Terus pantau perkembangan soal COVID-19 di sini.

home

Apa keluhan Anda?

close
Tidak akurat
Susah dipahami
Yang lainnya

Mengenal Obat Molnupiravir untuk Mengatasi Gejala COVID-19

Mengenal Obat Molnupiravir untuk Mengatasi Gejala COVID-19

COVID-19 masih mewabah dan kasusnya masih bertambah setiap harinya. Sampai saat ini, belum ada obat yang secara pasti dapat menyembuhkan COVID-19. Namun, pada awal Oktober, merek dagang Merck melaporkan obat baru bernama Molnupiravir yang digadang-gadang dapat mencegah gejala parah akibat COVID-19. Seperti apa obatnya?

Apa itu obat Molnupiravir?

Molnupiravir merupakan obat yang termasuk dalam kelas antivirus yang disebut ribonukleosida mutagenik. Obat ini berupa pil atau tablet yang harus digunakan secara oral.

Molnupiravir bekerja dengan mengubah materi genetik virus untuk mencegah virus memperbanyak diri. Virus SARS-CoV-2 menggunakan RNA sebagai materi genetiknya. Nah, stuktur obat molnupiravir menyerupai nukleosida atau blok bangunan kimia yang digunakan untuk membuat RNA virus.

Ketika memasuki aliran darah, obat akan memasukkan dirinya ke dalam RNA virus saat sedang disintesis. Sintesis adalah tahapan pembelahan materi genetik virus menggunakan bahan utama dari materi genetik sel inang.

Di dalam sel inang, molnupiravir diubah menjadi molnupiravir trifosfat. Ketika virus mencoba untuk bereplikasi, molnupiravir yang sudah masuk ke dalam RNA virus akan menyebabkan mutasi.

Mutasi obat ini akan menghentikan virus dari proses pembelahan diri. Ketika RNA diubah menjadi protein virus, protein ini sudah mengandung terlalu banyak mutasi sehingga virus tidak dapat bereplikasi. Ini membuat jumlah virus dalam tubuh tetap rendah dan mengurangi keparahan penyakit.

Bila telah disetujui oleh Food and Drug Administration, maka Mulnopiravir akan menjadi obat oral pertama untuk mengobati COVID-19.

Bagaimana efektivitas Molnupiravir dalam mengatasi gejala COVID-19?

Merck selaku perusahaan farmasi yang sedang mengembangkan Molnupiravir telah melakukan uji coba skala kecil untuk mengetahui efektivitas obat ini dalam meringankan gejala COVID-19.

Dalam uji coba fase 3, para peneliti memberikan molnupiravir dan obat plasebo kepada 775 peserta yang telah dinyatakan positif terinfeksi SARS-CoV-2. Peserta mengalami gejala ringan hingga sedang.

Setiap peserta memiliki setidaknya satu faktor risiko terhadap COVID-19 yang parah tetapi belum pernah dirawat di rumah sakit. Faktor risiko tersebut termasuk obesitas, diabetes, penyakit jantung, dan berusia di atas 60 tahun.

Peserta terbagi menjadi dua kelompok, satu yang menerima molnupiravir dan satu lagi yang menerima obat plasebo. Peserta harus meminum kapsul tersebut dua kali sehari selama lima hari.

Dari 385 pasien yang menggunakan molnupiravir, terdapat 28 peserta yang dirawat di rumah sakit. Sedangkan dari kelompok yang diberi obat plasebo, ada 53 orang yang harus dirawat di rumah sakit.

Delapan orang dari peserta kelompok plasebo meninggal, sementara semua orang yang menerima Molnupiravir masih hidup pada akhir masa studi 29 hari kemudian.

Selain itu, percobaan yang dilakukan oleh Ridgeback Therapeutics juga memperlihatkan hasil yang menjanjikan.

Di antara 202 peserta, jumlah virus pada tubuh peserta yang diberikan dosis 800 mg Molnupiravir secara signifikan berjumlah lebih rendah, yaitu 1,9 persen bila dibandingkan dengan peserta yang diberi obat plasebo (16,7%).

Apakah ada efek samping yang terjadi?

Masih ada kekhawatiran bahwa cara kerja molnupiravir yang dapat mengganggu replikasi RNA virus dapat memberikan efek yang serupa pada DNA atau RNA manusia.

Namun, data dari penelitian di laboratorium tidak menunjukkan bahwa Molnupiravir dapat menyebabkan mutasi pada manusia.

Beberapa obat antivirus yang telah disetujui dan digunakan secara luas seperti asiklovir dan obat-obatan untuk infeksi virus herpes dan HIV juga bekerja untuk menghambat replikasi DNA atau RNA virus. Jadi, pengguna tidak perlu terlalu cemas akan hal ini.

Berdasarkan percobaan yang dirilis oleh perusahaan, obat Molnupiravir dapat dikatakan cukup aman. Tidak ada efek samping yang serius pada peserta percobaan.

Meski demikian, obat ini masih memerlukan evaluasi keamanan lebih lanjut dari FDA. Ditambah lagi, efeknya juga belum diketahui aman atau tidak untuk ibu hamil. Sebab, penelitian tidak menguji obat ini pada ibu hamil yang menderita COVID-19.

Para peneliti juga meminta peserta pria dalam uji coba untuk tidak melakukan hubungan seks tanpa kondom dengan wanita selama seminggu setelah menjalani pengobatan dengan Molnupiravir.

Pemasaran obat Molnupiravir secara global

Mengetahui potensinya untuk mengatasi gejala COVID-19 dan kemudahan dalam penggunaan Molnupiravir, banyak negara yang tertarik untuk membeli obat ini, termasuk Indonesia.

Namun hingga saat ini belum diketahui dengan pasti apakah Molnupiravir akan dapat diakses di seluruh dunia. Selain masalah perizinan, masalah harga juga harus menjadi pertimbangan.

Amerika Serikat telah setuju untuk membeli Molnupiravir di harga US$ 700 per kursus. Meski harga ini terbilang jauh lebih murah daripada harga obat lain seperti Remdesivir, harga ini mungkin masih tergolong mahal untuk sebagian besar negara lainnya.

Dilansir oleh Kompas, Menteri Kesehatan Budi Gunadi mengatakan bahwa Indonesia sendiri sudah menghubungi pabrik obat-obatan baru untuk COVID-19 termasuk Molnupiravir. Namun, obat ini masih harus melalui tinjauan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).

Lawan COVID-19 bersama!

Ikuti informasi terbaru dan cerita para pejuang COVID-19 di sekitar kita. Ayo gabung komunitas sekarang!


Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Fischer, W., Eron, J. J., Holman, W., Cohen, M. S., et al. (2021). Molnupiravir, an Oral Antiviral Treatment for COVID-19. medRxiv : the preprint server for health sciences, 2021.06.17.21258639. https://doi.org/10.1101/2021.06.17.21258639. Retrieved 15 October 2021.

9 Things You Need To Know About the New COVID-19 Pill. (2021). Yale Medicine. Retrieved 15 October 2021, from https://www.yalemedicine.org/news/9-things-to-know-about-covid-pill

Willyard, C. (2021). How antiviral pill molnupiravir shot ahead in the COVID drug hunt. Nature. doi: 10.1038/d41586-021-02783-1. Retrieved 15 October 2021.

Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Winona Katyusha Diperbarui 4 minggu lalu
Ditinjau secara medis oleh dr. Mikhael Yosia, BMedSci, PGCert, DTM&H.