkena penyakit ini cepat membaik. Namun, bila parah LCM dapat menyebakan masalah pada sistem saraf, seperti meningitis atau kelumpuhan.

Ibu hamil yang memiliki hewan peliharaan yang termasuk dalam hewan pengerat rentan terkena LCM. Virus yang menyebabkannya pun dapat menular ke janin hingga bisa menyebakan keguguran, lahir mati, atau kelainan bawaan.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Kulit Wajah Terlihat Kusam Saat Hamil, Apa Penyebabnya?

Alih-alih mendapatkan pregnancy glow, sebagian orang malah merasa kulit wajah jadi lebih kusam saat hamil. Apa penyebabnya?

Ditinjau secara medis oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Winona Katyusha

Tidak Perlu Bingung Pilih Hewan Peliharaan untuk Anak, Ini 5 Tips dan Manfaatnya

Hewan peliharaan dan anak adalah gambaran yang menggemaskan. Namun, para orangtua perlu mempertimbangkan beberapa hal sebelum memilih hewan untuk anak.

Ditinjau secara medis oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Nabila Azmi

Kapan Waktu Terbaik untuk Kontrol Kandungan Selama Pandemi COVID-19?

Pemeriksaan kehamilan amatlah penting. Di sisi lain, pemeriksaan kehamilan selama pandemi COVID-19 membuat ibu rentan tertular. Apa yang harus ibu lakukan?

Ditulis oleh: Diah Ayu
Coronavirus, COVID-19 29/04/2020

6 Makanan Bergizi untuk Memperkuat Kandungan

Selain sehat untuk ibu, berbagai makanan ini juga dapat memperkuat janin dalam kandungan agar masa kehamilan tetap lancar.

Ditinjau secara medis oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Winona Katyusha

Direkomendasikan untuk Anda

hamil setelah keguguran

Hal yang Harus Diketahui Jika Ingin Cepat Hamil Setelah Keguguran

Ditinjau secara medis oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Winona Katyusha
Dipublikasikan tanggal: 18/05/2020
menu puasa untuk ibu hamil

Menu Wajib Saat Puasa untuk Ibu Hamil

Ditinjau secara medis oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Arinda Veratamala
Dipublikasikan tanggal: 17/05/2020
puasa bagi ibu hamil

4 Kondisi yang Mengharuskan Ibu Hamil Membatalkan Puasanya

Ditinjau secara medis oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novita Joseph
Dipublikasikan tanggal: 14/05/2020
gangguan makan ibu hamil

Berbagai Jenis Gangguan Makan yang Umum Dialami Ibu Hamil

Ditinjau secara medis oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Winona Katyusha
Dipublikasikan tanggal: 12/05/2020