Terus pantau perkembangan soal COVID-19 di sini.

home

Apa keluhan Anda?

close
Tidak akurat
Susah dipahami
Yang lainnya

Mengapa Ada Orang Percaya pada Teori Konspirasi? Ini Penjelasan Ilmiahnya

Mengapa Ada Orang Percaya pada Teori Konspirasi? Ini Penjelasan Ilmiahnya

Baca semua artikel berita seputar coronavirus (COVID-19) di sini.

Semakin dalam menjelajah di internet, Anda akan menemukan semakin banyak teori konspirasi. Teori konspirasi tampaknya begitu sulit dipercaya, tapi ternyata masih banyak orang yang percaya bahwa bumi itu datar, vaksin menyebabkan autisme, atau pandemi COVID-19 adalah senjata biologis yang dibuat dengan sengaja.

Perkembangan teknologi memang ibarat pedang bermata dua. Anda dapat mengakses informasi yang tak terbatas. Di sisi lain, informasi yang belum jelas kebenarannya pun semakin banyak beredar. Sebenarnya, apa yang membuat seseorang percaya pada teori konspirasi?

Mengapa seseorang bisa percaya teori konspirasi?

berita hoax

Ada banyak alasan yang membuat seseorang atau kelompok mudah memercayai teori konspirasi. Menurut sebuah penelitian dalam jurnal Current Directions in Psychological Science, alasan-alasan tersebut dapat dirangkum menjadi tiga motif berikut:

1. Keinginan untuk paham dan mengetahui secara pasti

Manusia secara alamiah ingin memahami penjelasan dari suatu hal atau peristiwa. Ada orang yang ingin tahu bagaimana cara vaksin dibuat, dari mana asal virus penyebab COVID-19, seperti apa bentuk bumi yang sesungguhnya, dan masih banyak lagi.

Namun, orang cenderung mencari jawaban yang cepat, bukan jawaban dari penelitian ilmiah yang sulit dicerna dan bisa berubah bila ada penelitian baru. Jawaban cepat itu belum tentu benar, tapi memberikan rasa nyaman dan kesannya sangat menyeluruh.

Sebagai contoh, Anda mungkin merasa tidak nyaman saat tidak tahu apa pun tentang COVID-19. Berita yang simpang-siur membuat Anda kian bingung dan was-was. Pada saat inilah, teori konspirasi muncul untuk menghilangkan rasa tidak nyaman tersebut.

Anda awalnya akan mencari informasi dari internet, buku, atau siaran yang mendukung teori tersebut. Lambat laun, teori ini pun membekas dalam pikiran Anda. Meskipun tidak benar, setidaknya Anda kini mengetahui sesuatu yang lebih pasti.

Padahal, sesuatu yang pasti tersebut mungkin saja membuat Anda semakin keliru. Jika tidak dibarengi dengan informasi dari sumber yang tepercaya, Anda mungkin tidak akan sadar bahwa Anda percaya pada teori konspirasi.

2. Keinginan untuk memegang kendali dan merasa aman

Selain senang bertanya, manusia juga senang memegang kendali atas hidupnya. Inilah yang membuat Anda merasa aman, stabil, dan tenang menjalani kehidupan sehari-hari. Pada kasus ini, kendali yang Anda cari berbentuk informasi.

Teori konspirasi membuat orang-orang yang memercayainya merasa aman dan punya kendali. Fenomena ini biasanya lebih kentara ketika teori konspirasi tersebut berkaitan dengan hal-hal yang mengancam kesejahteraan diri.

Sebagai gambaran, jika pemanasan global disebabkan oleh kegiatan manusia, artinya Anda harus mengubah gaya hidup untuk mencegahnya semakin parah. Bagi beberapa orang, perubahan ini mungkin terasa sulit, tidak nyaman, dan merepotkan.

Akan tetapi, Anda tak perlu mengubah gaya hidup bila pemanasan global adalah hoaks yang dikarang para elit politik penguasa dunia. Keyakinan ini memberikan rasa aman dan kendali atas hidup. Akhirnya, banyak orang memilih percaya pada hoaks atau teori konspirasi.

cemas covid-19

3. Keinginan untuk terlihat positif

cara agar terlihat pintar

Penelitian menunjukkan bahwa orang yang merasa terpinggirkan atau tidak dianggap cenderung percaya pada teori konspirasi. Ini disebabkan karena mereka ingin memiliki peran dalam masyarakat dan ingin terlihat positif bagi orang lain.

Citra positif seseorang biasanya berasal dari perannya, entah dalam bentuk pekerjaan, hubungan sosial, dan lain-lain. Ketika Anda tahu bahwa Anda bisa memberikan sesuatu (termasuk informasi) kepada orang lain, Anda merasa lebih bahagia dan berguna.

Sebaliknya, Anda tidak merasakan ini bila opini Anda tidak pernah didengar, misalnya karena Anda tidak bekerja atau dianggap tidak tahu apa-apa. Ketika Anda menemukan teori konspirasi dan menyebarkannya, Anda merasa memiliki pengetahuan baru.

Anda pun menggali lebih dalam tentang teori konspirasi yang Anda temukan, contohnya teori bahwa bumi itu datar. Namun, Anda tidak mengimbanginya dengan fakta-fakta dari sumber ilmiah karena Anda sudah telanjur percaya pada teori konspirasi tersebut.

Begini Efek Pandemi COVID-19 Terhadap Lingkungan Sekitar

Pada dasarnya, orang-orang meyakini teori konspirasi karena mereka ingin memahami dunia, merasa aman dan punya kendali, serta memiliki citra diri yang baik. Mereka ingin mencari kebenaran, seperti halnya ilmuwan dengan pertanyaan-pertanyaan mereka.

Bedanya, penganut teori konspirasi hanya melihat suatu hal atau kejadian dari sisi yang ia yakini. Padahal, ilmu pengetahuan terus berkembang. Guna mencari kebenaran yang sesungguhnya, manusia tentu harus terus belajar hal baru dari waktu ke waktu.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Why Do People Believe in Conspiracy Theories?. (2020). Retrieved 4 May 2020, from https://www.psychologytoday.com/intl/blog/talking-apes/201801/why-do-people-believe-in-conspiracy-theories

Douglas, K., Sutton, R., & Cichocka, A. (2017). The Psychology of Conspiracy Theories. Current Directions In Psychological Science, 26(6), 538-542. doi: 10.1177/0963721417718261

A psychologist explains why people cling to conspiracy theories during uncertainty and after traumatic events. (2020). Retrieved 4 May 2020, from https://www.businessinsider.com/psychologist-explains-why-people-believe-conspiracy-theories-during-uncertain-times-2020-4?IR=T 


Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Diah Ayu Lestari Diperbarui 31/03/2021
Ditinjau secara medis oleh dr. Patricia Lukas Goentoro