Novel Coronavirus, Virus Baru Pemicu Wabah Pneumonia di Tiongkok

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 18 Desember 2020 . Waktu baca 3 menit
Bagikan sekarang

Baca semua artikel berita seputar coronavirus (COVID-19) di sini.

Pada akhir tahun 2019, sebuah virus pneumonia misterius menyerang puluhan warga di kota Wuhan, Tiongkok. Virus baru tersebut membuat masyarakat di negara tersebut khawatir apakah wabah pneumonia seperti SARS tahun 2004 silam kembali merebak. Namanya novel coronavirus.

Bagaimana penjelasan soal virus tersebut dan apa bedanya dengan SARS yang dahulu menyebabkan ratusan orang meninggal dunia? Berikut ulasannya.

Jenis virus baru pemicu wabah pneumonia di Tiongkok

bronchopneumonia atau bronkopneumonia adalah

Menurut seorang ilmuwan terkemuka asal Tiongkok, Xu Jianguo, wabah pneumonia yang meresahkan masyarakat disebabkan oleh jenis virus baru yang termasuk kelompok coronavirus tipe 2019-nCoV. 

Sejauh ini terdapat laporan 44 kasus penyakit yang tidak diketahui penyebabnya, termasuk 11 kasus yang dianggap parah. Korban yang terinfeksi umumnya berasal dari pasar grosir makanan laut Huanan di Wuhan. 

Setelah diteliti lebih lanjut, terdapat 15 sampel yang terindikasi positif dari jenis baru dari coronavirus melalui sampel darah dan air liur. Penemuan ini pun diperkuat oleh pernyataan dari WHO yang mengkonfirmasi hal tersebut. 

COVID-19 Outbreak updates
Country: Indonesia
Data

951,651

Confirmed

772,790

Recovered

27,203

Death
Distribution Map

Namun, mereka mengingatkan bahwa masih diperlukan investigasi lebih lanjut untuk mengetahui sumber virus, cara penularan, tingkat infeksi, hingga cara mencegahnya. 

Untungnya, delapan dari 59 pasien telah pulih dan dipulangkan dari rumah sakit. Akan tetapi, terdapat tujuh dari pasien-pasien tersebut yang mengalami sakit parah dan menerima perawatan di karantina

karantina adalah

Akibat dari virus baru yang menyebabkan wabah pneumonia ini, pasar makanan tersebut ditutup untuk mencegah penyebaran virus. Tak hanya itu, pemerintah Tiongkok juga melakukan desinfeksi, pemantauan, dan pencegahan pada tempat-tempat umum, seperti stasiun, bandara, dan terminal bus.

Mereka mengimbau bagi para penumpang yang mengalami gejala pneumonia diharapkan untuk melapor kepada petugas agar dapat ditangani dengan cepat. 

Virus baru yang menyebabkan wabah pneumonia di Tiongkok ini memang belum teridentifikasi dengan jelas. Namun, tidak ada salahnya untuk tetap menjaga kebersihan tubuh dan menghindari tempat-tempat yang berisiko sebagai upaya pencegahan. 

Coronavirus, payung besar dari virus SARS

Pneumonia disebabkan bakteri penyebab batuk berdarah

Coronavirus merupakan jenis virus yang memengaruhi saluran pernapasan. Penyakit yang paling sering dialami oleh manusia akibat virus ini adalah pilek, pneumonia, SARS, hingga kesehatan usus Anda. 

Infeksi virus yang dapat menyebabkan wabah pneumonia ini sering terjadi selama musim dingin hingga awal musim semi. Biasanya, orang yang menderita flu akibat coronavirus dan sembuh, dapat tertular lagi sekitar 3-4 bulan kemudian. 

Hal ini dikarenakan antibodi coronavirus tidak bertahan lama dan hanya berlaku pada satu jenis saja. Sejauh ini, terdapat empat jenis coronavirus yang umum dialami oleh tubuh manusia, yaitu:

  • 229E (alpha coronavirus)
  • NL63 (alpha coronavirus)
  • OC43 (beta coronavirus)
  • HKU1 (beta coronavirus)

Jenis virus yang lebih jarang, namun berbahaya adalah MERS-CoV. Virus ini dapat menyebabkan MERS di Timur Tengah dan sindrom pernapasan akut yang parah, atau lebih dikenal SARS-CoV. 

Oleh karena itu, jenis virus baru yang menjadi dalang dari wabah pneumonia di Tiongkok tersebut sering dikaitkan dengan SARS. Namun, masih diperlukan penelitian lebih lanjut untuk mengetahui jenis virus tersebut.

Bantu dokter dan tenaga medis lain mendapatkan alat pelindung diri (APD) dan ventilator untuk melawan COVID-19 dengan berdonasi melalui tautan di bawah ini.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Was this article helpful for you ?
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Parosmia, Gejala Long COVID-19 Bikin Pasien Mencium Bau Tak Sedap

Pasien COVID-19 melaporkan gejala baru yang disebut parosmia, yakni mencium bau amis ikan dan beberapa bau tidak sedap lain yang tidak sesuai kenyataan.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
COVID-19, Penyakit Infeksi 11 Januari 2021 . Waktu baca 3 menit

Semua tentang Vaksin COVID-19: Keamanan, Efek Samping, dan Lainnya

Berikut beberapa informasi umum seputar vaksin COVID-19, keamanan, efek samping, dan pelaksanaan imunisasinya di Indonesia.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
COVID-19, Penyakit Infeksi 29 Desember 2020 . Waktu baca 9 menit

Vaksin COVID-19 Tidak Mencegah Penularan, Masyarakat Masih Harus Menerapkan 3M

Para ahli mengingatkan, berjalannya vaksinasi COVID-19 tidak serta merta mencegah penularan dan membuat bisa kembali hidup normal seperti sebelum pandemi.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
COVID-19, Penyakit Infeksi 29 Desember 2020 . Waktu baca 5 menit

Mengenal GeNose, Alat Deteksi COVID-19 dari Embusan Napas

UGM mengembangkan GeNose, teknologi untuk mendeteksi COVID-19 dengan cepat melalui embusan napas. Bagaimana cara kerjanya?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
COVID-19, Penyakit Infeksi 28 Desember 2020 . Waktu baca 5 menit

Direkomendasikan untuk Anda

vitamin pasien covid-19

Rekomendasi Vitamin untuk Pasien Covid-19

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 19 Januari 2021 . Waktu baca 3 menit
donor plasma konvalesen

Bagaimana Cara Donor Plasma Konvalesen Pasien COVID-19 Sembuh?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 15 Januari 2021 . Waktu baca 3 menit
jamu covid-19

Potensi Jamu dan Obat Tradisional dalam Penanganan COVID-19

Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 12 Januari 2021 . Waktu baca 5 menit
Keamanan Vaksin COVID-19

Perkembangan Uji Klinis Vaksin Sinovac di Indonesia

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 11 Januari 2021 . Waktu baca 6 menit