home

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

5 Jenis Bakteri yang Paling Sering Menyebabkan Keracunan Makanan

5 Jenis Bakteri yang Paling Sering Menyebabkan Keracunan Makanan

Banyak yang tidak menyadari bahwa makanan merupakan perantara penyebaran penyakit yang paling umum. Sayangnya, makanan yang terkontaminasi bakteri bisa tidak menunjukkan perubahan rasa, warna, dan aroma apapun. Begitu pula dengan gejala kontaminasi makanan yang sekilas mirip dengan sakit perut biasa. Makanya, gejala keracunan makanan sering tidak disadari benar. Padahal pada beberapa kasus, keracunan makanan dapat berujung kematian.

Jadi, bakteri apa saja yang bisa menyebabkan keracunan makanan? Jenis makanan apa saja yang mudah terkontaminasi?

Apa saja bakteri penyebab keracunan makanan yang paling umum?

1. Salmonella

Salmonella adalah kelompok bakteri yang paling sering menyebabkan diare karena keracunan makanan. Kontaminasi Salmonella diakibatkan karena kebersihan yang buruk serta pengolahan makanan yang tidak benar.

Beberapa makanan diketahui memiliki kandungan salmonella yang sangat tinggi, seperti telur, daging, serta daging ayam yang belum matang. Susu yang belum dipasteurisasi juga berisiko memiliki salmonella di dalamnya. Sayur dan buah-buahan, meski secara alami tidak mengandung Salmonella, namun dapat terkontaminasi jika tidak dicuci bersih.

Efek keracunan makanan dari salmonella dapat sangat parah bila terjadi pada ibu hamil, orang lanjut usia, anak-anak, dan orang-orang yang memiliki kekebalan tubuhnya rendah.

Cara mencegah: pastikan semua makanan Anda dimasak hingga matang sempurna. Cuci buah dan sayuran sebelum diolah. Hindari susu dan produk susu yang tidak dipasteurisasi.

2. Clostridium perfringens

Clostridium perfringens merupakan jenis bakteri yang sangat mudah dan cepat berkembang. Bayi, anak-anak, serta orang lanjut usia sangat rentan untuk terserang bakteri ini.

Biasanya, bakteri jenis ini baru akan menimbulkan gangguan kesehatan bila jumlahnya di dalam tubuh sangat banyak. Artinya, jika tes lab menyatakan bahwa penyebab diare atau sakit perut melilit Anda akibat bakteri ini, makanan yang Anda makan sebelumnya mengandung banyak Clostridium perfringens.

Gejala akan timbul 12 jam setelah keracunan makanan yang terkontaminasi Clostridium. Salah satu jenis Clostridium dapat menyebabkan botulisme, keracunan makanan yang mematikan.

Cara mencegah: Masak makanan dengan suhu yang sesuai, hindari memasak atau mengolah makanan dalam suhu 4-60 derajat celcius. Pastikan kalau Anda memasak, minimal suhu yang harus tercapai adalah 60 derajat celcius. Sementara, kalau ingin mendinginkan makanan, suhu ruangan atau lemari pendingin Anda harus kurang dari 4 derajat celcius.

3. Campylobacter

Campylobacter adalah bakteri penyebab kontaminasi makanan yang dapat menimbulkan diare. Sebagian besar, kontaminasi makanan ini terjadi akibat makanan tidak dimasak dengan benar. Mendinginkan atau membekukan makanan tidak membuat bakteri jenis ini hilang.

Cara mencegah: Pastikan kalau Anda sudah mencuci tangan sebelum mengolah makanan. Sebaiknya makanan dimasak hinga matang dan jangan mencuci daging mentah di bawah air yang mengalir. Bahan makanan yang perlu dicuci sebelum dimakan atau dimasak adalah sayur dan buah-buahan.

4. Staphylococcus aureus

Staphylococcus aureus sebenarnya tidak berbahaya. Bakteri jenis ini banyak ditemukan pada permukaan kulit, lubang hidung, serta bagian tenggorokan dalam tubuh manusia dan hewan. Namun lain ceritanya ketika bakteri sudah berpindah ke makanan. Kembang biaknya akan semakin pesat dan akhirnya menyebabkan infeksi. Gejala yang ditimbulkan jika mengalami infeksi ini adalah diare, nyeri dan kram perut, hingga mual dan muntah.

Makanan yang biasanya mengandung tinggi Staphylococcus aureus adalah makanan yang diolah langsung dengan tangan, misalnya saja salad, roti isi, dan berbagai produk kue dan roti.

Cara mencegah: cuci tangan dengan menggunakan air mengalir dan sabut sebelum Anda menyiapkan makanan. Jangan mengolah makanan atau pergi ke dapur jika Anda sedang mengalami infeksi mata atau hidung.

5. Escherichia coli (E. coli)

E.coli adalah kelompok bakteri yang memiliki beberapa jenis tipe kuman. Ada beberapa jenis E.coli yang dapat mengontaminasi makanan dan kemudian menimbulkan wabah keracunan makanan. Contoh makanan yang biasanya mengandung E.coli adalah makanan yang tidak matang.

Cara mencegahnya, jaga kebersihan dapur dan diri Anda ketika sedang mengolah makanan. Hindari kontaminasi silang saat mengolah dan memasak makanan, misalnya tidak menggunakan pisau dan talenan untuk daging dan sayuran secara bergantian. Pastikan juga semua makanan yang Anda konsumsi matang dengan sempurna.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

www.eatright.org. (2017). Most Common Foodborne Pathogens. [online] Available at: http://www.eatright.org/resource/homefoodsafety/safety-tips/food-poisoning/most-common-foodborne-pathogens  [Accessed 24 Nov. 2017].

Cdc.gov. (2017). Foodborne Germs and Illnesses | Food Safety | CDC. [online] Available at: https://www.cdc.gov/foodsafety/foodborne-germs.html  [Accessed 24 Nov. 2017].

Information, H., Diseases, D., Illnesses, F., Illnesses, F. and Center, T. (2017). Foodborne Illnesses | NIDDK. [online] National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases. Available at: https://www.niddk.nih.gov/health-information/digestive-diseases/foodborne-illnesses  [Accessed 24 Nov. 2017].

Foto Penulis
Ditinjau oleh dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh Nimas Mita Etika M
Tanggal diperbarui 03/02/2021
x