Penyebab, Gejala, dan Cara Mengatasi Penggumpalan Darah di Kaki Saat Hamil

Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum

Wanita hamil berisiko hingga 5-10 kali lebih mungkin untuk mengalami penggumpalan darah di kaki, daripada yang tidak hamil. Penggumpalan darah di salah satu pembuluh darah besar dalam kaki disebut sebagai trombosis vena dalam (DVT). Apabila gumpalan darah ini lepas dan berjalan menuju bagian tubuh lain, terutama ke paru-paru, akibatnya bisa fatal. Apa penyebab penggumpalan darah di kaki saat hamil dan bagaimana cara mengatasinya?

Apa penyebab penggumpalan darah di kaki saat hamil?

Darah yang menggumpal adalah hal yang normal dan pada dasarnya tidak membahayakan. Proses penggumpalan darah dibutuhkan untuk mencegah Anda kehilangan banyak darah pada situasi tertentu, seperti saat terluka. Tubuh Anda akan secara alami melarutkan bekuan darah tersebut setelah cedera sembuh. Namun kadang, penggumpalan darah bisa terjadi tanpa diawali cedera apapun.

Pada ibu hamil, risiko penggumpalan darah di kaki lebih tinggi karena tubuh memproduksi protein khusus pembeku darah dalam jumlah banyak selama kehamilan, sementara protein pengencer darahnya hanya diproduksi sedikit. Hal ini membuat gumpalan yang mungkin sudah terbentuk tidak kunjung larut.

Rahim yang membesar selama kehamilan juga dapat meningkatkan risiko Anda mengalami DVT karena pembesaran ini menekan pembuluh darah yang ada di tubuh bagian bawah, sehingga menghambat aliran darah balik ke jantung.

Apa saja tanda dan gejala penggumpalan darah di kaki saat hamil?

DVT tidak umum terjadi pada masa kehamilan. Namun, wanita hamil dan hingga 6 minggu setelah kelahiran lebih mungkin mengalami DVT dibandingkan wanita yang tidak hamil pada usia yang sama.

Gejala DVT yang paling umum adalah kaki yang terlihat bengkak, lunak, dan kulitnya hangat/panas kemerahan, serta terasa nyeri menyerupai kram otot parah. DVT biasanya hanya terjadi di salah satu kaki. Sebanyak 80 persen kasus DVT saat hamil terjadi  di kaki kiri.

Bagaimana membedakan DVT dengan kram otot kaki?

Kram otot umum terjadi selama kehamilan. Biasanya kram otot terjadi di betis, terutama pada malam hari selama trimester kedua dan ketiga.

Sakit kaki akibat kram otot biasa akan mereda dan perlahan hilang dengan beristirahat, melakukan peregangan, konsumsi suplemen magnesium, dan menggunakan alas kaki yang nyaman. Kram otot juga tidak akan menyebabkan kaki Anda tampak bengkak.

Sebaliknya, sakit kaki akibat DVT tidak akan mereda dengan beristirahat atau setelah dibawa jalan-jalan. Kaki yang sakit akibat DVT juga tampak bengkak dan terasa panas. Gejala lainnya meliputi:

  • Kaki sakit saat berdiri atau bergerak.
  • Kaki semakin sakit saat menekuk kaki ke arah lutut.
  • Kulit merah di bagian belakang kaki, biasanya di bawah lutut

Apa faktor risiko terjadinya DVT selama kehamilan?

Risiko terjadinya DVT selama kehamilan akan meningkat jika Anda:

  • Mempunyai riwayat penyakit penggumpalan darah di keluarga.
  • Usia saat hamil lebih dari 35 tahun.
  • Hamil dan obesitas dengan BMI >30.
  • Sedang mengalami penyakit infeksi berat atau luka yang serius, seperti patah tulang.
  • Hamil anak kembar.
  • Merokok
  • Memiliki varises pada kaki
  • Mengalami dehidrasi

Adakah efeknya untuk bayi Anda?

Jika gumpalannya kecil, mungkin tidak akan menimbulkan gejala apapun. Jika cukup besar, gumpalan darah dapat lepas dan berjalan balik menuju paru-paru menyebabkan nyeri dada dan kesulitan bernapas.

Sekitar satu dari 10 orang dengan DVT yang tidak diobati dapat menyebabkan emboli paru parah. Gumpalan besar yang tersangkut dalam paru dapat menyebabkan kerusakan paru-paru, dan mengakibatkan gagal jantung.

Meski begitu, penggumpalan darah di kaki saat hamil tidak memengaruhi bayi kecuali ada komplikasi serius.

Bagaimana mengobati penggumpalan darah di kaki saat hamil?

DVT mudah diobati. Salah satu caranya dengan menyuntikkan obat pengencer darah heparin setiap hari untuk mencegah gumpalan darah semakin besar. Obat ini juga membantu gumpalan darah lebih cepat larut, dan mengurangi risiko penggumpalan darah lebih lanjut.

Penyuntikkan hanya boleh dilakukan oleh dokter yang berwenang, umumnya ahli darah rujukan dokter kandungan Anda, dan dilakukan sejak terdiagnosis DVT hingga 6 minggu pasca melahirkan. Lama waktu total pengobatan sekitar 3 bulan. Sepanjang waktu terapi Anda juga diharuskan untuk check-up dan tes darah rutin guna memastikan gumpalan darah telah larut dan tidak muncul lagi.

Suntikan heparin aman digunakan selama kehamilan karena tidak melewati plasenta, jadi tidak ada risiko bagi bayi Anda. Kehamilan Anda dapat berjalan seperti biasanya. Suntikan heparin akan dihentikan segera setelah Anda melahirkan atau 24 jam sebelum induksi persalinan atau rencana persalinan caesar.

Jika Anda ingin menyusui bayi Anda, Anda harus menghentikan suntikan setelah melahirkan dan menggantinya dengan tablet warfarin (Coumadin) untuk memastikan darah bayi tidak berkurang.

Selain pengobatan dengan heparin, Anda juga disarankan untuk tetap aktif bergerak dan mengenakan stocking khusus di kaki yang bengkak.

Baca Juga:

Sumber
Yang juga perlu Anda baca