Terus pantau perkembangan soal COVID-19 di sini.

home

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

Ivermectin Sebagai Obat COVID-19, Benarkah Berkhasiat?

Ivermectin Sebagai Obat COVID-19, Benarkah Berkhasiat?

Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) mengeluarkan izin uji klinis obat cacing ivermectin untuk penanganan pasien COVID-19 di 8 rumah sakit di Indonesia. Penggunaan ivermectin ini sejalan dengan rekomendasi WHO yang telah mengeluarkan izin ivermectin hanya untuk uji klinis, bukan penggunaan secara bebas. Bagaimana perkembangan pengujian ivermectin pada pasien COVID-19?

BPOM setujui uji klinis ivermectin sebagai obat COVID-19

Ivermectin Sebagai Obat COVID-19, Bagaimana Penelitiannya?

Ivermectin adalah obat anti-parasit untuk mengobati infeksi akibat parasit seperti cacing gelang atau tungau. Obat ini termasuk golongan anthelmintic yang mampu melumpuhkan atau mematikan cacing sehingga bisa dikeluarkan bersama kotoran.

Izin edar ivermectin di Indonesia adalah sebagai obat cacing dengan label obat keras yang hanya bisa didapatkan dengan resep dokter. Di beberapa negara, obat cacing ini juga digunakan sebagai obat untuk mencegah cacingan (heartworm) pada hewan ternak seperti babi.

Food and Drug Administration (FDA), badan serupa BPOM di Amerika Serikat, menyetujui penggunaan obat cacing ivermectin pada manusia dan hewan. Pada manusia, obat ivermectin jenis tablet diizinkan untuk pengobatan infeksi cacing parasit di usus dan di mata. Sementara bentuk topikal disetujui untuk pengobatan infeksi parasit eksternal seperti kutu rambut atau masalah kulit seperti rosacea.

Sedangkan pada hewan, obat ivermectin digunakan untuk pencegahan penyakit heartworm pada beberapa spesies hewan kecil dan pengobatan parasit eksternal.

Saat ini, ivermectin sedang diteliti sebagai calon obat dalam mengobati dan mencegah COVID-19. Beberapa negara sedang melakukan uji klinis ivermectin dalam penanganan COVID-19, termasuk Indonesia.

Pada Senin (28/6), BPOM mengeluarkan izin obat ivermectin untuk uji klinis pada pasien COVID-19 di Indonesia. Uji klinis akan dilakukan di 8 rumah sakit yakni RSPI Sulianti Saroso, RS Persahabatan, RSPAD Gatot Subroto, RSDC Wisma Atlet, RS Sutoyo, RSAU Dr. Esnawan Antariksa, RSUD Dr. Soedarso Pontianak, dan RS Adam Malik Medan.

“Data-data epidemiologi dan juga publikasi global telah menunjukkan bahwa Ivermectin ini juga digunakan untuk penanggulangan COVID-19. WHO juga merekomendasikan bahwa ivermectine dapat digunakan dalam kerangka untuk uji klinis,” kata Kepala BPOM Penny Lukito.

Izin yang dikeluarkan adalah Persetujuan Pelaksanaan Uji Klinik (PPUK). Artinya obat ini bisa digunakan pada pasien COVID-19 hanya sebatas untuk uji klinis bukan untuk digunakan secara luas untuk pengobatan COVID-19 apalagi dibeli bebas.

Dalam klarifikasinya, BPOM menegaskan bahwa ivermectin merupakan golongan obat keras yang penggunaannya harus berdasar resep dan pengawasan dokter. Di bawah ini merupakan poin-poin klarifikasi yang disampaikan BPOM.

  1. Belum ada cukup bukti khasiat ivermectin untuk mencegah atau mengobati COVID-19.
  2. Ivermectin merupakan obat keras yang pembeliannya harus dengan resep dokter dan penggunaannya di bawah pengawasan dokter.
  3. Ivermectin hanya boleh digunakan atas persetujuan dan di bawah pengawasan dokter.
  4. Ivermectin yang digunakan tanpa indikasi medis dan tanpa resep dokter dalam jangka waktu panjang dapat mengakibatkan efek samping, antara lain nyeri otot/sendi, ruam kulit, demam, pusing, sembelit, diare, mengantuk, dan Sindrom Stevens-Johnson.
  5. Produksi Ivermectin untuk pengobatan pada manusia di Indonesia masih baru. Untuk itu, BPOM memberikan batas waktu kedaluwarsa selama 6 bulan terhadap obat tersebut.

Badan pengawas obat Eropa (EMA), FDA, dan WHO juga membatasi penggunaan ivermectin pada pasien COVID-19 hanya dalam cakupan uji klinis.

Negara-negara yang sudah mengeluarkan izin penggunaan darurat

ivermectin covid-19

Uji klinis ivermectin pada pasien COVID-19 dilakukan karena obat anti-parasit ini memiliki kandungan antivirus dan antiinflamasi. Beberapa studi terbaru berskala kecil menyatakan obat ini berpotensi membunuh SARS-CoV-2 penyebab COVID-19.

Panel ahli WHO telah meninjau data yang dikumpulkan dari 16 uji coba berbeda dari total 2407 pasien. Mereka menemukan bahwa bukti obat ivermectin dapat mengurangi tingkat kematian, rawat inap, dan waktu penyembuhan pasien COVID-19 yang dianggap memiliki “very low ​certainty” karena keterbatasan data.

Penelitian yang telah dilakukan dianggap masih dalam skala kecil dan terbatas. Karena itu WHO sampai saat ini hanya mengizinkan penggunaan ivermectin pada COVID-19 dalam skala uji klinis.

Meski begitu, sejumlah negara telah mengeluarkan izin penggunaan darurat ivermectin untuk pengobatan COVID-19. Beberapa negara di Eropa yang telah mencoba menggunakan ivermectin yakni Yunani, Bulgaria, Macedonia, Slovakia, dan Republik Ceko. Slovakia merupakan negara Uni Eropa pertama yang mengeluarkan izin penggunaan darurat ivermectin untuk profilaksis dan pengobatan COVID-19.

Selain sejumlah negara di Eropa, India, Afrika Selatan, Peru, serta Bolivia juga telah menggunakan obat ini untuk pengobatan COVID-19.

Namun hingga saat ini belum ada hasil uji klinis atau penelitian penggunaan ivermectin yang membuktikan keampuhan obat cacing tersebut dalam melawan virus SARS-CoV-2 penyebab COVID-19. Oleh karena itu penggunaan ivermectin harus dengan resep dan dalam pengawasan dokter karena memiliki risiko efek samping.

Lawan COVID-19 bersama!

Ikuti informasi terbaru dan cerita para pejuang COVID-19 di sekitar kita. Ayo gabung komunitas sekarang!


Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber
Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Ulfa Rahayu Diperbarui 06/07/2021
Ditinjau secara medis oleh dr. Andreas Wilson Setiawan
x