home
close

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

Jangan Mau Ditipu! Ini Alasan Orang Mudah Percaya Berita Hoax

Jangan Mau Ditipu! Ini Alasan Orang Mudah Percaya Berita Hoax

Perkembangan teknologi dan komunikasi harusnya menjadi batu loncatan bagi masyarakat. Namun, bukannya semakin maju, pengguna Internet justru semakin dibuat resah karena munculnya isu-isu yang ternyata hanya kebohongan belaka (hoax, dibaca hoks). Berita hoax tak akan jadi masalah kalau orang-orang tidak mudah percaya dan menyebarkannya. Sayangnya, banyak sekali pengguna Internet yang mudah terjebak hoax. Bagaimana ini bisa terjadi? Simak penjelasannya berikut ini!

Mengapa orang mudah percaya berita hoax?

Menurut para pakar psikologi dan ilmu saraf, setiap orang punya kecenderungan alami untuk memercayai informasi yang mudah dicerna. Hal ini dibuktikan dari hasil analisis aktivitas otak dengan alat pindai fMRI. Dari pemindaian tersebut, diketahui bahwa otak akan melepaskan hormon dopamin setiap kali Anda berhasil memahami fakta atau pernyataan tertentu. Dopamin bertanggung jawab untuk membuat Anda merasa positif, bahagia, dan nyaman.

Sementara ketika menerima informasi yang menjelimet, justru bagian otak yang mengatur rasa sakit dan muak yang lebih aktif. Jadi tanpa sadar, otak manusia memang lebih menyukai hal yang sederhana dan mudah dipahami, bukan berita-berita yang harus dipikirkan dulu.

Memahami bias konfirmasi

Di samping reaksi alamiah otak terhadap berita bohong, ada alasan lain mengapa Anda gampang percaya isu-isu yang beredar. Setiap orang mungkin menganggap dirinya cukup pintar dan kritis saat menyaring informasi. Namun, secara tak sadar sebenarnya setiap orang memiliki bias konfirmasi.

Dalam ilmu kognitif dan psikologi, bias konfirmasi adalah kecenderungan untuk mencari atau menafsirkan berita yang sesuai dengan nilai-nilai yang sudah dimiliki seseorang. Sebagai contoh, Anda percaya anak sulung pasti lebih cerdas daripada anak bungsu. Karena sudah meyakini nilai ini, ketika bertemu dengan seorang anak sulung, Anda akan mencari bukti dan pembenaran (konfirmasi) atas keyakinan tersebut. Anda pun mengabaikan fakta dan kejadian nyata di mana anak bungsu malah lebih cerdas dan sukses daripada kakak-kakaknya.

Bias konfirmasi inilah yang mengaburkan pikiran saat menerima informasi yang beredar melalui situs berita, media sosial, atau aplikasi chatting. Misalnya berita hoax soal adanya simbol palu arit di rupiah edisi baru. Mereka yang terjebak hoax ini sebenarnya sudah punya keyakinan bahwa ada gerakan tertentu yang ingin membangkitkan komunisme di Indonesia. Maka, ketika ada isu simbol palu arit di rupiah baru yang seolah membenarkan (mengonfirmasi) keyakinan tersebut, mereka pun akan percaya begitu saja.

Cara menyaring dan menghindari berita hoax

Dengan cara-cara berikut ini, Anda bisa mencegah jebakan berita-berita bohong yang disebarkan di Internet.

1. Baca dulu beritanya

Untuk menjebak pembaca, situs berita atau konten di media sosial sering memakai judul yang heboh dan memancing emosi. Padahal ketika dibaca isinya dari awal sampai akhir, beritanya tidak masuk akal atau mengada-ada. Selalu baca beritanya sampai habis, terutama soal isu-isu hangat yang sedang ramai diperbincangkan. Selain itu, jangan sembarangan membagikan (sharing) berita yang belum Anda baca isinya.

2. Cari tahu sumbernya

Biasakan untuk mencari tahu sumber dan asal beritanya. Kadang, penyebar isu bahkan berani mengarang nama sumber ahli atau lembaga tertentu supaya beritanya terdengar asli. Pastikan informasi yang Anda dapatkan ada sumber resminya, misalnya dari badan pemerintah atau kantor berita terpercaya.

3. Kenali ciri-ciri berita hoax

Ciri hoax yang pertama adalah isunya begitu menggemparkan dan memicu emosi tertentu, misalnya resah atau jengkel. Kedua, beritanya masih simpang siur. Belum ada sumber resmi yang angkat bicara atau mengonfirmasikan kebenarannya. Selain itu, biasanya tak ada penjelasan yang runut atau masuk akal. Anda mungkin hanya dapat informasi soal apa yang telah terjadi, bukan kronologi kejadian atau penyebab terjadinya suatu hal secara logis.

Ciri ketiga adalah hoax lebih banyak disebarkan di media sosial daripada di stasiun televisi, situs berita, atau kantor berita resmi.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Why Do We Fall for Fake News? http://www.livescience.com/57151-why-we-fall-for-fake-news.html Diakses pada 24 Maret 2017.

What is a Confirmation Bias? Examples and Observations. https://www.verywell.com/what-is-a-confirmation-bias-2795024 Diakses pada 24 Maret 2017.

Why People Fall for Dumb Internet Hoaxes. https://www.washingtonpost.com/news/the-intersect/wp/2014/09/12/why-people-fall-for-dumb-internet-hoaxes/?utm_term=.e9d428ba3303 Diakses pada 24 Maret 2017.

4 reasons why people ignore facts and believe fake news. http://www.businessinsider.com/why-do-people-believe-fake-news-2017-3?IR=T&r=US&IR=T Diakses pada 24 Maret 2017.

Foto Penulis
Ditulis oleh Irene Anindyaputri Diperbarui 09/12/2020
Ditinjau oleh dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
x