backup og meta
Kategori
Cek Kondisi
Tanya Dokter
Simpan

Catat, Ini 7 Makanan yang Bisa Meningkatkan Risiko Kanker

Ditinjau secara medis oleh dr. Mikhael Yosia, BMedSci, PGCert, DTM&H. · General Practitioner · Medicine Sans Frontières (MSF)


Ditulis oleh Aprinda Puji · Tanggal diperbarui 4 hari lalu

    Catat, Ini 7 Makanan yang Bisa Meningkatkan Risiko Kanker

    Kanker adalah salah satu penyebab kematian tertinggi di Indonesia. Para ahli menyebut bahwa beberapa jenis penyakit kanker bisa dicegah dengan menerapkan gaya hidup sehat. Salah satu caranya yakni dengan membatasi makanan penyebab kanker.

    Lantas, apa saja daftar makanan yang bisa meningkatkan risiko kanker? Cari tahu di bawah ini!

    Ragam makanan penyebab kanker

    Dikutip dari laman Better Health, kurangnya konsumsi sayur dan buah menjadi salah satu faktor risiko kanker, mulai dari kanker paru, kanker prostat, hingga kanker rahim.

    Sayur dan buah kaya akan serat, antioksidan, vitamin, dan mineral yang dibutuhkan agar tubuh selalu sehat. Kekurangan zat gizi tersebut diduga meningkatkan risiko kanker pada seseorang.

    Selain pola makan yang tidak tepat, ada pula beberapa jenis makanan yang berpotensi menjadi penyebab kanker. Berikut ini contohnya.

    1. Makanan asin

    Makanan kemasan snack

    Keseringan mengonsumsi makanan tinggi garam bisa berdampak buruk bagi kesehatan. Selain hipertensi, jenis makanan ini juga dikaitkan dengan penyakit kanker lambung.

    Studi dalam jurnal Cancer Treatment and Research (2014) menyebutkan bahwa garam memiliki efek yang memicu pertumbuhan sel kanker pada pengidap infeksi Helicobacter pylori.

    Asupan garam berlebih meningkatkan laju proliferasi sehingga sel jadi lebih aktif membelah. Hal ini yang memungkinkan sel tumbuh atau berubah secara abnormal.

    Kelompok makanan asin juga mencakup berbagai makanan yang diawetkan, seperti daging asap, dendeng, ikan asin, dan asinan. Makanan karsinogenik ini cenderung tinggi garam tetapi rendah kandungan gizi.

    2. Makanan yang dibakar atau dipanggang

    Proses pembakaran dan pemanggangan makanan dapat menghasilkan hidrokarbon aromatik polisiklik (PAH). Zat ini terbentuk saat daging dimasak menggunakan suhu tinggi.

    Selanjutnya, ada juga zat amina heterosiklik (HCA) yang terbentuk saat gula dan kreatini (zat yang ditemukan dalam otot) bereaksi pada suhu tinggi. 

    Menurut laporan National Cancer Institute, HCA dan PAH bersifat mutagenik, yaitu bisa memicu perubahan DNA yang meningkatkan risiko seseorang untuk terkena kanker.

    Pada umumnya, kadar PAH pada makanan yang dibakar akan makin tinggi bila makanan tersebut diproses dalam waktu lebih lama.

    3. Daging merah

    cairan merah pada daging steak

    Mengonsumsi daging merah, seperti daging sapi, kambing, atau domba dapat membantu Anda memenuhi kebutuhan protein, vitamin, dan mineral harian.

    Namun, Anda tetap harus membatasi konsumsinya. Konsumsi jenis makanan ini secara berlebihan dapat meningkatkan risiko tumor ganas pada usus besar.

    Makan daging merah sendiri tidak secara langsung menjadi penyebab tumor maupun kanker, tetapi peningkatan risiko kanker dari makanan ini berkaitan dengan cara mengolah daging yang lebih sering dibakar. 

    Daging merah dan olahannya, seperti sosis atau kornet, juga mengandung nitrat. Menurut studi, senyawa alami ini akan berubah menjadi karsinogen setelah masuk ke dalam tubuh.

    4. Makanan cepat saji

    Keseringan makan makanan cepat saji alias fast food yang cenderung tinggi lemak, gula, serta garam berpotensi membuat seseorang mengalami kelebihan berat badan hingga obesitas.

    Kondisi ini pada akhirnya juga meningkatkan risiko Anda untuk terkena berbagai macam jenis kanker. 

    Orang dengan obesitas mengalami peradangan kronis tingkat rendah dalam tubuhnya. Seiring waktu, peradangan ini bisa memicu kerusakan DNA yang mengarah pada penyakit kanker.

    Tidak hanya itu, pengidap kondisi ini juga kerap mengalami peningkatan kadar insulin di dalam darah. Ini merupakan faktor risiko dari kanker ginjal dan kanker prostat.

    5. Makanan yang terkontaminasi bahan kimia tertentu

    Zat kimia berbahaya di lingkungan bisa masuk ke dalam tubuh dari makanan yang Anda konsumsi. Salah satunya contohnya dari ikan yang dikembangbiakkan di area sekitar pabrik. 

    Air yang digunakan untuk mengembangbiakkan ikan ini bisa saja terkontaminasi limbah pabrik.

    Penelitian dari University of Pittsburgh menemukan bahwa konsumsi ikan lele yang terkontaminasi limbah bisa mengganggu kadar estrogen sehingga meningkatkan risiko kanker payudara. 

    Oleh sebab itu, sebisa mungkin hindarilah makanan karsinogenik yang terkontaminasi bahan kimia berbahaya agar tidak menjadi pemicu kanker.

    6. Susu dan produk olahan susu

    produk olahan susu

    Susu dikenal sebagai salah satu minuman yang baik untuk kesehatan. Sumber kalsium ini baik untuk mendukung pertumbuhan tulang dan gigi manusia.

    Namun, sebuah studi dalam European Journal of Nutrition (2022) menemukan bahwa susu dan produk olahannya, seperti keju dan yoghurt, dapat meningkatkan risiko kanker prostat.

    Dijelaskan bahwa konsumsi produk olahan susu mampu meningkatkan kadar insulin-like growth factor 1 (IGF-1). Hal ini dapat meningkatkan laju proliferasi dari sel kanker prostat.

    7. Alkohol

    Saat Anda mengonsumsi minuman beralkohol, hati alias liver akan memecah alkohol menjadi asetaldehida. Senyawa ini dikenal sebagai zat pemicu kanker atau karsinogen.

    Di dalam tubuh, senyawa asetaldehida dapat menyebabkan stres oksidatif dan kerusakan DNA.

    Asetaldehida juga dapat memengaruhi kerja sistem kekebalan sehingga tubuh kesulitan untuk melawan sel prakanker (sel kanker yang tengah berkembang).

    Pada tubuh wanita, konsumsi alkohol berlebih juga meningkatkan kadar estrogen dalam tubuh. Hal ini berkaitan dengan meningkatnya risiko kanker payudara.

    Daftar makanan di atas pada dasarnya bukan penyebab langsung penyakit kanker, tetapi bisa meningkatkan risiko Anda untuk terkena penyakit ini.

    Selain membatasi atau menghindari makanan tersebut, Anda juga bisa memilih mengonsumsi makanan pencegah kanker untuk menurunkan risikonya.

    Catatan

    Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

    Ditinjau secara medis oleh

    dr. Mikhael Yosia, BMedSci, PGCert, DTM&H.

    General Practitioner · Medicine Sans Frontières (MSF)


    Ditulis oleh Aprinda Puji · Tanggal diperbarui 4 hari lalu

    advertisement iconIklan

    Apakah artikel ini membantu?

    advertisement iconIklan
    advertisement iconIklan