home

Artikel Bersponsor

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

Cegah Bahaya Rabies dengan Vaksin, Kapan Harus Melakukannya?

Cegah Bahaya Rabies dengan Vaksin, Kapan Harus Melakukannya?

Penyakit rabies atau yang lebih dikenal sebagai penyakit anjing gila bisa menyebabkan kelumpuhan atau bahkan kematian. Virus rabies berpindah ketika seseorang tergigit oleh hewan yang telah terinfeksi virus tersebut sebelumnya. Pada awalnya, penyakit rabies mungkin tidak menunjukkan gejala yang parah. Namun, jika terus dibiarkan, penyakit infeksi berisiko menyebabkan kematian. Supaya terbebas dari bahaya virus ini, Anda bisa mengandalkan vaksin rabies. Simak informasi seputar vaksin ini dalam ulasan berikut.

Siapa saja yang membutuhkan vaksin rabies?

Rabies adalah penyakit zoonosis (berasal dari hewan) yang disebabkan oleh infeksi lyssavirus. Infeksi virus ini menyerang sistem saraf manusia yang kemudian berpindah ke otak.

Meskipun pada awalnya rabies tidak langsung memunculkan gejala, penyakit ini hampir selalu menimbulkan akibat fatal setelah gejalanya muncul.

Itu sebabnya, setiap orang memang sebaiknya memperoleh vaksin antirabies. Namun, orang yang berisiko tinggi terinfeksi virus rabies sangat dianjurkan untuk melakukan vaksinasi.

Orang yang rentan terinfeksi virus ini umumnya bila memiliki profesi yang berhubungan langsung dengan hewan.

Kelompok berisiko yang perlu mendapatkan vaksin rabies adalah:

  • dokter hewan,
  • peternak hewan,
  • pekerja atau peneliti laboratorium yang penelitiannya melibatkan hewan yang bisa terinfeksi rabies, dan
  • orang yang bepergian ke daerah endemis rabies.

Di samping itu, orang yang tergigit oleh hewan, terutama anjing, tikus, dan hewan liar, baik yang diketahui terinfeksi rabies maupun yang tidak terinfeksi juga perlu mendapatkan vaksin.

Dalam penanganan kasus gigitan hewan, vaksin rabies dapat mencegah timbulnya gejala rabies yang bisa mengakibatkan gangguan saraf dan kelumpuhan.

Dua jenis vaksin antirabies (VAR)

Dilansir dari Kementerian Kesehatan RI, ada dua jenis vaksin antirabies (VAR), yaitu Profilaksis Pra-Pajanan (PrPP) dan Profilaksis Pasca Pajanan (PEP).

Kedua vaksin ini dapat memberikan kekebalan tubuh terhadap penyakit rabies selama bertahun-tahun.

Perbedaan kedua vaksin tersebut adalah waktu pemberiannya.

Salah satu vaksin digunakan sebagai pencegahan sebelum terjadinya infeksi virus, sedangkan yang lainya untuk mengantisipasi kemunculan gejala setelah Anda terpapar virus.

PrPP: vaksin untuk pencegahan awal

Vaksin PrPP adalah vaksinasi untuk pencegahan yang diberikan sebelum adanya paparan atau infeksi virus rabies.

Vaksin ini berguna membentuk antibodi agar imunitas tubuh mampu melawan infeksi virus sejak awal.

Kelompok orang yang paling berisiko terpapar virus rabies perlu mendapatkan vaksin PrPP.

Untuk pencegahan rabies dengan efektif, ada 3 dosis vaksin PrPP yang harus diberikan, yaitu.

  • Dosis 1 : Diberikan sesuai jadwal perjanjian dengan dokter.
  • Dosis 2: Diberikan 7 hari setelah dosis pertama.
  • Dosis 3: Diberikan 21 hari atau 28 hari setelah dosis pertama.

Dosis vaksin ini mungkin bisa ditambahakan apabila Anda termasuk orang yang berisiko sangat tinggi terinfeksi virus rabies.

PEP: vaksin setelah terinfeksi virus

Penyuntikan vaksin juga perlu segera dilakukan setelah seseorang terkena virus rabies.

Dokter akan menyuntikkan vaksin PEP setelah membersihkan luka akibat gigitan hewan seperti tikus, anjing, dan kelelawar.

Hal ini ditujukan agar virus tak semakin menyebar dan menimbulkan gejala rabies yang berbahaya, seperti kerusakan saraf dan kelumpuhan.

Jumlah dosis vaksin antirabies yang diberikan pasca-infeksi untuk setiap orang mungkin berbeda-beda tergantung apakah pasien telah mendapatkan vaksin PrPP atau belum.

Biasanya, seseorang yang sudah terkena virus rabies dan belum pernah divaksinasi harus mendapatkan 4 dosis vaksin antirabies dengan ketentuan seperti berikut ini.

  • Dosis segera: diberikan langsung setelah Anda tergigit hewan atau terpapar virus rabies.
  • Dosis tambahan: diberikan pada hari ke-3, ke-7, dan ke-14 setelah dosis segera diberikan.

Bagi seseorang yang sebelumnya sudah menjalani vaksinasi PrPP bisa diberikan 2 dosis vaksin antirabies PEP.

  • Dosis segera: diberikan segera setelah terpapar virus rabies.
  • Dosis tambahan: diberikan 3 hari setelah dosis segera diberikan.

Menurut studi dari jurnal Clinical Medicine, suntikan rabies imunoglobulin (RIG) juga diperlukan pada tahap pemberian dosis segera.

RIG mampu menetralisasi virus rabies di dalam tubuh dan memberikan perlindungan efektif selama 7-10 hari.

Namun, pasien yang telah memperoleh vaksin PrPP lengkap (3 dosis vaksin) tidak lagi memerlukan suntikan rabies imunoglobulin (RIG).

Meskipun vaksinasi masih bisa dilakukan setelah terinfeksi virus rabies, pencegahan bahaya rabies melalui vaksin tetap lebih efektif dilakukan sebelum Anda terinfeksi.

Apakah ada efek samping dari vaksin rabies?

penyebab <a data-event-category=sakit kepala dan mata serta pusing” width=”640″ height=”427″ srcset=”https://cdn.hellosehat.com/wp-content/uploads/2018/03/shutterstock_631434704-700×467.jpg 700w, https://cdn.hellosehat.com/wp-content/uploads/2018/03/shutterstock_631434704-400×267.jpg 400w, https://cdn.hellosehat.com/wp-content/uploads/2018/03/shutterstock_631434704-90×60.jpg 90w, https://cdn.hellosehat.com/wp-content/uploads/2018/03/shutterstock_631434704-45×30.jpg 45w, https://cdn.hellosehat.com/wp-content/uploads/2018/03/shutterstock_631434704-300×200.jpg 300w” sizes=”(max-width: 640px) 100vw, 640px” />

Secara umum, tidak ada efek samping yang berarti dari vaksin antirabies.

Setelah melakukan vaksin, biasanya muncul beberapa efek samping ringan, tetapi gangguan ini bisa mereda dengan sendirinya.

Efek samping dari vaksin antirabies yang mungkin muncul yaitu:

  • nyeri, bengkak, kemerahan di area kulit yang divaksin,
  • sakit kepala,
  • sakit perut,
  • otot terasa sakit,
  • nyeri sendi,
  • demam, dan
  • bintik-bintik gatal pada kulit.

Efek samping serius dari vaksin antirabies memang jarang terjadi.

Namun, ada beberapa kondisi yang membuat Anda tidak boleh mendapatkan vaksin ini, seperti.

  • Memiliki alergi terhadap kandungan obat dalam vaksin.
  • Mengidap HIV/AIDS atau penyakit kanker.
  • Minum obat yang memiliki efek melemahkan sistem imun.
  • Sedang hamil atau menyusui.

Jika hal tersebut terjadi pada Anda, sebaiknya konsultasikan dulu pada dokter sebelum melakukan vaksin rabies.

Perlukah vaksin rabies untuk hewan?

anjing dan manusia bakteri usus

Perlindungan vaksin yang satu ini sebaiknya juga diberikan pada hewan peliharaan yang berisiko terinfeksi seperti anjing dan kucing.

Hal ini juga termasuk dalam upaya pencegahan rabies pada manusia.

Vaksinasi untuk hewan peliharaan bisa mulai dilakukan saat hewan berumur kurang dari 3 bulan untuk 1 dosis vaksin.

Dosis selanjutnya akan diberikan ketika berumur lebih dari 3 bulan. Setelahnya, 1 dosis vaksin lanjutan (booster) akan diberikan sekali setiap tahunnya.

Vaksin antirabies tak hanya berguna untuk perlindungan sebelum infeksi, tetapi juga untuk pencegahan setelah infeksi.

Mengingat penyakit rabies yang bisa menimbulkan dampak serius, termasuk risiko kematian yang tinggi, mendapatkan vaksin jauh lebih baik untuk kesehatan dibandingkan terjangkit penyakit infeksi ini.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Warrell, M., & Warrell, D. (2015). Rabies: the clinical features, management and prevention of the classic zoonosis. Clinical Medicine, 15(1), 78-81. https://doi.org/10.7861/clinmedicine.14-6-78

CDC. (2020). Vaccine Information Statement | Rabies | VIS. Retrieved 23 December 2020, from https://www.cdc.gov/vaccines/hcp/vis/vis-statements/rabies.html

Vaccine.gov. (2020). Rabies | Vaccines. Retrieved 23 December 2020, from https://www.vaccines.gov/diseases/rabies

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2018). Retrieved 23 December 2020, from https://www.kemkes.go.id/article/view/18100300007/rabies-bisa-dicegah-dan-disembuhkan.html

AAHA. (2020). Rabies vaccination. Retrieved 23 December 2020, from https://www.aaha.org/aaha-guidelines/vaccination-canine-configuration/rabies-vaccination/

Foto Penulis
Ditulis oleh Rr. Bamandhita Rahma Setiaji pada 02/05/2021
Ditinjau oleh dr. Damar Upahita - Dokter Umum
x