Benarkah Keseringan Minum Paracetamol Saat Hamil Menyebabkan Anak ADHD?

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 8 September 2020 . Waktu baca 6 menit
Bagikan sekarang

Obat paracetamol umum digunakan untuk menurunkan demam hingga meredakan gejala pilek, flu, dan batuk. Paracetamol juga berguna untuk meringankan sakit kepala, migrain, sakit tenggorokan, nyeri otot dan sendi, hingga nyeri menstruasi. Fungsinya yang serbaguna ini tak ayal menjadikan paracetamol sebagai obat pertolongan pertama untuk nyeri sehari-hari, tak terkecuali saat Anda sedang hamil.

Meski begitu, tersiar kabar bahwa penggunaan obat paracetamol untuk ibu hamil dapat menyebabkan ADHD pada anak saat sudah besar nanti. Apa benar ibu tidak boleh minum paracetamol saat hamil? Kupas tuntas penjelasannya di artikel ini.

Benarkan minum obat paracetamol saat hamil bisa sebabkan ADHD pada anak?

Obat-obatan tertentu memang tidak aman digunakan saat hamil, karena dapat mengganggu tumbuh kembang janin dalam kandungan. Misalnya saja obat antiepilepsi phenytoin yang dapat menyebabkan kelainan jantung dan mikrosefalus, atau obat jerawat isotretinoin yang berisiko tinggi menyebabkan kelainan jantung, bibir sumbing, dan cacat tabung saraf. Bagaimana dengan keamanan paracetamol untuk ibu hamil?

Baru-baru ini muncul sejumlah bukti ilmiah yang menyatakan bahwa paracetamol atau acetaminophen mungkin tidak seaman itu untuk ibu hamil. Sebuah penelitian tahun 2014 yang melibatkan hampir lebih dari 2,500 ibu hamil yang dipantau terus hingga anaknya berusia 5 tahun. Kelompok ibu hamil tersebut diminta untuk mengisi kuesioner tentang frekuensi dan dosis penggunaan paracetamol selama kehamilan.

Pada akhir penelitian diketahui bahwa perempuan yang sering minum paracetamol pada minggu ke-32 usia kehamilan cenderung memiliki anak yang memiliki gangguan perhatian (gejala dari sindrom autisme) pada usia 5 tahun, dibandingkan dengan ibu yang tidak mengonsumsi paracetamol sama sekali. Selain itu, peneliti juga menemukan gejala ADHD dan gangguan kognitif pada anak yang dilahirkan dari ibu yang mengonsumsi paracetamol saat hamil.

Penelitian lain yang melibatkan hampir 50 ribu partisipan menemukan bahwa penggunaan paracetamol rutin selama setidaknya 28 hari atau lebih ketika hamil dapat menyebabkan anak mengalami gangguan kemampuan motorik dan kognitif, penurunan kemampuan komunikasi, serta gangguan perilaku. Sementara hasil penelitian yang dilakukan oleh Danish National Birth Control juga menyatakan hal serupa. Dari total 64,322 ibu, hampir setengahnya mengonsumsi paracetamol saat hamil dan memiliki anak yang gejala atau bahkan didagnosis mengalami autisme oleh dokter.

Penelitian teranyar yang dimuat dalan jurnal Pediatric tahun 2017 mengungkapkan bahwa penggunaan obat paracetamol untuk ibu hamil dapat meningkatkan risiko ADHD atau attention deficit hyperactivity disorder pada anak. Secara keseluruhan, ibu yang minum paracetamol semasa kehamilan memiliki peningkatan risiko anaknya terkena ADHD sebanyak 37% dibandingkan ibu yang tidak menggunakan obat penghilang rasa sakit sama sekali. Bahkan penelitian lain mengungkapkan bahwa penggunaan paracetamol jangka panjang selama 29 hari atau lebih dapat meningkatkan risiko ADHD sebanyak 22 persen.

Kenapa demikian?

Sampai saat ini masih belum jelas bagaimana hubungan paracetamol yang dikonsumsi ibu saat hamil dapat menyebabkan gangguan pertumbuhan janin yang kemudian berdampak pada gangguan perilaku anak. Namun, para ahli menduga ada beberapa hipotesis yang mungkin menjawab hubungan ini.

Penggunaan obat paracetamol dalam jangka panjang diduga dapat memengaruhi reseptor dalam otak yang berfungsi untuk mematangkan sel otak dan menjadi penghubung antar-sel otak. Gangguan pada fungsi reseptor tersebut yang diduga menyebabkan gangguan perkembangan otak bayi semenjak masih dalam kandungan. Selain itu, paracetamol juga menganggu sistem imun yang dapat berdampak pada perkembangan sistem saraf janin.

Penelitian sebelumnya berpendapat bahwa obat ini diduga memengaruhi sistem hormon sehingga paparan terhadap obat ini semasa kehamilan dapat memengaruhi perkembangan janin yang tumbuh selama kehamilan. Teori lain juga mengemukakan bahwa konsumsi parasetamol untuk ibu hamil mungkin bisa menyebabkan keracunan pada janin, sehingga langsung berdampak pada pertumbuhannya.

Jadi, amankah minum obat paracetamol untuk ibu hamil?

Sejumlah penemuan ini cukup mengkhawatirkan karena hampir lebih dari 50 persen ibu hamil menggunakan paracetamol untuk meredakan nyeri. Terlebih, obat ini termasuk mudah dibeli dan dijual di mana saja. Meski begitu, tidak ada bukti yang benar-benar dapat menunjukkan bahwa minum paracetamol saat hamil dapat membahayakan janin Anda. Penelitian lebih lanjut masih perlu dilakukan.

Kategori obat paracetamol untuk kehamilan adalah B, yang berarti berisiko kecil atau bahkan tidak berisiko sama sekali pada sejumlah kasus. Sampai saat ini, memang paracetamol atau acetaminophen merupakan obat penghilang rasa sakit yang paling baik dan aman untuk dikonsumsi ibu hamil. Terutama jika dibandingkan dengan jenis obat penghilang rasa sakit lainnya seperti ibuprofen atau aspirin, yang dapat berdampak yang lebih berbahaya. Ibuprofen, menurut berbagai penelitian, dikatakan dapat mengakibatkan risiko keguguran dan berbahaya untuk ginjal dan jantung janin.

Berapa dosis paracetamol yang aman selama kehamilan?

Anda tidak serta merta harus panik dan menghindari minum paracetamol jika memang dibutuhkan. Namun, Anda tetap tidak boleh sembarangan ketika minum paracetamol saat hamil. Penggunaan obat paracetamol untuk ibu hamil tidak boleh berlangsung lama dan total dosis sehari tidak boleh melebihi batas dosis maksimal. Anda bahkan disarankan untuk minum paracetamol dalam dosis yang paling rendah selama dalam masa kehamilan.

Dosis paracetamol yang paling aman selama kehamilan adalah satu-dua tablet sehari, dengan total 500 mg atau 1000 mg. Paracetamol maksimal diminum sebanyak empat kali dalam sehari (setiap 4-6 jam). Namun, sebelum minum paracetamol saat hamil, sebaiknya konsultasikan terlebih dahulu dengan dokter Anda. Anda mungkin dianjurkan untuk minum paracetamol dengan dosis lebih rendah lagi dari itu.

Akan lebih baik lagi jika sebelum menggunakan obat, Anda mencoba alternatif lain terlebih dahulu untuk meredakan rasa nyeri atau menurunkan demam. Misalnya dengan istirahat yang cukup, kompres hangat, makan makanan sehat, hingga perbanyak minum air. Jika memang tidak kunjung sembuh, konsultasikan dulu dengan dokter sebelum minum obat apapun.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Benarkah Terlalu Sering Minum Paracetamol Sebabkan Gangguan Pendengaran?

Hati-hati jika Anda sering minum obat penghilang nyeri, seperti paracetamol. Efek samping paracetamol berlebihan dapat menimbulkan gangguan pendengaran.

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
Hidup Sehat, Tips Sehat 23 September 2020 . Waktu baca 3 menit

Kapan Boleh Mencoba Hamil Lagi Setelah Keguguran?

Mungkin Anda bingung harus kapan memulai lagi untuk mencoba hamil lagi setelah keguguran. Namun, itu semua tergantung pada kondisi Anda.

Ditulis oleh: Arinda Veratamala
Kehamilan & Kandungan, Kehamilan 16 September 2020 . Waktu baca 4 menit

Menghadapi 7 Kecemasan Ibu Hamil Menjelang Persalinan

Mendekati hari-H melahirkan, Anda mungkin jadi gugup dan takut. Hal ini wajar, tapi jangan sampai kecemasan ibu hamil menjelang persalinan bikin stres.

Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Kehamilan & Kandungan, Melahirkan, Kehamilan 10 September 2020 . Waktu baca 5 menit

Hati-hati, Pelumas Seks Bisa Bikin Susah Hamil

Sedang mencoba hamil tapi belum berhasil juga? Hal ini kemungkinan disebabkan pelumas seks alias lubrikan yang membuat susah hamil.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Kesuburan, Kehamilan 9 September 2020 . Waktu baca 4 menit

Direkomendasikan untuk Anda

melahirkan normal tanpa rasa sakit

Melahirkan Normal Tanpa Rasa Sakit, Apakah Mungkin?

Ditulis oleh: Theresia Evelyn
Dipublikasikan tanggal: 30 September 2020 . Waktu baca 5 menit
spina bifida

Spina Bifida

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Shylma Na'imah
Dipublikasikan tanggal: 25 September 2020 . Waktu baca 13 menit
minum antidepresan saat hamil

Minum Antidepresan Saat Hamil, Boleh Atau Tidak?

Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
Dipublikasikan tanggal: 24 September 2020 . Waktu baca 4 menit
korset perut setelah melahirkan

Perlukah Memakai Korset Perut Setelah Melahirkan?

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novita Joseph
Dipublikasikan tanggal: 23 September 2020 . Waktu baca 3 menit