Virus Nipah Berpotensi Menjadi Wabah Besar Berikutnya

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 4 Februari 2021 . Waktu baca 5 menit
Bagikan sekarang

Topik mengenai virus Nipah kembali beredar menyusul peringatan dari organisasi nirlaba Access to Medicine Foundation yang menyatakan kemungkinan virus ini menjadi pandemi besar berikutnya. 

Sejak pertama kali mewabah pada tahun 1999, virus Nipah muncul secara sporadis hampir setiap tahun di beberapa negara Asia. Mengapa virus Nipah ini diprediksi berpotensi menjadi penyebab pandemi global berikutnya seperti COVID-19?

Ilmuwan memperingatkan adanya potensi pandemi baru dari Nipah Virus

Nipah Virus, Sumber Penyakit Menular yang Berpotensi Menjadi Pandemi Baru - kelelawar buah kalong -

Infeksi virus Nipah muncul dan diidentifikasi pertama kali pada tahun 1999 saat mewabah di Malaysia dan Singapura. Wabah penyakit Nipah saat itu menimpa sekitar 265 peternak babi di sana, menyebabkan gangguan pernapasan dan radang otak. Akibatnya, 105 orang meninggal dunia.  

Hampir setiap tahun virus ini mewabah di beberapa negara di Asia, terutama India dan Bangladesh. Namun hingga kini belum ada obat khusus ataupun vaksin yang mampu menangani infeksi virus ini. 

“Virus Nipah adalah penyakit menular lain yang muncul dan menimbulkan kekhawatiran besar,” kata Direktur Eksekutif Access to Medicine Foundation, Jayasree K Iyer. Ia kemudian menambahkan bahwa virus ini bisa meledak dan mewabah kapan saja.  “Pandemi berikutnya bisa menjadi infeksi yang resistan terhadap obat,” ujarnya kemudian. 

Virus Nipah sangat mengkhawatirkan

Ada beberapa alasan mengapa infeksi virus Nipah begitu mengkhawatirkan jika penyakit ini mewabah dalam skala besar. 

Nipah Virus (NiV) merupakan virus zoonosis anggota keluarga Paramyxoviridae, genus Henipavirus. Reservoir inang hewan untuk NiV adalah kelelawar buah (genus Pteropus), juga dikenal sebagai flying fox.

Pada mulanya, virus ini diduga menginfeksi kelelawar buah atau kalong (genus pteropus) secara alami. Melalui kontak langsung atau makanan dan air yang terkontaminasi, virus ini dapat menginfeksi binatang lain seperti babi atau hewan peliharaan. 

Berbeda dengan virus penyebab COVID-19 yang menular dari manusia ke manusia, virus Nipah bisa menular dari hewan ke hewan, dari hewan ke manusia, dan dari manusia ke manusia secara langsung maupun melalui makanan yang terkontaminasi virus. Menurut Pusat Pengendalian Penyakit Amerika (CDC), kasus infeksi virus nipah di India dan Bangladesh pada tahun 2018 disebabkan oleh sari buah atau air sadapan dari pohon yang telah terkontaminasi virus yang kemudian dikonsumsi masyarakat.

Orang dapat terinfeksi jika mereka melakukan kontak erat dengan hewan yang terinfeksi atau cairan tubuhnya (seperti air liur atau urin). Penyebaran awal dari hewan ke manusia ini dikenal sebagai peristiwa limpahan. Setelah menyebar ke orang-orang, penyebaran NiV dari orang ke orang juga dapat terjadi.

Infeksi virus nipah tergolong berbahaya. Pertama, masa inkubasi virus yang cukup lama yakni 45 hari membuat si inang atau manusia yang telah terinfeksi, baik merasakan gejala sakit atau tidak, bisa menyebarkannya tanpa sadar. Mereka yang terinfeksi virus Nipah, dikutip dari BBC, bisa mengalami gejala pernafasan seperti batuk dan sakit tenggorokan, kemudian merasa nyeri dan kelelahan, dan ensefalitis alias radang otak yang dapat menyebabkan kejang hingga kematian.

Gejala awal yang dialami akibat infeksi virus Nipah berupa berupa sakit kepala, diikuti oleh rasa kantuk, dan kebingungan. Orang yang terinfeksi virus ini bisa mengalami koma dalam rentang waktu 48 jam setelah menunjukkan gejala karena radang otak atau ensefalitis yang disebabkan oleh virus Nipah. 

Orang yang terinfeksi akan mengalami gejala ringan hingga berat dan bahkan memiliki tingkat kematian atau mortalitas 40 hingga 70 persen. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memasukkan infeksi infeksi virus Nipah sebagai salah satu penyakit menular dari 16 penyakit yang dianggap paling berbahaya bagi masyarakat, termasuk di dalamnya SARS dan MERS.

Nipah dan ancaman patogen lain akibat kerusakan alam

kerusakan ekosistem

Wilayah tropis Asia memiliki keanekaragaman hayati yang kaya, artinya wilayah ini juga merupakan rumah bagi kumpulan besar patogen.

Peningkatan populasi manusia membuat kontak antara manusia dan hewan liar di wilayah ini memperbesar faktor risiko penyebaran patogen. Ahli epidemiologi Universitas Griffith, Dicky Budiman, mengatakan kerusakan hutan dan kerusakan lingkungan lainnya menjadi salah satu faktor utama adanya mutasi penularan virus dari hewan ke manusia. 

“Dengan perilaku manusia yang mengabaikan keseimbangan alam, pembabatan hutan dan perilaku tidak harmonis lainnya membuat dunia semakin rawan. Perubahan iklim semakin memperburuk situasi,” kata Dicky seperti dikutip dari wawancaranya dengan CNN, Rabu (27/1).

Seiring dengan bertambahnya populasi, manusia mengubah ekosistem lingkungan dan merusak habitat liar. Perilaku manusia ini, termasuk mengonsumsi hewan liar, meningkatkan penyebaran penyakit. 

“Penyebaran patogen (zoonosis) dan risiko penularannya dipercepat dengan maraknya alih fungsi lahan seperti penggundulan hutan, urbanisasi, dan intensifikasi pertanian,” tulis Rebekah J. White dan Orly Razgour dalam ulasan University of Exeter 2020 tentang penyakit zoonosis yang muncul.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Was this article helpful for you ?
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Digital Fatigue, Kelelahan Karena Penggunaan Media Digital

Meningkatnya penggunaan media digital perlu diwaspadai karena bisa menimbulkan masalah baru yang disebut sebagai digital fatigue. Apa itu?

Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Kesehatan Mental 16 Februari 2021 . Waktu baca 6 menit

WHO Investigasi Asal Muasal COVID-19, Bagaimana Perkembangannya?

Setahun sejak kemunculannya, belum diketahui benar bagaimana asal muasal virus SARS-CoV-2 penyebab COVID-19 ini. Berikut temuan terbarunya.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
COVID-19, Penyakit Infeksi 16 Februari 2021 . Waktu baca 5 menit

Reaksi Alergi Vaksin COVID-19 dan Hal-hal yang Perlu Diketahui

Sejumlah kecil penerima vaksin COVID-19 mengalami reaksi alergi, namun tidak semua berbahaya. Apa saja syarat kelayakan menerima vaksin?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
COVID-19, Penyakit Infeksi 15 Februari 2021 . Waktu baca 5 menit

Proses Vaksinasi COVID-19 di Indonesia, Kelompok Prioritas Sampai Masyarakat Umum

Pelaksanaan vaksinasi COVID-19 di Indonesia telah berjalan, berikut tahapan cara registrasi hingga kondisi kesehatan yang perlu diperhatikan.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
COVID-19, Penyakit Infeksi 10 Februari 2021 . Waktu baca 5 menit

Direkomendasikan untuk Anda

Vaksin covid-19

Antisipasi dan Data Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi COVID-19 di Indonesia

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 25 Februari 2021 . Waktu baca 5 menit
Alergi vaksin covid-19

Setelah Vaksinasi COVID-19 Berjalan, Kapan Indonesia Mencapai Herd Immunity?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 23 Februari 2021 . Waktu baca 5 menit
Harimau dan Kasus Hewan Peliharaan yang Tertular COVID-19

Bayi Harimau Mati Diduga COVID-19, Bisakah Hewan Peliharaan Tertular Virus Corona?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 22 Februari 2021 . Waktu baca 5 menit
Vaksin covid-19

Vaksinasi COVID-19 Tahap 2 Dimulai, Siapa Saja Targetnya?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 17 Februari 2021 . Waktu baca 3 menit