Berbagai Kelainan Pada Ibu dan Janin yang Bisa Dideteksi Lewat USG

USG dikenal sebagai pemeriksaan wajib yang mesti dilakukan oleh ibu hamil. Padahal, USG ternyata tidak melulu berhubungan dengan kehamilan, lho. Selain untuk memantau perkembangan janin, manfaat USG juga dapat membantu mendeteksi berbagai kelainan dalam tubuh termasuk yang berkaitan dengan organ reproduksi wanita. Apa saja, ya?

Berbagai manfaat USG sesuai jenisnya

Mendengar kata USG, Anda mungkin langsung terpikir dengan alat medis yang sering digunakan untuk pemeriksaan kehamilan. Memang benar, USG adalah salah satu alat medis yang digunakan untuk pemeriksaan kehamilan.

Tak hanya itu, manfaat USG juga bisa membantu melihat kelainan dalam tubuh wanita yang berkaitan dengan organ reproduksinya, lho. Hal ini bisa dilihat melalui 2 jenis USG, yaitu USG transvaginal dan USG abdomen atau USG perut.

Supaya lebih jelas, mari kita kupas satu per satu.

1. USG transvaginal

pemeriksaan USG transvaginal

USG transvaginal, atau disebut juga USG endovaginal, adalah metode pemeriksaan organ-organ reproduksi wanita dengan memasukkan stik probe sepanjang 5-7 sentimeter ke dalam vagina. Probe inilah yang akan memunculkan gambar organ-organ dalam tubuh Anda pada layar monitor.

Tujuan utama USG transvaginal adalah untuk mendeteksi awal kehamilan, biasanya dilakukan pada saat wanita menyadari atau mencurigai adanya kehamilan pertama kali. Kalau memang benar hamil, pemeriksaan medis ini juga dapat membantu mendeteksi apakah kehamilan tersebut normal atau justru terjadi kehamilan luar kandungan.

Manfaat USG transvaginal juga digunakan untuk mengetahui adanya kelainan-kelainan, misalnya miom, kista, atau masalah lain pada organ reproduksi wanita. Mulai dari vagina, rahim, saluran telur (tuba falopii), indung telur (ovarium), hingga leher rahim (serviks).

Selain itu, manfaat USG transvaginal juga dapat mendeteksi kelainan pada bayi dalam kandungan, baik yang bersifat letal (membahayakan) maupun non-letal. Di antaranya:

  • Mendeteksi risiko keguguran dan besar peluangnya.
  • Mendeteksi jantung ektopik, yaitu kondisi ketika jantung tumbuh di luar tubuh bayi.
  • Mengukur kebutuhan nutrisi tambahan untuk mendukung tumbuh kembang bayi.

2. USG abdominal

Pada dasarnya, prosedur USG abdominal (perut) tidak jauh berbeda dengan USG transvaginal. USG abdominal adalah pemeriksaan yang dilakukan melalui bagian luar perut, dengan cara mengoleskan gel ke seluruh area perut. Kemudian, stik yang bernama transduser akan digerakkan ke area perut tertentu guna menangkap gambar organ-organ di dalamnya.

Manfaat USG perut dan USG transvaginal pun sebetulnya tidak jauh berbeda. Keduanya sama-sama berfungsi untuk memeriksa perkembangan kehamilan atau mendeteksi masalah kesehatan tertentu.

Umumnya, USG abdominal dilakukan saat usia kehamilan 8 minggu ke atas. Selama ini, kebanyakan orang menganggap bahwa USG abdominal hanya berfungsi untuk memantau berat badan dan jenis kelamin bayi saja. Padahal, pemeriksaan ini juga dapat mendeteksi adanya kelainan pada bentuk tubuh dan kromosom pada bayi. Misalnya Sindrom Down, Sindrom Edward, atau Sindrom Patau, serta memeriksa fungsi organ dan kesejahteraan bayi di dalam kandungan.

Kelainan kromosom tersebut biasanya dapat dideteksi sejak usia kehamilan 11-13 minggu lebih 6 hari dan dinamakan skrining trimester pertama. Begitu kehamilannya mulai membesar, barulah USG transvaginal ini bisa digunakan untuk melihat bentuk tubuh bayi, apakah normal dan sempurna atau tidak.

  • Usia 11-12 minggu : mulai terlihat bentuk jari-jari tangan, tempurung kepala, tulang punggung, kandung kemih, dan lambung.
  • Usia 16 minggu : mulai evaluasi kelengkapan jantung dan otak kecil.
  • Usia 28 minggu : evaluasi terhadap aliran darah pada tali pusat dan kepala bayi untuk menilai fungsi plasenta.

Apakah prosedur USG itu aman?

Perlu dicatat bahwa pemeriksaan USG ini tergolong aman dilakukan. Artinya, USG tidak akan menimbulkan keguguran maupun perdarahan pada wanita. Jadi, hal ini sekaligus mematahkan mitos yang mengatakan bahwa prosedur USG bisa membahayakan kesehatan ibu maupun janin dalam kandungan.

Namun memang, ada rasa sedikit tidak nyaman yang akan Anda rasakan ketika menjalani prosedur USG transvaginal. Sensasi ini timbul ketika alat USG dimasukkan ke dalam vagina sehingga sedikit menimbulkan rasa tidak nyaman.

Sementara pada USG abdominal, rasa tidak nyamannya berasal dari tekanan pada rongga perut. Jangan ragu untuk bicara dengan dokter setiap kali Anda merasa tidak nyaman.

Yang harus dipersiapkan sebelum menjalani USG

bidan atau dokter kandungan

Sebetulnya, tidak ada persiapan khusus yang harus Anda lakukan sebelum menjalani USG. Kunci terpentingnya adalah usahakan untuk tetap rileks dan tenang selama pemeriksaan berlangsung.

Seperti yang saya katakan sebelumnya, Anda mungkin akan merasakan sedikit tidak nyaman saat menjalani USG, entah itu USG transvaginal maupun USG perut. Namun saya pastikan, rasa tidak nyaman tersebut sangat bisa diatasi dengan baik. Apalagi kalau Anda lebih fokus kepada hasil yang didapatkan setelah USG selesai.

Supaya Anda lebih tenang, coba tarik napas dalam dan embuskan perlahan. Atur pernapasan dengan baik supaya otot-otot tubuh Anda rileks dan Anda pun merasa lebih nyaman. Semakin Anda rileks, maka Anda akan semakin mudah mengatasi rasa cemas dan ketidaknyamanan yang dirasakan.

Lantas, apakah wanita harus menahan kencing atau puasa terlebih dahulu sebelum USG? Anda tidak perlu repot-repot menahan kencing atau puasa sebelum USG. Kecuali jika tubuh ibu cenderung besar atau mempunyai dinding perut yang tebal, maka hal tersebut dapat mempersulit USG abdomen sehingga USG masih harus dilakukan melalui vagina atau USG transvaginal.

Baca Juga:

dr. Ivander Utama, F.MAS, Sp.OG Infertilitas
dr. Ivander Utama, F.MAS, SpOG adalah dokter kandungan dan kebidanan, yang tergabung dalam Tim Morula untuk penanganan Inseminasi dan Bayi Tabung dalam ...
Selengkapnya
dr. Ivander Utama, F.MAS, Sp.OG Infertilitas

dr. Ivander Utama, F.MAS, SpOG adalah dokter kandungan dan kebidanan, yang tergabung dalam Tim Morula untuk penanganan Inseminasi dan Bayi Tabung dalam penanganan infertilitas. Juga merupakan salah satu dokter yang sudah berpengalaman dengan USG Screening selama bertugas.

Beliau menempuh pendidikan Laparoskopi di India dan mendapat gelar Fellowship of Minimal Access Surgery. Kemudian dr. Ivander melanjutkan studi dan mendapatkan Master’s Degree in the Biotechnology of Human Assisted Reproduction and Embryology di Valencia, Spanyol.

Saat ini merupakan anggota aktif Perhimpunan Fertilitas dan Teknologi Reproduksi Indonesia, Indonesian Gynecologic Endoscopy Society

Untuk konsultasi, dr. Ivander dapat ditemui di beberapa klinik dan rumah sakit ibu dan anak dengan melakukan perjanjian terlebih dahulu.

Selengkapnya
Artikel Terbaru