Penyakit chikungunya dapat menyebabkan gejala demam dan nyeri hebat. Bahkan, beberapa orang sampai harus meringkuk demi menahan sakitnya. Lalu, adakah obat chikungunya yang paling ampuh untuk meredakan gejalanya? Simak pembahasannya di bawah ini.
Penyakit chikungunya dapat menyebabkan gejala demam dan nyeri hebat. Bahkan, beberapa orang sampai harus meringkuk demi menahan sakitnya. Lalu, adakah obat chikungunya yang paling ampuh untuk meredakan gejalanya? Simak pembahasannya di bawah ini.

Chikungunya adalah penyakit yang disebabkan oleh infeksi virus chikungunya yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus.
Perlu dipahami bahwa tidak ada obat khusus yang dapat mengobati infeksi virus chikungunya.
Obat-obatan yang biasa diberikan hanya bertujuan untuk meredakan gejala dan mempercepat proses pemulihan dari penyakit infeksi ini.
Untuk membantu meringankan nyeri sendi dan demam akibat chikungunya, dokter Anda dapat meresepkan beberapa obat berikut.
Begitu gejala demam mulai terasa menghambat aktivitas Anda, segera minum obat naproxen.
Naproxen bekerja dengan menghambat produksi prostaglandin, yaitu zat kimia di dalam tubuh yang dapat menimbulkan rasa sakit dan peradangan.
Setelah minum naproxen, gejala nyeri sendi dan demam chikungunya dapat berkurang dalam beberapa hari. Pastikan Anda minum obat ini sesuai dosis yang dianjurkan dokter.

Ibuprofen kerap kali digunakan untuk mengurangi rasa sakit, bengkak, dan peradangan akibat berbagai penyakit, termasuk chikungunya.
Sama seperti naproxen, ibuprofen akan menurunkan demam dan menghilangkan nyeri sendi yang dialami oleh pasien.
Obat golongan anti-inflamasi nonsteroid (NSAID) ini tersedia dalam bentuk tablet, kapsul, atau cairan infus yang hanya diberikan pada kondisi tertentu.
Paracetamol merupakan obat analgesik yang aman untuk mengatasi gejala chikungunya pada anak-anak dan orang dewasa.
Sama dengan obat lainnya, paracetamol bekerja dengan menghambat produksi prostaglandin yang memicu rasa sakit dan peradangan dalam tubuh.
Bedanya, efek samping paracetamol umumnya lebih ringan karena tidak menimbulkan gejala asam lambung naik maupun sakit perut.
Walaupun efektif untuk mengatasi gejala chikungunya, pemakaian anti-inflamasi nonsteroid bisa meningkatkan risiko perdarahan pada beberapa orang.
Oleh sebab itu, obat-obatan di atas harus digunakan sesuai dengan resep dokter, terlebih bila Anda mengidap kondisi atau penyakit bawaan lainnya.
Obat-obatan chikungunya tentu tidak dapat bekerja maksimal dalam mengatasi gejala bila tidak dibarengi dengan perubahan gaya hidup.
Berikut ini adalah beberapa tips untuk meringankan gejala chikungunya selain minum obat yang dapat Anda lakukan.

Istirahat merupakan salah satu cara paling mudah untuk membantu tubuh melawan penyakit infeksi dari serangga ini.
Dengan mendapatkan istirahat yang cukup, tubuh akan memfokuskan energi pada pemulihan dan mengurangi beban pada sistem kekebalan yang sedang bekerja keras.
Pastikan Anda tidur setidaknya 7–9 jam setiap malam. Hindari juga olahraga dan aktivitas berat yang bisa memperburuk kondisi Anda sampai Anda benar-benar pulih.
Demam dapat membuat tubuh kehilangan banyak cairan melalui keringat. Hal ini tentu bisa meningkatkan risiko Anda mengalami dehidrasi.
Dehidrasi bisa memperburuk gejala chikungunya. Maka dari itu, penting untuk menjaga tubuh tetap terhidrasi dengan memperbanyak minum air putih, jus buah, atau sup.
Asupan cairan membantu menyeimbangkan kadar air dan elektrolit dalam tubuh pasien. Ini juga akan mencegah komplikasi, misalnya rasa lelah berlebihan.
Demam akibat chikungunya biasanya akan hilang dalam waktu satu minggu. Akan tetapi, nyeri nyeri sendi kemungkinan bisa berlangsung sampai berbulan-bulan.
Untuk mengurangi nyeri dan peradangan pada sendi, Anda bisa menggunakan kompres dingin. Lakukan selama 15–20 menit beberapa kali sehari untuk hasil yang optimal.
Suhu dingin dari kompres akan menyempitkan pembuluh darah. Hal ini bisa mengurangi aliran darah ke area yang meradang dan mengurangi rasa sakit.
Sebuah artikel dalam jurnal Frontiers in Nutrition (2017) menyebutkan bahwa kunyit dan jahe dapat membantu mengurangi gejala radang sendi atau rheumatoid arthritis.
Meski belum ada penelitian yang spesifik terkait hal ini, Anda tetap bisa mengonsumsi kunyit dan jahe sebagai obat alami untuk meredakan nyeri sendi akibat chikungunya.
Anda bisa meminum rebusan jahe dan kunyit sebagai upaya mengurangi sakit dan nyeri sendi.

Lindungi diri Anda dari gigitan nyamuk dengan memasang kelambu di tempat tidur, meletakkan tanaman pengusir nyamuk di dalam rumah, atau mengoleskan losion antinyamuk secara rutin.
Untuk sementara waktu, hindari juga bepergian ke luar rumah untuk mencegah gigitan nyamuk.
Tidak kalah penting, Anda harus melakukan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) melalui 3M Plus dengan:
Gejala chikungunya yang paling khas adalah nyeri sendi. Nyeri sendi akibat chikungunya bahkan bisa sangat parah sehingga membuat pengidapnya kesulitan bergerak.
Penyakit infeksi ini juga menimbulkan demam dan ruam kemerahan pada kulit yang mirip gejala demam berdarah (DBD). Meski menyerupai DBD, chikungunya biasanya tidak berbahaya.
Namun, bila Anda khawatir dengan gejala yang ditimbulkan penyakit ini, periksakan diri Anda dengan dokter untuk memperoleh diagnosis dan perawatan medis yang tepat.
Catatan
Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan. Selalu konsultasikan dengan ahli kesehatan profesional untuk mendapatkan jawaban dan penanganan masalah kesehatan Anda.
Chikungunya. (2022). World Health Organization. Retrieved August 28, 2024, from https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/chikungunya
About chikungunya. (2024). Centers for Disease Control and Prevention. Retrieved August 28, 2024, from https://www.cdc.gov/chikungunya/about/index.html
What is chikungunya? (2024). Cleveland Clinic. Retrieved August 28, 2024, from https://my.clevelandclinic.org/health/diseases/25083-chikungunya
What is chikungunya fever, and should I be worried? (2022). Mayo Clinic. Retrieved August 28, 2024, from https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/infectious-diseases/expert-answers/what-is-chikungunya-fever/faq-20109686
Naproxen. (2022). MedlinePlus. Retrieved August 28, 2024, from https://medlineplus.gov/druginfo/meds/a681029.html
Acetaminophen. (2023). MedlinePlus. Retrieved August 28, 2024, from https://medlineplus.gov/druginfo/meds/a681004.html
Ibuprofen. (2023). MedlinePlus. Retrieved August 28, 2024, from https://medlineplus.gov/druginfo/meds/a682159.html
Upaya Pencegahan DBD dengan 3M Plus. (2019). Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Retrieved August 28, 2024, from https://ayosehat.kemkes.go.id/upaya-pencegahan-dbd-dengan-3m-plus
Schmidt, C., & Schnierle, B. S. (2022). Chikungunya Vaccine Candidates: Current Landscape and Future Prospects. Drug design, development and therapy, 16, 3663–3673. https://doi.org/10.2147/DDDT.S366112
Chen, G. L., Coates, E. E., Plummer, S. H., Carter, C. A., Berkowitz, N., Conan-Cibotti, M., Cox, J. H., Beck, A., O’Callahan, M., Andrews, C., Gordon, I. J., Larkin, B., Lampley, R., Kaltovich, F., Gall, J., Carlton, K., Mendy, J., Haney, D., May, J., Bray, A., … VRC 704 Study Team (2020). Effect of a Chikungunya Virus-Like Particle Vaccine on Safety and Tolerability Outcomes: A Randomized Clinical Trial. JAMA, 323(14), 1369–1377. https://doi.org/10.1001/jama.2020.2477
Khanna, S., Jaiswal, K. S., & Gupta, B. (2017). Managing Rheumatoid Arthritis with Dietary Interventions. Frontiers in nutrition, 4, 52. https://doi.org/10.3389/fnut.2017.00052
Versi Terbaru
11/09/2024
Ditulis oleh Satria Aji Purwoko
Ditinjau secara medis oleh dr. Mikhael Yosia, BMedSci, PGCert, DTM&H.
Diperbarui oleh: Diah Ayu Lestari
Ditinjau secara medis oleh
dr. Mikhael Yosia, BMedSci, PGCert, DTM&H.
General Practitioner · Medicine Sans Frontières (MSF)