home

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

Minum Paracetamol untuk Ibu Hamil, Apakah Aman?

Minum Paracetamol untuk Ibu Hamil, Apakah Aman?

Obat paracetamol umum digunakan untuk mengatasi berbagai keluhan kesehatan seperti demam, sakit kepala, batuk dan flu, serta nyeri. Namun, apakah paracetamol untuk ibu hamil itu aman? Yuk simak penjelasan berikut ya, Bu!

Amankah paracetamol untuk ibu hamil?

ibu hamil boleh minum paracetamol

Pada dasarnya, konsumsi paracetamol untuk ibu hamil sebenarnya aman kok, Bu. Namun, para ahli menganjurkan untuk berhati-hati mengonsumsinya dan sebaiknya berkonsultasi lebih dulu ke dokter.

Pasalnya, konsumsi paracetamol secara sembarangan berisiko menyebabkan gangguan pada janin. Efeknya dapat terjadi saat bayi masih dalam kandungan ataupun setelah ia lahir.

Beberapa gangguan yang berisiko ditimbulkannya antara lain sebagai berikut.

1. Asma dan mengi

Berdasarkan penelitian dari Clinical and Experimental Allergy, ibu yang mengonsumsi paracetamol saat hamil akan meningkatkan risiko anaknya terkena asma dan mengi di usia anak-anak.

Hal ini karena anak menjadi hipersensitif terhadap alergen di lingkungannya, seperti udara yang dingin, debu, infeksi virus, dan lain-lain. Akibatnya, ia menjadi mudah mengalami gangguan pernapasan tersebut.

Penelitian tersebut juga menyebutkan bahwa risiko asma dan mengi ini dapat terjadi di setiap tahapan kehamilan, mulai dari trimester pertama hingga ketiga.

2. ADHD dan gangguan perkembangan

Selain menyebabkan anak mudah alergi, ibu yang mengonsumsi paracetamol dan asetaminofen saat hamil juga berisiko menyebabkan anak mengalami Sindrom ADHD (Attention Deficit/Hyperactivity Disorder).

Hal ini menurut penelitian yang diterbitkan oleh The Annals of Pharmacotherapy pada tahun 2015.

Gejala ADHD secara umum meliputi perilaku yang hiperaktif, sulit berkonsentrasi, hingga memiliki gangguan kognitif.

Biasanya, gangguan ini baru belum disadari saat bayi baru lahir. Gejalanya akan semakin terlihat saat anak memasuki usia 3 hingga 7 tahun.

3. Autisme dan gangguan perkembangan otak

Selain menyebabkan ADHD, penelitian lain yang diterbitkan oleh Journal of Clinical Psychiatry menyatakan bahwa konsumsi paracetamol saat hamil juga dapat menyebabkan gangguan perkembangan otak pada anak.

Jika perkembangan otak terganggu, dapat menyebabkan anak menderita autisme dan gangguan tumbuh kembang, seperti gangguan motorik, gangguan intelektual dan ketidakmampuan dalam berkomunikasi.

Seperti halnya ADHD, kondisi ini juga biasanya baru disadari saat anak menginjak usia 3 tahun.

4. Keguguran

Sebuah penelitian terhadap 1097 ibu hamil di California diterbitkan oleh American Journal of Obstetrics and Gynecology pada tahun 2018.

Hasilnya menunjukkan bahwa konsumsi obat anti nyeri non steroid (NSAID) seperti ibuprofen, asam mefenamat dan diklofenak dapat meningkatkan risiko keguguran .

Hal ini biasanya terjadi pada kehamilan di bulan pertama atau di trimester pertama. Risikonya pun semakin tinggi jika ibu memiliki berat badan yang rendah saat hamil.

Meski begitu, masih terdapat perbedaan pendapat mengenai risiko keguguran akibat konsumsi paracetamol. Ini karena paracetamol tidak termasuk golongan obat NSAID.

5. Penyakit jantung pada bayi baru lahir

Sebuah penelitian diterbitkan oleh Jurnal Pediatrics terhadap 2 kasus klinis Ductus Arteriosus (DA) atau yang dikenal dengan sebutan “jantung bocor” pada bayi baru lahir.

Penelitian tersebut menyatakan bahwa adanya dugaan penyakit tersebut akibat penggunaan paracetamol pada ibu hamil di masa kehamilan trimester ketiga.

Namun, hal ini perlu diteliti lebih lanjut sebab masih terdapat perbedaan pendapat di kalangan ahli kesehatan.

Penelitian yang diterbitkan oleh International Journal of Obstetrics and Gynaecology pada tahun 2019 membantah adanya pengaruh paracetamol terhadap penyakit jantung pada bayi.

Mereka menyatakan bahwa belum ada bukti kuat mengenai hal itu.

Kenapa minum paracetamol saat hamil dapat menyebabkan gangguan pada janin?

Sampai saat ini belum ditemukan alasan secara pasti mengapa paracetamol yang dikonsumsi saat hamil dapat menyebabkan gangguan pada janin.

Namun, berdasarkan berbagai penelitian yang dipaparkan sebelumnya, para ahli menduga beberapa kemungkinan berikut.

1. Paracetamol mengganggu sel-sel otak pada janin

Penggunaan obat paracetamol dalam jangka panjang diduga dapat memengaruhi reseptor dan sel-sel dalam otak bayi.

Gangguan pada fungsi reseptor tersebut diduga menjadi penyebab terhambatnya perkembangan otak dan sistem saraf bayi semenjak masih dalam kandungan.

Hal ini kemudian terbawa hingga bayi lahir. Akibatnya, anak mengalami gangguan tumbuh kembang seperti ADHD dan autisme.

2. Paracetamol mengganggu sistem imun pada janin

Selain mengganggu fungsi reseptor otak, paracetamol juga dicurigai dapat mengganggu sistem imun bayi sejak dalam kandungan.

Gangguan sistem imun ini menyebabkannya menjadi hipersensitif terhadap zat alergen, sehingga rentan menderita gangguan pernapasan seperti asma, mengi dan sesak nafas.

3. Obat anti nyeri dapat memengaruhi sistem hormonal

Dugaan lain yang mungkin diakibatkan oleh obat-obatan anti nyeri adalah ia memengaruhi sistem hormonal ibu.

Sehingga paparan terhadap obat ini semasa kehamilan dapat memengaruhi perkembangan janin dalam kandungan.

4. Paracetamol menyebabkan keracunan janin

Selain dugaan-dugaan di atas, teori lain juga mengemukakan bahwa konsumsi paracetamol untuk ibu hamil mungkin bisa menyebabkan keracunan pada janin.

Keracunan tersebut dapat berefek langsung terhadap pertumbuhannya sejak dalam kandungan hingga usia kanak-kanak.

mengatasi kutu kelamin saat hamil 9 bulan

Paracetamol untuk ibu hamil, seberapa besar risikonya terhadap kandungan?

Bisa dikatakan bahwa paracetamol selalu menjadi pilihan pertama bagi siapapun yang mengalami demam atau nyeri. Tidak terkecuali ibu hamil. Mereka cenderung tidak membatasi diri terhadap penggunaan obat ini.

Terlebih lagi, obat ini sangat mudah ditemukan dan di jual di mana saja, mulai dari apotek, supermarket hingga toko kelontong.

Seberapa besar risiko paracetamol untuk ibu hamil? Berikut faktanya.

1. Masih dibutuhkan penelitian lebih lanjut

Meskipun penelitian-penelitian yang dipaparkan sebelumnya menjelaskan tentang risiko gangguan kehamilan pada penggunaan paracetamol, tetapi pada dasarnya masih dibutuhkan penelitian lebih lanjut soal ini.

2. Risikonya kecil terhadap kandungan

Memang terdapat sejumlah risiko terhadap kandungan akibat konsumsi paracetamol saat hamil, tetapi risikonya masih terbilang kecil atau bahkan tidak berisiko sama sekali pada sejumlah kasus.

3. Hindari konsumsi obat anti nyeri pada kehamilan trimester ketiga

Meskipun risikonya kecil, ibu sebaiknya tetap menghindari mengonsumsi paracetamol ataupun obat anti nyeri lainnya pada kehamilan trimester ketiga. Ini karena dapat berisiko menyebabkan bayi lahir prematur.

4. Paracetamol untuk ibu hamil lebih aman daripada obat anti nyeri lainnya

Sampai saat ini, memang paracetamol atau acetaminophen merupakan obat penghilang rasa sakit yang paling baik dan aman untuk dikonsumsi ibu hamil.

Terutama jika dibandingkan dengan jenis obat penghilang rasa sakit lainnya yang termasuk golongan NSAID seperti ibuprofen atau aspirin yang dapat berdampak yang lebih berbahaya.

Melansir American Journal of Obstetrics and Gynecology, ibuprofen dan aspirin dikatakan dapat mengakibatkan risiko keguguran dan berbahaya untuk ginjal dan jantung janin.

5. Hindari penggunaan jangka panjang

Konsumsi paracetamol dan obat anti nyeri lainnya dibolehkan pada ibu hamil untuk mengatasi berbagai keluhan kesehatan, seperti demam, pilek dan nyeri.

Namun, jika keluhan tersebut sudah diatasi, maka segeralah berhenti meminumnya. Konsumsi obat anti nyeri jangka panjang dapat berpengaruh pada kehamilan.

6. Lebih baik minum obat jika ibu hamil sakit

Jika ibu hamil sakit, lebih baik untuk mengonsumsi paracetamol agar sakit yang dialami segera disembuhkan. Ini lebih baik daripada membiarkan diri menderita sakit berkepanjangan.

Jika tidak segera diobati, keluhan kesehatan yang ibu alami dapat mengganggu stamina dan mentalnya selama masa kehamilan. Tentu saja hal ini dapat berdampak buruk bagi ibu hamil dan bayinya.

sakit kepala saat hamil

Berapa dosis paracetamol untuk ibu hamil yang aman?

Untuk mengetahui dosis paracetamol untuk ibu hamil yang tepat, ibu bisa menanyakannya langsung ke dokter.

Namun, secara umum, berikut ini adalah panduan dosis yang aman untuk ibu hamil.

  • Penggunaan obat paracetamol untuk ibu hamil tidak boleh berlangsung lama, hentikan segera jika keluhan sudah teratasi.
  • Disarankan untuk minum paracetamol dalam dosis yang paling rendah dalam masa kehamilan.
  • Dosis paracetamol yang cenderung aman selama kehamilan adalah satu-dua tablet sehari, dengan total 500 mg atau 1000 mg.
  • Paracetamol maksimal diminum sebanyak empat kali dalam sehari (setiap 4-6 jam)

Berkonsultasilah ke dokter sebelum mengonsumsi paracetamol untuk ibu hamil

Saat hamil, sebaiknya ibu menghindari konsumsi obat tanpa petunjuk dokter. Cobalah alternatif lain untuk meredakan rasa nyeri atau menurunkan demam jika belum berkonsultasi ke dokter.

Ibu dapat melakukan cara alami seperti istirahat yang cukup, kompres hangat, makan makanan sehat, hingga perbanyak minum air putih.

Jika penyakit dan keluhan tidak kunjung sembuh, pastikan berkonsultasi lebih dulu dengan dokter sebelum meminum obat apapun.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Andrade, C. (2016). Use of Acetaminophen (Paracetamol) During Pregnancy and the Risk of Autism Spectrum Disorder in the Offspring. The Journal Of Clinical Psychiatry77(02), e152-e154. doi: 10.4088/jcp.16f10637

Eyers, S., Weatherall, M., Jefferies, S., & Beasley, R. (2011). Paracetamol in pregnancy and the risk of wheezing in offspring: a systematic review and meta-analysis. Clinical & Experimental Allergy41(4), 482-489. doi: 10.1111/j.1365-2222.2010.03691.x

Hoover, R., Hayes, V., & Erramouspe, J. (2015). Association Between Prenatal Acetaminophen Exposure and Future Risk of Attention Deficit/Hyperactivity Disorder in Children. Annals Of Pharmacotherapy49(12), 1357-1361. doi: 10.1177/1060028015606469

de Fays, L., Van Malderen, K., De Smet, K., Sawchik, J., Verlinden, V., & Hamdani, J. et al. (2015). Use of paracetamol during pregnancy and child neurological development. Developmental Medicine & Child Neurology57(8), 718-724. doi: 10.1111/dmcn.12745

Hoover, R., Hayes, V., & Erramouspe, J. (2015). Association Between Prenatal Acetaminophen Exposure and Future Risk of Attention Deficit/Hyperactivity Disorder in Children. Annals Of Pharmacotherapy49(12), 1357-1361. doi: 10.1177/1060028015606469

Li, D., Ferber, J., Odouli, R., & Quesenberry, C. (2019). Use of Nonsteroidal Antiinflammatory Drugs During Pregnancy and the Risk of Miscarriage. Obstetric Anesthesia Digest39(2), 93-94. doi: 10.1097/01.aoa.0000557682.53343.cc

Li, S., Yue, J., Dong, B., Yang, M., Lin, X., & Wu, T. (2013). Acetaminophen (paracetamol) for the common cold in adults. Cochrane Database Of Systematic Reviews. doi: 10.1002/14651858.cd008800.pub2

Liu, X., Liew, Z., Olsen, J., Pedersen, L., Bech, B., & Agerbo, E. et al. (2015). Association of prenatal exposure to acetaminophen and coffee with childhood asthma. Pharmacoepidemiology And Drug Safety25(2), 188-195. doi: 10.1002/pds.3940

Becquet, O., Bonnet, D., Ville, Y., Allegaert, K., & Lapillonne, A. (2018). Paracetamol/Acetaminophen During Pregnancy Induces Prenatal Ductus Arteriosus Closure. Pediatrics142(1), e20174021. doi: 10.1542/peds.2017-4021

Dathe, K., Frank, J., Padberg, S., Hultzsch, S., Meixner, K., & Beck, E. et al. (2019). Negligible risk of prenatal ductus arteriosus closure or fetal renal impairment after third‐trimester paracetamol use: evaluation of the German Embryotox cohort. BJOG: An International Journal Of Obstetrics & Gynaecology126(13), 1560-1567. doi: 10.1111/1471-0528.15872

Recommendations | Abortion care | Guidance | NICE. (2019). Retrieved 26 March 2021, from https://www.nice.org.uk/guidance/ng140/chapter/Recommendations

 

 

 

 

 

 

 

 

Foto Penulis
Ditinjau oleh dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh Indah Fitrah Yani
Tanggal diperbarui 3 minggu lalu
x