Cara Membedakan Nyeri Dada Akibat Serangan Jantung dan Heartburn (Maag)

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 22/07/2020 . Waktu baca 5 menit
Bagikan sekarang

Sebagian besar orang menduga bahwa rasa nyeri di bagian dada sudah pasti merupakan gejala serangan jantung. Padahal, asam lambung naik juga dapat menyebabkan nyeri dan sensasi perih di dada (heartburn). Hati-hati, salah menebak penyakit yang timbul dari nyeri dada bisa menyebabkan salah penanganan juga. Lantas, bagaimana cara mengetahui beda antara nyeri dada akibat serangan jantung dan heartburn? Simak penjelasan berikut ini.

Memahami kondisi serangan jantung dan heartburn

Sebelum mengetahui beda nyeri dada akibat serangan jantung dan heartburn, Anda mungkin perlu memahami terlebih dahulu mengenai kedua kondisi tersebut. Serangan jantung adalah salah satu jenis penyakit jantung yang terjadi saat aliran darah menuju jantung terhambat.

Hal ini disebabkan adanya penyumbatan di arteri koroner, yaitu pembuluh darah yang membawa oksigen ke otot-otot jantung. Akibatnya, otot jantung yang kekurangan oksigen lama-kelamaan akan rusak sehingga tidak bisa berfungsi dengan baik.

Sementara itu, heartburn adalah sensasi perih dan panas di dada yang disebabkan oleh naiknya asam lambung ke kerongkongan (esofagus). Cairan lambung yang sifatnya sangat asam ini dapat mengiritasi lapisan dinding esofagus dan memicu sakit tenggorokan. Banyak orang menyebut kondisi ini sebagai maag, meskipun sebetulnya dalam dunia medis tidak dikenal istilah penyakit maag.

Meskipun heartburn sama sekali tidak berhubungan dengan jantung, efek iritasi akibat naiknya asam lambung juga dapat menjalar ke dada. Ini karena letak kerongkongan sangat dekat dengan jantung.

Maka itu, serangan jantung maupun naiknya asam lambung dapat menyebabkan rasa nyeri pada dada. Untuk mengetahui kondisi mana yang sedang Anda alami, Anda perlu tahu beda antara nyeri dada akibat serangan jantung dan heartburn. Lalu, apa perbedaan dari keduanya?

Kenali nyeri dada timbul saat serangan jantung dan asam lambung

Kebanyakan orang sering kali tertukar saat mencari beda antara nyeri dada akibat serangan jantung dan heartburn karena naiknya asam lambung hingga ke kerongkongan. Hati-hati, salah menentukan penyakit bisa mengakibatkan salah penanganan yang akhirnya berujung fatal.

Nyeri dada karena serangan jantung dan heartburn memang cenderung mirip, karena keduanya sama-sama menimbulkan sensasi perih dan tekanan di dada. Akan tetapi, ada ciri khas gejala serangan jantung yang berbeda dengan gejala heartburn. Begini cara membedakannya.

  • Nyeri dada akibat serangan jantung

jenis serangan jantung

Nyeri dada akibat serangan jantung dan nyeri dada karena heartburn memberikan sensasi rasa sakit yang beda. Nyeri pada bagian dada sering kali menjadi salah satu gejala yang timbul akibat serangan jantung. Namun, Anda perlu memahami bahwa tidak semua orang yang mengalami serangan jantung akan merasakan gejala ini. Dikutip dari Cleveland Clinic, sakit dada akibat serangan jantung lebih umum dialami oleh pria ketimbang wanita.

Alih-alih nyeri dada akibat serangan jantung, gejala serangan jantung yang dialami wanita biasanya berbeda. Sebagai contoh rasa sakit pada bagian lengan, leher, hingga rahang. Sayangnya, gejala serangan jantung ini cenderung samar-samar sehingga sering diabaikan oleh para wanita yang mengalaminya.

Gejala nyeri di dada akibat serangan jantung biasanya membuat pasien merasa dadanya sedang ditekan, diremas, dan menimbulkan rasa yang sangat tidak nyaman. Tidak hanya itu, gejala ini biasanya juga timbul bersamaan dengan gejala lainnya.

Sebagai contoh, rasa mual, sesak napas, keringat dingin, hingga kepala ringan dan rasa lelah yang berlebihan. Semua gejala serangan jantung ini umumnya bertahan lama, tapi Anda dapat mengurangi rasa sakitnya dengan duduk sambil mengatur pernapasan pelan-pelan.

  • Nyeri dada akibat heartburn

Asam lambung yang naik hingga ke kerongkongan juga bisa menyebabkan rasa tak nyaman di dada. Namun, rasa nyaman itu bukan karena asam lambung memiliki dampak pada jantung. Pada dasarnya, beda heartburn dan serangan jantung adalah naiknya asam lambung ke esofagus ini tidak memengaruhi kondisi jantung Anda.

Hanya saja, letak esofagus dan jantung yang berdekatan menyebabkan timbul rasa sakit dan tak nyaman pada dada akibat naiknya asam lambung. Biasanya, gejala ini juga disertai dengan sensasi lidah pahit dan perut terasa penuh alias kembung.

Sakit di dada akibat heartburn tentu beda dan tidak menjadi penyebab serangan jantung. Akan tetapi, rasa nyeri di bagian dada akibat asam lambung ini bisa berlangsung hingga satu jam lamanya.

Beda nyeri dada akibat serangan jantung dan heartburn

Jika Anda telah memahami sakit di dada akibat serangan jantung dan heartburn, kini saatnya memahami beda antara keduanya.

Rasa nyeri dada akibat heartburn atau asam lambung naik ke kerongkongan biasanya akan menjadi semakin parah setelah Anda makan, membungkuk, berbaring, atau mengubah posisi yang dapat semakin menaikkan asam lambung. Sementara itu, nyeri dada akibat serangan jantung tidak berubah semakin parah.

Di samping itu, rasa nyeri dada akibat heartburn bisa diatasi dengan minum obat yang dapat mengurangi kadar asam lambung di dalam perut. Sementara, jika nyeri dada yang Anda rasakan disebabkan serangan jantung, minum obat pereda asam lambung tidak akan mengurangi rasa sakitnya.

Di sisi lain, Anda mungkin merasakan perut kembung jika memang sedang mengalami heartburn. Sementara, Anda tidak akan merasakannya jika yang Anda alami adalah serangan jantung. Maka, saat nyeri dada yang timbul bersama dengan kondisi seperti perut kembung, kemungkinan asam lambung Anda sedang naik ke esofagus.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

9 Cara Lindungi Diri Jalankan Hobi di Luar Ruang saat Adaptasi Kebiasaan Baru

PSBB memang mulai longgar, tetapi tetap ikuti tips lindungi diri di adaptasi kebiasaan baru agar terhindar dari COVID-19, Sobat Sehat!

Ditinjau oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
Ditulis oleh: Willyson Eveiro
Konten Bersponsor
lindungi diri di adaptasi kebiasaan baru
Hidup Sehat, Tips Sehat 29/07/2020 . Waktu baca 5 menit

Hati-hati Penggunaan Obat Kortikosteroid Berlebihan

Sering disebut "obat dewa" karena bisa menyembuhan alergi, gatal-gatal, hingga flu, obat kortikosteroid juga bisa berbahaya jika dipakai berlebihan.

Ditulis oleh: dr. Angga Maulana
Hidup Sehat, Tips Sehat 28/07/2020 . Waktu baca 4 menit

Minum Madu Setelah Minum Obat, Boleh atau Tidak?

Minum obat terus minum madu? Boleh atau tidak? Baiknya Anda simak penjelasan di sini mengenai bahaya dan anjuran saat minum madu.

Ditulis oleh: Novita Joseph
Hidup Sehat, Tips Sehat, Fakta Unik 27/07/2020 . Waktu baca 3 menit

Penyebab Demam Naik Turun Pada Bayi (dan Cara Mengatasinya)

Semua orangtua mungkin panik dan takut menghadapi bayi demam naik turun. Sebenarnya apa yang menyebabkan bayi demam naik turun? Bagaimana mengatasinya?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
Kesehatan Anak, Parenting 21/07/2020 . Waktu baca 3 menit

Direkomendasikan untuk Anda

Konten Bersponsor
menghadapi kecemasan di new normal

Tips Menghadapi Kecemasan Kembali Beraktivitas di Era New Normal

Ditinjau oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
Ditulis oleh: Willyson Eveiro
Dipublikasikan tanggal: 03/08/2020 . Waktu baca 5 menit
nutrisi untuk mencegah covid

Penuhi Nutrisi Ini untuk Mencegah Penularan Coronavirus saat New Normal

Ditulis oleh: Maria Amanda
Dipublikasikan tanggal: 30/07/2020 . Waktu baca 9 menit
Konten Bersponsor

8 Tips Lari di Luar Ruangan saat Masa New Normal

Ditinjau oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
Ditulis oleh: Willyson Eveiro
Dipublikasikan tanggal: 29/07/2020 . Waktu baca 5 menit
Konten Bersponsor
persiapan saat new normal

8 Hal yang Perlu Dipersiapkan Saat Keluar Rumah di Masa New Normal

Ditinjau oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
Ditulis oleh: Maria Amanda
Dipublikasikan tanggal: 29/07/2020 . Waktu baca 6 menit