backup og meta
Kategori
Cek Kondisi
Tanya Dokter
Simpan

5 Pantangan bagi Pasien Kanker Hati dalam Pengobatan

Ditinjau secara medis oleh dr. Mikhael Yosia, BMedSci, PGCert, DTM&H. · General Practitioner · Medicine Sans Frontières (MSF)


Ditulis oleh Shylma Na'imah · Tanggal diperbarui 4 minggu lalu

    5 Pantangan bagi Pasien Kanker Hati dalam Pengobatan

    Hati (liver) memiliki peran besar dalam tubuh, salah satunya dalam proses pembuangan racun. Sayangnya, tidak menutup kemungkinan organ ini bisa terkena kanker. Agar liver tetap berfungsi dengan baik dan harapan hidup meningkat, pasien kanker hati disarankan untuk menghindari beberapa pantangan berikut ini.

    Pantangan yang harus dihindari pasien kanker hati

    Kanker hati adalah suatu penyakit saat sel-sel hati mengalami mutasi dan berubah menjadi sel abnormal yang dapat berlipat ganda secara tidak terkendali. 

    Ketika organ ini terserang kanker, kinerja hati dalam menjaga kesehatan akan terganggu.

    Untungnya, pasien yang sudah terkena kanker hati tetap dapat menjalani hidup normal selama mengikuti serangkaian pengobatan kanker hati. 

    Selain menjalani pengobatan, upaya lain yang bisa dilakukan adalah dengan menerapkan pola hidup sehat, termasuk menghindari jenis makanan tertentu.

    Berikut ini merupakan beberapa pantangan yang ada baiknya dihindari oleh pasien kanker hati.

    1. Makanan berlemak tinggi

    apa itu lemak hewani

    Pantangan pertama yang dapat berakibat buruk pada pasien kanker hati adalah mengonsumsi makanan berlemak secara berlebihan.

    Jenis lemak jenuh yang biasanya ditemukan pada produk hewani, termasuk daging merah dan produk olahan susu, berisiko memperparah kerusakan hati.

    Walau begitu, bukan berarti pasien kanker hati harus menghindari lemak sama sekali. Asupan lemak masih dibutuhkan selama dalam batas wajar.

    Ada baiknya Anda memilih lemak sehat, yaitu lemak tidak jenuh yang berasal dari ikan salmon, minyak sayur, kacang-kacangan, serta sayuran berwarna hijau gelap.

    2. Makanan dengan kandungan garam tinggi

    Pantangan berikutnya yang sebaiknya dihindari oleh pasien kanker hati adalah makanan tinggi natrium alias garam. Garam memiliki sifat menahan cairan di dalam tubuh. 

    Saat Anda mengonsumsi garam dalam jumlah berlebihan, cairan bisa menumpuk di dalam tubuh dan mengganggu kinerja hati.

    Studi dalam Journal of Agricultural and Food Chemistry (2016) menunjukkan bahwa konsumsi garam berlebihan dapat mempercepat kematian sel-sel hati.

    Kelebihan asupan garam juga berpotensi menyebabkan pembentukan jaringan parut atau fibrosis hati. Oleh sebab itu, sebaiknya kurangi kadar garam dalam menu harian Anda mulai sekarang.

    3. Makanan yang terlalu tinggi protein

    Orang-orang yang mengidap kanker hati juga sebaiknya memasukkan makanan tinggi protein ke dalam daftar pantangan makanan mereka.

    Pasalnya, orang dengan kondisi hati yang rusak tidak mampu mencerna protein dengan baik. Sisa protein yang tidak dapat terproses akan menumpuk.

    Kelebihan protein dalam tubuh bisa memengaruhi fungsi organ lain, seperti otak, ginjal, jantung, dan pembuluh darah.

    Maka dari itu, Anda perlu membatasi asupan makanan berprotein tinggi, seperti daging merah. Seimbangkan pula asupannya dengan memperbanyak konsumsi karbohidrat.

    4. Makanan dengan kandungan gula tinggi

    perbedaan glukosa dan fruktosa

    Pantangan kanker hati selanjutnya adalah makanan olahan yang mengandung gula fruktosa, di antaranya sirop jagung, karamel, madu olahan, dan gula cair.

    Studi yang dimuat dalam jurnal Cell Metabolism (2023) menyebutkan bahwa fruktosa berperan layaknya “bahan bakar” untuk mendorong perkembangan sel-sel kanker hati.

    Fruktosa dari makanan akan diproses dalam tubuh pada liver. Hasil dari proses tersebut dapat berupa trigliserida, asam urat, dan zat radikal bebas.

    Jika Anda makan makanan yang mengandung fruktosa secara berlebihan, trigliserida serta zat radikal bebas akan menumpuk dan menyebabkan kerusakan hati.

    5. Minuman beralkohol dan rokok

    Konsumsi minuman beralkohol dan merokok digadang-gadang sebagai penyebab utama kanker hati. Itu sebabnya pasien kanker hati perlu menghindari dua kebiasaan ini.

    Beberapa penelitian telah membahas pengaruh alkohol terhadap hati, termasuk meningkatnya risiko hepatitis dan kanker hati. 

    Ditambah lagi, kadar alkohol yang terlalu tinggi juga meningkatkan risiko perlemakan hati atau fatty liver, yakni peradangan akibat penumpukan lemak berlebih pada hati.

    Konsumsi makanan yang baik untuk pasien kanker hati

    Setelah mengetahui pantangan untuk pasien kanker hati, kini waktunya Anda menyusun ulang pola makan yang sehat dan bergizi seimbang untuk menjaga kesehatan hati.

    Pada umumnya, pola makan untuk penyakit hati banyak mengandung makanan yang kaya serat dan zat gizi lain, seperti:

    • makanan tinggi karbohidrat kompleks, seperti roti gandum, nasi merah, dan oatmeal,
    • sumber protein tanpa lemak, seperti ayam tanpa kulit, ikan, dan kacang kedelai,
    • buah-buahan dan sayuran hijau, serta
    • minyak nabati, seperti minyak zaitun, minyak bunga matahari, dan minyak canola.

    Memenuhi kebutuhan kalori dan zat gizi lain selama menjalani pengobatan kanker hati sangat penting untuk mempercepat penyembuhan.

    Pasalnya, malnutrisi atau ketidakseimbangan gizi dapat meningkatkan risiko komplikasi dan menurunkan kualitas hidup pasien kanker hati.

    Berkonsultasilah dengan dokter Anda untuk mengetahui pola makan yang tepat dan pantangan yang harus dihindari untuk melindungi hati Anda.

    Kesimpulan

    • Pantangan untuk pasien kanker hati meliputi makanan tinggi lemak dan garam, protein dan gula fruktosa berlebih, serta minuman beralkohol dan rokok.
    • Konsumsi makanan tersebut berisiko memperburuk kondisi hati yang sudah terganggu.
    • Penting untuk memperhatikan pola makan sehat yang kaya serat, karbohidrat kompleks, protein tanpa lemak, dan minyak nabati.
    • Berkonsultasilah dengan dokter untuk mengetahui diet yang tepat demi menjaga hati dan membantu mempercepat penyembuhan kanker.

    Catatan

    Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

    Ditinjau secara medis oleh

    dr. Mikhael Yosia, BMedSci, PGCert, DTM&H.

    General Practitioner · Medicine Sans Frontières (MSF)


    Ditulis oleh Shylma Na'imah · Tanggal diperbarui 4 minggu lalu

    advertisement iconIklan

    Apakah artikel ini membantu?

    advertisement iconIklan
    advertisement iconIklan