Apa keluhan Anda?

close
Tidak akurat
Susah dipahami
Yang lainnya

Waspadai Penyebab Cacar Air dan Berbagai Faktor Risikonya

Waspadai Penyebab Cacar Air dan Berbagai Faktor Risikonya

Cacar air lebih dikenal sebagai penyakit yang hanya dialami oleh anak-anak. Padahal, cacar air merupakan infeksi virus sehingga bisa dialami siapa saja. Namun memang, risiko mendapatkan penyakit ini akan lebih tinggi pada orang-orang yang belum pernah terinfeksi dan tidak mendapatkan vaksin cacar air. Lantas, apa penyebab cacar air? Yuk, pahami lebih dalam mengenai periode infeksi virus penyebab cacar air. Dengan begitu, Anda bisa mewaspadai kapan cacar air lebih berpotensi menularkan virusnya.

Mengenal virus penyebab cacar air

Penyebab utama cacar air adalah infeksi virus varicella-zoster (VZV). Virus ini sangat mudah menular dan bisa menyebar dengan cepat, terutama pada orang-orang yang belum pernah terkena penyakitnya atau belum mendapatkan vaksin.

Penularannya dapat terjadi secara langsung dari orang ke orang, seringnya melalui kontak kulit dengan luka cacar atau melalui droplet yang dikeluarkan ketika penderita bernapas, berbicara, bersin, atau batuk.

Sedangkan penularan tidak langsung terjadi bila seseorang menyentuh barang yang telah terkontaminasi oleh cairan dari penderita cacar.

Penularan dari orang yang terinfeksi mulai bisa berlangsung ketika gejala awal cacar air seperti demam muncul. Orang yang terinfeksi bisa terus menularkan virus sampai lenting mengering dan mengelupas dari kulit.

Berbahayakah virus ini? Infeksi virus penyebab cacar air pada anak relatif tidak menimbulkan gejala yang serius. Namun, cacar air pada orang dewasa bisa muncul lebih parah jika mereka belum pernah terinfeksi sama sekali. Komplikasi yang ditimbulkan pun lebih serius.

Menurut ulasan dari Institute for Quality and Efficiency in Health Care (IQWiG), infeksi virus penyebab penyakit dapat menyebabkan kelainan pada janin apabila ibu hamil terjangkit cacar air ketika usia kandungannya memasuki 6 minggu. Apabila tertular di masa akhir kehamilan, infeksi virus bisa membahayakan keselamatan kandungan.

Perkembangan infeksi virus penyebab cacar air

Penyakit ini termasuk self-limiting disease, yaitu infeksi virusnya dapat mereda dengan sendirinya. Dalam beberapa hari bintik merah akan berubah menjadi lenting kemudian mengering, dan tidak lagi menular.

Perubahan gejala cacar air dapat terlihat dalam tahapan perkembangan penyakitnya, seperti berikut ini:

1. Fase prodromal

Setelah masuk ke dalam tubuh, virus akan menginfeksi mukosa (selaput lendir) pada saluran pernapasan atau jaringan mata. Virus selanjutnya akan berpindah untuk berkembangbiak selama 2-4 hari di kelenjar getah bening yang masih berada pada saluran pernapasan.

Dari fase infeksi awal ini, virus akan menyebar ke dalam aliran darah dan menyebabkan timbulnya gejala awal cacar air seperti demam, kelelahan, dan sakit kepala. Peristiwa infeksi ini disebut dengan viremia primer yang akan berlangsung dalam 4-6 hari.

2. Fase viremia sekunder

Replikasi virus selanjutnya terjadi dalam organ tubuh dalam, yakni di hati dan limpa. Seperti yang dituliskan Medscape, kondisi ini diikuti dengan infeksi viremia sekunder yang berlangsung dalam waktu 14-16 hari. Virus penyebab cacar air akan masuk ke dalam lapisan kulit terluar yaitu epidermis, termasuk ke pembuluh darah yang berada di dalamnya.

Fase infeksi ini akan menghasilkan akumulasi atau penumpukan cairan di bawah permukaan kulit dan menghasilkan pembentukan lenting cacar atau vesikel. Ruam kulit yang semula berbentuk bintik merah kemudian melepuh terisi dengan cairan. Dalam fase infeksi ini, demam bisa terjadi walaupun tidak terlalu tinggi.

Bintik yang menjadi lenting akan menyebar ke seluruh bagian tubuh, mulai dari wajah, badan bagian depan, hingga tangan dan kaki. Infeksi virus penyebab cacar air di tahap ini juga akan membuat rasa gatal semakin kuat.

Kondisi ini bisa membuat penyakit jadi sangat menular. Menggaruk lenting cacar air dapat menyebabkan lenting pecah dan cairan yang berisi virus di dalamnya akan menyebar di udara.

Sebelum terbentuknya lenting di permukaan kulit, lepuhan juga bisa muncul di dalam membran mukus yang terdapat di dalam mulut. Lenting yang berada di dalam mulut bisa terasa sangat perih sehingga akan sulit untuk menelan makanan.

3. Fase pembentukan pustula

Selain menggaruk, lenting cacar juga bisa pecah akibat gesekan permukaan kulit dengan pakaian ataupun benda-benda lain.

Tidak hanya lebih berpotensi menyebarkan virus, lenting yang pecah juga dapat menghasilkan luka terbuka yang menjadi pintu masuk untuk bakteri dari luar menginfeksi kulit. Bekas cacar air akibat garukan bisa sulit dihilangkan.

Oleh sebab itu, usahakan sebisa mungkin lenting tidak tergesek.

Pada lenting yang belum pecah akan memasuki tahap infeksi virus penyakit ini selanjutnya. Dalam fase ini sistem imun tubuh akan bereaksi semakin aktif dalam melawan infeksi virus sehingga menyebabkan terbentuknya pustula. Lenting cacar akan mengempis dan terisi oleh sel-sel darah putih yang mati.

4. Fase umbilikasi

Dalam waktu empat hingga lima hari, pustula akan melalui proses umbilikasi yaitu dengan membentuk kerak dan keropeng di kulit. Fase infeksi virus penyebab cacar air ini juga rentan memicu terjadinya infeksi sekunder oleh bakteri karena ruam cacar akan membentuk luka terbuka.

Lantas, keropeng kulit pelan-pelan akan mengelupas dengan sendirinya. Tahap ini menandakan infeksi akhir dan kesembuhan penyakit cacar air.

Apa saja faktor-faktor risiko cacar air?

Orang yang pernah terinfeksi cacar air umumnya tidak akan terkena cacar air untuk kedua kalinya. Hal ini disebabkan tubuh telah membentuk antibodi terhadap virus penyebab cacar air, sehingga dapat mencegahnya menginfeksi.

Oleh sebab itu, risiko Anda untuk terkena cacar air akan lebih tinggi jika Anda belum pernah sakit cacar air sebelumnya atau belum melakukan vaksin. Beberapa kondisi lain yang dapat meningkatkan risiko seseorang terpapar virus penyebab cacar air di antaranya adalah:

  • Anak berusia di bawah 10 tahun. Terutama anak-anak yang belum mendapatkan vaksin cacar air dan belum pernah terinfeksi.
  • Wanita hamil yang belum pernah terinfeksi. Cacar air yang terjadi saat hamil juga bisa menyebabkan komplikasi baik pada ibu maupun bayi yang dikandung, untungnya hal ini jarang terjadi.
  • Beraktivitas penuh di tempat tertutup bersama orang yang terinfeksi. Misalnya bila Anda berkutat di rumah sakit atau di sekolah. Sirkulasi udara yang terbatas dalam ruangan yang tertutup dapat membuat virus lebih mudah menyebar dan menginfeksi orang lain.
  • Memiliki daya tahan tubuh yang lemah. Contohnya orang-orang yang memilki penyakit yang menyerang sistem imun seperti HIV, pasien kanker yang menjalani pengobatan kemoterapi, maupun pasien yang sedang mengonsumsi obat-obatan yang menekan kerja sistem imun.

Jika Anda termasuk ke dalam kelompok orang yang mengalami faktor risiko, Anda perlu segera melakukan vaksinasi cacar air sebagai cara efektif mencegah cacar air.

Verifying...


Pernah alami gangguan menstruasi?

Gabung bersama Komunitas Kesehatan Wanita dan dapatkan berbagai tips menarik di sini.


Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Chickenpox: Practice Essentials, Background, Pathophysiology. (2020). Retrieved 18 March 2020, from https://emedicine.medscape.com/article/1131785-overview#showall

Chickenpox – Symptoms and causes. (2020). Retrieved 18 March 2020, from https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/chickenpox/symptoms-causes/syc-20351282

Ayoade, F., & Kumar, S. (2019). Varicella Zoster (Chickenpox). Statpearls Publishing. Retrieved from https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK448191/

Overview, C. (2019). Chickenpox: Overview. Institute For Quality And Efficiency In Health Care (Iqwig). Retrieved from https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK279621/

What Are the Risk of Chickenpox During Pregnancy? (2020). National Health Service. Retrieved 29 September 2020, from https://www.nhs.uk/common-health-questions/pregnancy/what-are-the-risks-of-chickenpox-during-pregnancy/

Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Fidhia Kemala Diperbarui May 18, 2021
Ditinjau secara medis oleh dr. Tania Savitri