backup og meta
Kategori

4

Tanya Dokter
Simpan
Cek Kondisi

USG Abdominal vs USG Transvaginal, Apa Bedanya?

Ditinjau secara medis oleh dr. Mikhael Yosia, BMedSci, PGCert, DTM&H. · General Practitioner · Medicine Sans Frontières (MSF)


Ditulis oleh Hillary Sekar Pawestri · Tanggal diperbarui 23/01/2024

USG Abdominal vs USG Transvaginal, Apa Bedanya?

Pemeriksaan USG merupakan salah satu hal yang pasti dilakukan selama kehamilan. Tetapi, tahukah Anda bahwa ada beberapa jenis USG yang bisa dilakukan? Dua jenis USG yang paling sering dilakukan ibu hamil adalah transvaginal dan abdominal.

Sebelum memilih salah satu di antara metode USG tersebut, kenali berbagai perbedaannya terlebih dahulu.

Perbedaan USG transvaginal dan abdominal

Tidak hanya memantau kesehatan janin, USG transvaginal dan abdominal juga bisa digunakan untuk mendiagnosis masalah kesehatan.

Jika kebingungan menentukan jenis USG saat hamil, dokter akan menjelaskan perbedaan di antara keduanya.

Berikut adalah beberapa perbedaan USG abdominal dan transvaginal yang bisa Anda gunakan sebagai bahan pertimbangan sebelum melakukannya.

1. Definisi

syarat usg di puskesmas

USG abdominal adalah pemeriksaan kondisi organ di dalam perut dengan cara menempelkan alat yang disebut probe pada permukaan kulit.

Alat tersebut memanfaatkan gelombang suara untuk memperlihatkan kondisi di dalam perut, termasuk ginjal, pankreas, limpa, hati, dan organ lain di sekitarnya melalui sebuah monitor.

Sementara itu, USG transvaginnal (USG TVS) adalah metode pemeriksaan kondisi organ reproduksi wanita. Metode ini dilakukan dengan cara memasukkan stick probe atau transduce ke dalam vagina.

Cara kerja probe pada USG abdominal dan TVS sebenarnya sama. Namun, USG transvaginal akan menunjukkan kondisi organ reproduksi wanita, seperti saluran tuba, leher rahim, hingga ovarium. 

Meski sama-sama memanfaatkan gelombang suara, hasil penggambaran transvaginal dinilai lebih jelas karena probe dimasukkan langsung ke dalam tubuh.

2. Tujuan pemeriksaan

Selain memastikan kesehatan janin di dalam rahim, laman Cleveland Clinic menyebutkan bahwa USG transvaginal juga bisa digunakan untuk mendeteksi berbagai kondisi medis berikut.

  • Infeksi panggul.
  • Letak alat kontrasepsi IUD.
  • Gangguan kesuburan.
  • Kista pada organ reproduksi.
  • Perdarahan abnormal.
  • Kehamilan ektopik.

Berbeda dengan USG transvaginal, pemeriksaan dengan USG abdominal memang bertujuan untuk melihat organ di rongga perut, termasuk kondisi sistem pencernaan.

Maka, selain melihat kondisi janin, pemeriksaan ini bisa digunakan untuk mendeteksi berbagai kondisi berikut.

  • Batu ginjal.
  • Kolesistitis (radang kantung empedu).
  • Penyakit hati.
  • Kista atau tumor perut.
  • Batu empedu.
  • Aneurisma aorta perut (pembesaran aorta perut).

Pemeriksaan dengan USG abdominal biasanya disarankan ketika dokter melihat pembengkaan di perut pasien.

3. Prosedur pemeriksaan

Sebelum melakukan pemeriksaan dengan USG abdominal, dokter akan terlebih dahulu mengoleskan gel ke perut.

Selain melancarkan pergerakan probe, gel juga bertujuan mencegah masuknya udara di antara kulit dan probe. Setelah itu, dokter akan menggerakkan probe di permukaan kulit perut.

Gerakan akan disesuaikan dengan posisi organ atau bagian yang dingin diperiksa. Jika sudah, dokter kandungan akan membersihkan sisa gel yang ada di kulit.

Berbeda dengan USG abdominal, karena dilakukan dengan cara memasukkan alat ke dalam vagina, gel pada USG transvaginal biasanya cukup dioleskan di ujung probe.

Setelah alat disiapkan, dokter akan meminta Anda untuk mengangkang. Terdapat penyangga pada tempat tidur yang akan menjadi tempat tumpuan kaki Anda.

Bagi beberapa orang, proses saat probe masuk ke dalam vagina mungkin terasa tidak nyaman. Namun, prosedur ini tidak akan terasa menyakitkan.

Di samping perbedaannya, pemeriksaan USG abdominal maupun USG transvaginal biasanya dilakukan selama 30 menit.

Selama pemeriksaan kehamilan, dokter mungkin meminta Anda bergerak ke beberapa sisi untuk mendapatkan hasil menyeluruh.

4. Sasaran pemeriksaan

Baik USG abdominal maupun transvaginal memang bisa dilakukan oleh ibu hamil.

Namun, USG transvaginal tidak disarankan untuk ibu hamil yang letak plasentanya terlalu dekat dengan serviks, seperti pada kasus plasenta previa.

Melakukan USG transvaginal pada ibu hamil dengan plasenta previa justru dikhawatirkan bisa menyebabkan perdarahan.

Pemeriksaan ini juga tidak disarankan untuk kehamilan dengan risiko ketuban pecah dini. Dalam kondisi tersebut, ibu hamil disarankan untuk melakukan USG melalui perut saja.

Berbeda dengan USG transvaginal yang hanya bisa dilakukan oleh wanita, USG abdominal juga bisa dilakukan oleh pria.

Pasalnya, prosedur ini bisa menunjukkan berbagai gangguan organ di di dalam perut yang juga bisa dialami pria.

Mengutip situs Mayo Clinic, pemeriksaan ini bahkan dianjurkan bagi pria yang berisiko terkena aneurisma aorta (penggelembungan pembuluh darah aorta), seperti perokok aktif.

5. Waktu pemeriksaan

Perbedaan lain antara USG transvaginal dan abdominal adalah aturan waktu pemeriksaannya. Waktu pelaksanaan USG abdominal lebih fleksibel.

Anda bisa menjalani pemeriksaan kapan pun ketika merasa membutuhkannya atau direkomendasikan dokter, baik itu untuk keperluan kehamilan maupun pemeriksaan medis.

Sementara itu, USG transvaginal disarankan untuk dilakukan sejak trimester pertama kehamilan, tepatnya sebelum janin berusia 12 minggu.

Untuk pemeriksaan kesehatan organ reproduksi, Anda disarankan menjalani USG transvaginal saat masa subur atau ketika masa ovulasi.

Lebih baik USG transvaginal atau abdominal?

fungsi usg transvaginal, kehamilan kosong tidak berkembang janin

Pada dasarnya, metode pemeriksaan USG perut dan transvaginal sama-sama memberikan hasil akurat. Penentu utama untuk memilih jenis USG adalah tujuan pemeriksaan Anda.

Jika Anda ingin mengetahui kondisi organ reproduksi, USG transvaginal bisa menjadi pilihan yang lebih baik. Begitu pula jika Anda ingin melihat kondisi janin pada awal kehamilan.

Ini lantaran pada awal masa kehamilan, ukuran janin mungkin masih terlalu kecil sehingga sulit dilihat melalui skrining dari luar tubuh.

Meski demikian, dokter mungkin mempertimbangkan pilihan tersebut jika Anda memiliki riwayat ketuban pecah dini.

Sementara itu, USG abdominal biasanya dianjurkan bila Anda mengeluhkan rasa tidak nyaman atau gejala tertentu pada area perut.

Demi mendapatkan hasil pemeriksaan yang akurat, pastikan Anda membicarakan rencana USG dengan dokter terlebih dahulu.

Sampaikanlah tujuan pemeriksaan dan kondisi kesehatan Anda selengkap-lengkapnya kepada dokter.

Kesimpulan

  • USG transvaginal bisa digunakan untuk melihat kondisi janin sekaligus organ reproduksi wanita.
  • Pemeriksaan USG transvaginal tidak cocok untuk ibu hamil dengan masalah plasenta.
  • Sementara itu, USG abdominal bisa digunakan untuk melihat kondisi janin sekaligus organ di dalam perut. Pemeriksaan ini juga bisa dilakukan oleh pria.

Catatan

Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan. Selalu konsultasikan dengan ahli kesehatan profesional untuk mendapatkan jawaban dan penanganan masalah kesehatan Anda.



Ditinjau secara medis oleh

dr. Mikhael Yosia, BMedSci, PGCert, DTM&H.

General Practitioner · Medicine Sans Frontières (MSF)


Ditulis oleh Hillary Sekar Pawestri · Tanggal diperbarui 23/01/2024

ad iconIklan

Apakah artikel ini membantu?

ad iconIklan
ad iconIklan