Bagaimana Faktor Usia Memengaruhi Tingkat Kematian atau Kesembuhan COVID-19?

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 31 Desember 2020 . Waktu baca 4 menit
Bagikan sekarang

Baca semua artikel tentang coronavirus (COVID-19) di sini.

Orang dari segala usia dapat meninggal karena COVID-19, tetapi semakin tua usia seseorang semakin tinggi risikonya. Menurut Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Amerika (CDC) mengatakan risiko keparahan gejala akibat COVID-19 semakin meningkat pada kelompok usia lanjut. 

Bagaimana usia mempengaruhi keparahan gejala COVID-19?

kelompok usia berisiko perburukan dan kematian covid-19

CDC mengatakan, orang berusia 50-an memiliki risiko keparahan gejala COVID-19 dibanding mereka yang berusia 40-an. Begitu pula orang berusia 60-an atau 70-an secara umum berisiko mengalami perburukan gejala. 

Sekitar 8 dari 10 kematian terkait COVID-19 di AS terjadi pada orang dewasa berusia 65 tahun keatas. Risiko gejala berat dan risiko kematian akibat infeksi coronavirus baru ini semakin meningkat seiring semakin lanjutnya usia seseorang. 

Jumlah kematian orang berusia 65-84 tahun diperkirakan mencapai 4-11 persen dari total kematian COVID-19 di AS, sementara usia 85 tahun ke atas mencapai 10-27 persen.

Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia bersama dengan Dinas Kesehatan DKI Jakarta mengamati data kematian pasien di Jakarta. Peneliti mengklasifikasikan usia dalam 5 kelompok yakni, 0-9 tahun, 10-19 tahun, 20-49 tahun, 50-69 tahun, dan lebih dari 70 tahun.

Hasilnya dari total 3.986 yang positif COVID-19, paling banyak berasal dari kelompok usia 20-49 tahun yakni sebesar 51,2 persen. Tapi kasus kematian terbanyak terjadi pada pasien dari kelompok usia 50-69 tahun. 

“Analisis berdasarkan kelompok usia menunjukkan perbedaan yang signifikan pada risiko kematian dengan lebih banyak pasien kelompok usia 50-69 tahun dan lebih tua dari 70 tahun yang meninggal,” tulis studi tersebut. 

Studi ini menegaskan temuan-temuan sebelumnya yang mengatakan, adanya peningkatan risiko kematian pada pasien COVID-19 usia 65 tahun ke atas. 

COVID-19 Outbreak updates
Country: Indonesia
Data

951,651

Confirmed

772,790

Recovered

27,203

Death
Distribution Map

Kenapa usia lanjut lebih berisiko mengalami perburukan gejala COVID-19?

keparahan dan risiko kematian covid-19 usia lanjut

Studi kolaborasi FKUI dan Dinkes DKI Jakarta ini menyebutkan beberapa kemungkinan alasan usia menjadi faktor risiko perburukan COVID-19 salah satunya adalah lemahnya respons imun.

Kemampuan sistem kekebalan tubuh untuk melawan patogen (mikroorganisme penyebab penyakit) menurun seiring bertambahnya usia. Kondisi ini membuat orang lanjut usia rentan mengalami gejala buruk akibat infeksi virus.

Banyaknya angka kematian COVID-19 pada kelompok usia lanjut juga kemungkinan disebabkan oleh fakta bahwa banyak orang usia lanjut yang memiliki penyakit kronis penyerta, misalnya hipertensi, penyakit jantung, atau diabetes. Infeksi COVID-19 dan penyakit penyerta berisiko memperburuk kondisi orang tersebut. 

Usia, penyakit penyerta, dan jenis kelamin menjadi faktor risiko keparahan gejala COVID-19 yang saling berkaitan. 

Pada hasil analisis data yang belum disesuaikan, diabetes menjadi salah satu penyakit penyerta yang meningkatkan risiko kematian pasien COVID-19. Tapi setelah disesuaikan dengan karakteristik lain seperti usia, jenis kelamin, dan penyakit penyerta lainnya, diabetes tidak menjadi faktor risiko yang paling signifikan. 

Diabetes sendiri tidak secara langsung berpengaruh pada keparahan infeksi COVID-19 hingga memperbesar risiko kematian. Penyakit ini memperparah gejala kondisi jika muncul bersamaan dengan faktor-faktor lain yang membuat keadaan semakin buruk seperti adanya penyakit hipertensi atau sudah berusia lanjut. 

Penelitian tentang karakteristik bagaimana COVID-19 menginfeksi tubuh manusia belum sepenuhnya diketahui dan masih terus diteliti. Banyak kasus-kasus anomali yang terjadi seperti kasus perburukan gejala COVID-19 hingga menyebabkan kematian pada orang muda sehat. Di sisi lain ada juga kakek berusia di atas 80 tahun yang berhasil sembuh dari COVID-19. 

Karena itu para ahli mengimbau semua kalangan untuk melakukan pencegahan penularan COVID-19 terutama di sekitar orang-orang berisiko tinggi.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Was this article helpful for you ?
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Perkembangan Uji Klinis Vaksin Sinovac di Indonesia

Vaksin Sinovac buatan China sedang diuji coba secara klinis pada ribuan orang di Bandung, Indonesia. Bagaimana perkembangannya?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
COVID-19, Penyakit Infeksi 11 Januari 2021 . Waktu baca 6 menit

Parosmia, Gejala Long COVID-19 Bikin Pasien Mencium Bau Tak Sedap

Pasien COVID-19 melaporkan gejala baru yang disebut parosmia, yakni mencium bau amis ikan dan beberapa bau tidak sedap lain yang tidak sesuai kenyataan.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
COVID-19, Penyakit Infeksi 11 Januari 2021 . Waktu baca 3 menit

Semua tentang Vaksin COVID-19: Keamanan, Efek Samping, dan Lainnya

Berikut beberapa informasi umum seputar vaksin COVID-19, keamanan, efek samping, dan pelaksanaan imunisasinya di Indonesia.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
COVID-19, Penyakit Infeksi 29 Desember 2020 . Waktu baca 9 menit

Vaksin COVID-19 Tidak Mencegah Penularan, Masyarakat Masih Harus Menerapkan 3M

Para ahli mengingatkan, berjalannya vaksinasi COVID-19 tidak serta merta mencegah penularan dan membuat bisa kembali hidup normal seperti sebelum pandemi.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
COVID-19, Penyakit Infeksi 29 Desember 2020 . Waktu baca 5 menit

Direkomendasikan untuk Anda

vitamin pasien covid-19

Rekomendasi Vitamin untuk Pasien Covid-19

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 19 Januari 2021 . Waktu baca 3 menit
donor plasma konvalesen

Bagaimana Cara Donor Plasma Konvalesen Pasien COVID-19 Sembuh?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 15 Januari 2021 . Waktu baca 3 menit
psikotik covid-19

Infeksi COVID-19 Bisa Menyebabkan Gejala Psikotik Seperti Delusi?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 15 Januari 2021 . Waktu baca 5 menit
jamu covid-19

Potensi Jamu dan Obat Tradisional dalam Penanganan COVID-19

Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 12 Januari 2021 . Waktu baca 5 menit