backup og meta

6 Jenis Kelainan Plasenta yang Mungkin Terjadi

6 Jenis Kelainan Plasenta yang Mungkin Terjadi

Kelainan plasenta berisiko menimbulkan komplikasi bagi janin di dalam kandungan. Oleh sebab itu, Anda perlu mewaspadai masalah ini dengan memahami jenis kelainan plasenta, baik dari letak maupun bentuknya, melalui pembahasan berikut ini.

Berbagai kelainan plasenta yang berisiko bagi kehamilan

Plasenta akan menempel pada dinding rahim bagian atas, samping, depan, maupun belakang. Organ yang juga disebut ari-ari ini terhubung ke tubuh janin melalui tali pusar.

Adapun, fungsi plasenta adalah untuk memberikan pasokan oksigen dan gizi bagi janin. Organ ini juga bertugas membuang sisa kotoran dari tubuh janin.

Kelainan plasenta sering kali baru terdeteksi melalui pemeriksaan USG pada trimester 2, yakni pada kisaran usia kehamilan 18–20 minggu.

Meski begitu, ada pula gangguan plasenta pada ibu hamil yang baru terlihat di trimester ketiga.

Berikut ini adalah penjelasan mengenai beberapa jenis kelainan plasenta yang mungkin terjadi.

1. Plasenta previa

lapatinib untuk ibu hamil aman?

Ibu hamil dikatakan mengalami plasenta previa saat ari-ari menutupi sebagian maupun seluruh jalan lahir, yakni leher rahim atau serviks.

Kelainan yang disebut juga plasenta letak rendah ini tak hanya menutupi, tetapi juga menempel di bagian bawah rahim.

Umumnya, plasenta previa muncul pada awal masa kehamilan dan dapat hilang ataupun makin parah seiring berkembangnya rahim.

Kelainan plasenta ini tidak boleh disepelekan karena berisiko menyebabkan perdarahan vagina yang parah selama kehamilan maupun persalinan.

Jika kelainan ini tidak kunjung membaik bahkan masih terus ada hingga trimester ketiga, dokter umumnya menyarankan Anda untuk menjalani operasi caesar.

2. Solusio plasenta

Solusio plasenta atau abrupsio plasenta terjadi saat plasenta lepas dari dinding rahim sebelum persalinan.

Gangguan plasenta pada ibu hamil ini berisiko menyebabkan janin tidak mendapatkan pasokan gizi dan oksigen yang seharusnya, karena jalurnya sudah terputus.

Pendarahan vagina, kontraksi rahim, sakit perut, serta kelainan detak jantung janin merupakan tanda dan gejala dari solusio plasenta.

Kondisi ini perlu diwaspadai di trimester ketiga kehamilan. Namun, solusio plasenta bisa terjadi kapan saja, khususnya setelah usia kehamilan 20 minggu.

Ketika ibu hamil mengalami kelainan ini, kemungkinan besar dapat terjadi persalinan prematur.

Seberapa umum kondisi ini terjadi?

Menurut American Pregnancy Association, hanya sekitar 1% dari semua ibu hamil yang akan mengalami solusio plasenta. Kebanyakan kasus kelainan plasenta ini bisa ditangani dengan baik, terlepas dari tingkat keparahannya.

3. Plasenta akreta

Kebalikan dari solusio plasenta, plasenta akreta adalah kelainan ketika plasenta melekat terlalu erat ke dinding rahim.

Kelainan plasenta ini terjadi karena pembuluh darah dan bagian lain dari plasenta berkembang atau tumbuh terlalu dalam pada rahim.

Dokter spesialis kebidanan dan kandungan (Obgyn) bisa mendiagnosis kondisi ini melalui USG.

Seperti jenis gangguan plasenta lainnya, plasenta akreta juga berisiko membahayakan ibu dan janinnya.

Kelainan ini dapat menyebabkan persalinan prematur, perdarahan hebat, dan bahkan berakibat fatal bila tidak segera ditangani.

4. Retensio plasenta

Ketika proses persalinan, idealnya plasenta akan keluar dari rahim tidak lama setelah bayi lahir.

Namun pada kondisi tertentu, ari-ari mungkin saja tertahan di dalam rahim sehingga tidak dapat keluar. Kondisi ini disebut dengan retensi atau retensio plasenta.

Retensio plasenta dapat disebabkan beberapa hal, entah itu karena masih menempel di dinding rahim atau terjebak di belakang rahim yang sudah tertutup sebagian.

Kelainan plasenta ini harus segera ditangani supaya tidak menimbulkan infeksi dan perdarahan yang berisiko fatal.

5. Pengapuran plasenta

plasenta anterior

Pengapuran plasenta adalah penuaan plasenta yang disebabkan adanya penumpukan kalsium.

Kondisi ini akan terdeteksi selama pemeriksaan USG kehamilan, yang ditandai dengan adanya bintik-bintik putih pada plasenta.

Pengapuran plasenta berisiko terjadi pada usia kehamilan berapa pun, terutama 28–34 minggu.

Kelainan plasenta ini mungkin terjadi sebelum usia kehamilan 32 minggu yang disebut sebagai pengapuran plasenta prematur.

Hal ini berisiko menimbulkan komplikasi, seperti solusio plasenta, kelahiran prematur, bayi lahir dengan skor Apgar rendah, dan bayi lahir mati (stillbirth).

6. Insufisiensi plasenta

Kelainan bentuk plasenta yang mungkin terjadi selama kehamilan adalah insufisiensi plasenta.

Gangguan yang juga disebut disfungsi plasenta ditandai dengan perkembangan plasenta yang tidak sempurna atau cenderung rusak.

Alhasil, janin di dalam kandungan tidak mendapatkan asupan gizi dan oksigen secara optimal.

Insufisiensi plasenta dapat membuat janin tidak berkembang dengan baik, janin stres, bahkan menyebabkan kesulitan selama proses persalinan.

Faktor risiko kelainan plasenta

Ibu hamil pada usia berapa pun sebenarnya berisiko mengalami gangguan plasenta. Akan tetapi, risiko ini bisa lebih tinggi pada ibu hamil berusia 40 tahun ke atas.

Menurut Mayo Clinic, beberapa faktor risiko lain dari kelainan plasenta adalah sebagai berikut.

  • Mengalami tekanan darah tinggi saat hamil.
  • Mengandung bayi kembar.
  • Gangguan pembekuan darah saat hamil.
  • Memiliki riwayat operasi pada rahim, seperti operasi caesar dan operasi fibroid rahim.
  • Ketuban pecah dini sebelum melahirkan.
  • Pernah mengidap gangguan plasenta pada kehamilan sebelumnya.
  • Merokok saat hamil.
  • Mengalami cedera perut sebelumnya.

Jangan sepelekan saat Anda mengalami gejala yang tidak biasa selama kehamilan dan segera konsultasikan dengan dokter.

Tak lupa, penting untuk rutin melakukan pemeriksaan kehamilan setiap bulan guna mengetahui kondisi kehamilan dan janin di dalam kandungan.

Kesimpulan

  • Berbagai kelainan plasenta yang bisa terjadi, meliputi plasenta previa, solusio plasenta, plasenta akreta, retensio plasenta, pengapuran plasenta, dan insufisiensi plasenta.
  • Masalah kehamilan ini sering kali baru terdeteksi lewat pemeriksaan USG di trimester 2, yakni pada kisaran usia kehamilan 18–20 minggu.
  • Gangguan pada plasenta memicu komplikasi, seperti perdarahan, persalinan prematur, hingga bayi lahir mati (stillbirth).

[embed-health-tool-pregnancy-weight-gain]

Catatan

Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan. Selalu konsultasikan dengan ahli kesehatan profesional untuk mendapatkan jawaban dan penanganan masalah kesehatan Anda.

About the placenta. (2024). Pregnancy, Birth and Baby. Retrieved January 8, 2025, from https://www.pregnancybirthbaby.org.au/about-the-placenta

Types of placental disorders. (n.d.). Beth Israel Deaconess Medical Center. Retrieved January 8, 2025, from https://www.bidmc.org/centers-and-departments/obstetrics-and-gynecology/programs-and-services/pregnancy/high-risk-pregnancy-maternal-fetal-medicine/new-england-center-for-placental-disorders/disorder-types

Placental abruption. (n.d.). American Pregnancy Association. Retrieved January 8, 2025, from https://americanpregnancy.org/healthy-pregnancy/pregnancy-complications/placental-abruption/

Retained placenta. (n.d.). American Pregnancy Association. Retrieved January 8, 2025, from https://americanpregnancy.org/healthy-pregnancy/labor-and-birth/retained-placenta/

Placental insufficiency. (2022). MedlinePlus. Retrieved January 8, 2025, from https://medlineplus.gov/ency/article/001485.htm

Placenta previa: Symptoms, causes & treatments. (2022). Cleveland Clinic. Retrieved January 8, 2025, from https://my.clevelandclinic.org/health/diseases/24211-placenta-previa

Placenta accreta. (2022). Mayo Clinic. Retrieved January 8, 2025, from https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/placenta-accreta/symptoms-causes/syc-20376431

Placental calcification. (2021). Radiopaedia. Retrieved January 8, 2025, from https://radiopaedia.org/articles/placental-calcification

Versi Terbaru

09/01/2025

Ditulis oleh Karinta Ariani Setiaputri

Ditinjau secara medis oleh dr. Damar Upahita

Diperbarui oleh: Satria Aji Purwoko


Artikel Terkait

Mengatasi 10 Masalah Utama yang Sering Dihadapi Oleh Ibu Hamil

Kehamilan Ektopik, Ketika Janin Tumbuh di Luar Rahim


Ditinjau secara medis oleh

dr. Damar Upahita

General Practitioner · None


Ditulis oleh Karinta Ariani Setiaputri · Tanggal diperbarui 4 hari lalu

ad iconIklan

Apakah artikel ini membantu?

ad iconIklan
ad iconIklan