Apakah Setelah Keguguran Pasti Harus Dikuret?

Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum

Keguguran merupakan suatu hal yang menyakitkan, terutama bagi calon ibu. Selain kesehatan psikis, yang juga harus diperhatikan setelah keguguran adalah kesehatan fisik. Hal utama yang biasanya dilakukan setelah keguguran adalah kuret. Jika tidak melakukan kuret setelah keguguran, mungkin ini bisa membahayakan kesehatan ibu dan berpengaruh pada kehamilan berikutnya. Apakah setiap keguguran perlu dilakukan kuret?

Mengapa saya perlu kuret setelah keguguran?

Kuret merupakan sebuah prosedur operasi di mana serviks (leher rahim) ibu dibuka dan bagian dalam rahim dibersihkan. Kuret setelah keguguran dilakukan untuk membersihkan rahim dengan mengangkat jaringan janin yang masih tersisa dalam rahim.

Oleh karena itu, setelah keguguran biasanya ibu melakukan kuret. Namun, tidak semua keguguran perlu melakukan kuret. Ini tergantung dari adanya sisa jaringan janin atau tidak dalam rahim ibu.

Bila ada sisa jaringan janin dalam rahim, ini dapat menyebabkan perdarahan setelah keguguran lebih parah dan juga infeksi. Sehingga, kuret juga dilakukan untuk mencegah dan mengobati banyak kondisi yang bisa terjadi dalam rahim setelah keguguran, seperti perdarahan berat dan infeksi.

Tidak hanya itu, kuret juga dapat dilakukan untuk mendiagnosis atau mengobati perdarahan rahim yang tidak normal, seperti yang disebabkan oleh pertumbuhan fibroid, polip, ketidakseimbangan hormonal, atau kanker rahim. Kuret juga perlu dilakukan setelah aborsi.

Apa yang dapat terjadi setelah kuret?

Setelah kuret, biasanya Anda akan merasakan sedikit rasa sakit. Beberapa hal yang bisa Anda rasakan setelah melakukan kuret adalah perut kram dan mengeluarkan bercak atau perdarahan ringan. Jika Anda dibius umum saat dilakukan prosedur kuret, Anda juga dapat merasa mual atau ingin muntah setelah prosedur kuret selesai dilakukan. Hal-hal tersebut normal terjadi setelah Anda melakukan kuret. Anda pun sudah mulai dapat melakukan aktivitas sehari-hari Anda setelah satu atau dua hari sejak dikuret.

Namun, jika Anda mengalami hal-hal seperti di bawah ini setelah melakukan kuret, sebaiknya periksakan diri Anda ke dokter.

  • Perdarahan berat atau berkepanjangan
  • Demam
  • Keputihan yang berbau busuk
  • Nyeri atau sakit pada perut

Beberapa risiko dan efek samping yang mungkin timbul akibat kuret

Kuret biasanya merupakan prosedur yang aman dan jarang menyebabkan komplikasi. Namun begitu, terdapat risiko yang bisa ditimbulkan setelah melakukan kuret. Beberapa risiko dari kuret adalah:

  • Perforasi rahim. Ini dapat terjadi jika alat bedah menusuk dan menyebabkan perlubangan di rahim. Hal ini lebih sering terjadi pada wanita yang baru pertama kali hamil dan pada wanita yang sudah menopause. Namun, biasanya perforasi dapat sembuh dengan sendirinya.
  • Kerusakan rahim. Jika leher rahim robek saat prosedur kuret dilakukan, dokter dapat memberikan tekanan atau obat untuk menghentikan perdarahan atau menutupnya dengan jahitan.
  • Tumbuh jaringan parut pada dinding rahim. Pembentukan jaringan parut dalam rahim karena prosedur kuret atau biasa dikenal dengan nama sindrom Asherman sebenarnya jarang terjadi. Hal ini dapat menyebabkan siklus menstruasi menjadi tidak normal, bahkan berhenti, dan juga dapat menyebabkan rasa sakit, keguguran di kehamilan selanjutnya, sampai ketidaksuburan.
  • Infeksi. Tapi, infeksi setelah kuret biasanya jarang terjadi.

Baca Juga:

Sumber