home
close

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

Waspadai Penularan Rabies dari Hewan, Ini Ciri-Ciri Anjing yang Terinfeksi

Waspadai Penularan Rabies dari Hewan, Ini Ciri-Ciri Anjing yang Terinfeksi

Rabies tidak hanya menjangkit hewan tertentu, tapi juga bisa menginfeksi manusia. Sebagian besar kasus rabies pada manusia terjadi akibat gigitan hewan yang terinfeksi seperti anjing. Saat terinfeksi, virus rabies bisa menyebabkan gangguan pada sistem saraf. Untuk mencegah penularan virus rabies pada manusia, Anda perlu mengetahui ciri-ciri rabies pada hewan yang berisiko terinfeksi seperti anjing dan kucing.

Ciri-ciri rabies pada anjing dan kucing

Rabies merupakan penyakit infeksi virus yang disebabkan oleh rhadovirus yang umumnya tinggal dalam air liur hewan.

Setiap tahun, rabies menyebabkan kematian lebih dari 50.000 manusia dan jutaan hewan di seluruh dunia. Pasalnya, rabies memang bisa berakibat fatal jika tidak langsung ditangani.

Hewan utama pembawa virus rabies adalah kelelawar, rakun, dan tikus. Namun, hewan peliharaan seperti anjing dan kucing juga dan bisa terinfeksi dan menularkannya pada manusia.

Oleh sebab itu, penting untuk mengenali ciri-ciri rabies pada anjing dan kucing.

Anjing dan kucing yang terinfeksi rabies akan menunjukkan perubahan perilaku yang sangat ekstrem.

Ciri-ciri rabies pada hewan peliharaan seperti anjing dan kucing adalah:

  • selalu gelisah,
  • tidak bisa diam,
  • ketakutan,
  • lebih sensitif dan mudah marah,
  • terlihat kesakitan,
  • demam,
  • sering menggigiti benda-benda,
  • sering menyerang hewan lain,
  • kelumpuhan kaki belakang,
  • tidak nafsu makan,
  • kejang, dan
  • air liur berbuih.

Anjing atau kucing yang semula jinak bisa tiba-tiba menjadi lebih sensitif, ganas bahkan bisa menyerang pemiliknya. Pada anjing-anjing liar, infeksi rabies bisa membuat mereka menjadi lebih buas.

Seperti yang disebutkan, ciri-ciri anjing yang terjangkit rabies sering menjilat, menggigit, dan mengunyah benda-benda tertentu.

Anjing mungkin makan hal-hal yang tidak biasanya dimakan dan suka bersembunyi di tempat gelap.

Seiring perkembangan virus, anjing atau kucing yang terinfeksi bisa menjadi sensitif terhadap sentuhan, cahaya, dan suara.

Kelumpuhan otot tenggorokan dan rahang, mengakibatkan gejala munculnya busa atau buih pada mulut anjing.

Namun, tidak semua anjing menunjukkan tanda-tanda rabies yang sama. Beberapa anjing yang terinfeksi justru lebih pendiam, nampak sakit, dan lemas.

Terkadang, anjing yang terinfeksi rabies bahkan terlihat normal dan tidak menunjukkan gejala atau perubahan perilaku apapun.

Bagaimana cara penularan virus rabies pada manusia?

cara mencegah rabies

Anjing atau kucing yang terinfeksi dapat menularkan rabies melalui gititan atau cakaran. Menurut WHO, penularan ke manusia oleh anjing mencapai hingga 99% kasus.

Penularan juga dapat terjadi saat air liur hewan yang terinfeksi masuk ke mulut manusia, seperti saat Anda mencium hewan peliharaan yang terinfeksi atau ketika anjing menjilat wajah Anda.

Virus penyebab rabies yang ada dalam air liur hewan terinfeksi juga bisa masuk ke tubuh manusia melalui luka di kulit yang terbuka.

Penularan rabies dari menghirup udara (aerosol) yang mengandung virus atau melalui transplantasi organ yang terinfeksi juga bisa terjadi. Namun, cara penularan rabies ini jarang terjadi.

Menurut para peneliti, penularan rabies di antara manusia secara teoritis memungkinkan yaitu melalui gigitan atau kontak antara air liur (saat berciuman).

Akan tetapi, hingga saat ini belum pernah ditemukan kasus penularan rabies di antara manusia.

Hal yang sama berlaku untuk penularan rabies pada manusia melalui konsumsi daging mentah atau susu hewan yang terinfeksi.

Cara mencegah penularan rabies pada manusia

Anda yang memiliki hewan peliharan dengan ciri-ciri rabies atau ingin menghindari penularan rabies dari hewan liar perlu melalukan upaya pencegahan seperti berikut.

  • Menghindari kontak dengan hewan terinfeksi.
  • Saat hewan peliharaan tergigit hewan lain yang terinfeksi, jangan menyentuh anjing atau kucing Anda karena virus bisa tinggal dalam kulit hewan selama dua jam.
  • Gunakan sarung tangan dan pakaian pelindung saat menyentuh hewan yang terinfeksi.
  • Menghubungi dokter hewan, pusat layanan kesehatan, atau petugas pengawas hewan setempat. Dokter akan memberikan vaksinasi sesegera mungkin pada hewan yang terinfeksi dan hewan akan berada dalam penangkaran untuk sementara waktu.

Pertolongan medis untuk penanganan rabies perlu segera dilakukan jika Anda tertular rabies.

Dokter akan melakukan pengobatan Post-exposure prophylaxis (PEP) dengan menyuntikkan vaksin rabies untuk mencegah virus rabies menyebabkan infeksi sampai ke sistem saraf.

Jika ada luka gigitan, dokter akan mencuci luka terlebih dahulu selama 15 menit menggunakan sabun, air, deterjen, dan larutan pembersih yang mengandung povidone iodine untuk membunuh virus penyebab rabies.

Hingga saat ini belum pengobatan yang efektif menyembuhkan jika infeksi virus telah menyebabkan gejala rabies yang parah seperti kejang dan gangguan pada saraf.

Oleh karena itu, penting bagi Anda untuk mewaspadai cara penularan rabies dari hewan pada manusia dan melakukan langkah-langkah pencegahannya.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Masthi, N., & S, P. (2018). An exploratory study on rabies exposure through contact tracing in a rural area near Bengaluru, Karnataka, India. PLoS neglected tropical diseases12(8), e0006682. https://doi.org/10.1371/journal.pntd.0006682

Hikufe, E., Freuling, C., Athingo, R., Shilongo, A., Ndevaetela, E., & Helao, M. et al. (2019). Ecology and epidemiology of rabies in humans, domestic animals and wildlife in Namibia, 2011-2017. PLOS Neglected Tropical Diseases, 13(4), e0007355. doi: 10.1371/journal.pntd.0007355

Tepsumethanon, V., Lumlertdacha, B., Mitmoonpitak, C., Sitprija, V., Meslin, F., & Wilde, H. (2004). Survival of Naturally Infected Rabid Dogs and Cats. Clinical Infectious Diseases, 39(2), 278-280. doi: 10.1086/421556

WHO. (2020). Rabies. Retrieved 7 December 2020, from https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/rabies

Mayo Clinic. (2020). Rabies – Symptoms and causes. Retrieved 7 December 2020, from https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/rabies/symptoms-causes/syc-20351821

Mayo Clinic. (2020). Rabies – Diagnosis and treatment. Retrieved 7 December 2020, from https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/rabies/diagnosis-treatment/drc-20351826

Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Andisa Shabrina Diperbarui 25/05/2021
Ditinjau secara medis oleh dr Tania Savitri
x