Terus pantau perkembangan soal COVID-19 di sini.

home

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

Pandemic Fatigue, Kondisi Lelah Menghadapi Ketidakpastian Pandemi. Bagaimana Mengatasinya?

Pandemic Fatigue, Kondisi Lelah Menghadapi Ketidakpastian Pandemi. Bagaimana Mengatasinya?

Baca semua artikel tentang coronavirus (COVID-19) di sini.

Belum ada tanda pandemi akan berakhir dalam waktu dekat, karena itu masyarakat masih diminta untuk terus melakukan rutinitas pencegahan penularan COVID-19. Mengurangi aktivitas di luar rumah, memakai masker, menjaga jarak, dan sering-sering mencuci tangan harus menjadi kebiasaan baru. Berbulan-bulan hidup di tengah pandemi dengan segala keterbatasan dan ketidakpastian kapan wabah ini berakhir membuat banyak orang jemu dan lelah atau saat ini dikenal dengan pandemic fatigue.

Apa itu pandemic fatigue dan bagaimana mengatasinya?

pandemic fatigue dan ketidakpastian kondisi wabah COVID-19 dan protokol kesehatan

Masih ingat masa-masa awal pandemi COVID-19 masuk ke Indonesia? Kewaspadaan tinggi pada sebagian besar orang membuat mereka mengikuti arahan untuk membatasi kegiatan di luar rumah. Banyak kafe dan restoran mengubah bisnisnya ke layanan pesan antar, sejumlah calon pasangan pengantin pun rela menunda pesta pernikahan mereka.

Memasuki libur idul fitri, pemerintah memotong cuti bersama dan memindahkannya di akhir tahun, dengan harapan di akhir tahun pandemi telah bisa dikendalikan. Sebagian besar masih memiliki semangat tinggi untuk mencegah penularan, ditambah adanya harapan bahwa pandemi akan segera berakhir.

Tapi memasuki penghujung tahun, dengan segala upaya yang dilakukan, penyebaran COVID-19 belum bisa dikendalikan. Per Kamis (19/11) sudah ada total 478.720 kasus di mana 76.347 masih berstatus aktif. Pertambahan kasus setiap harinya masih berada di angka ribuan, bahkan Sabtu lalu tembus 5.000 kasus baru dalam satu hari.

Berbulan-bulan menghadapi kondisi ini, membuat banyak orang merasa lelah dan tidak lagi termotivasi untuk tetap mengikuti protokol pencegahan COVID-19.

Pandemic fatigue membuat masyarakat cenderung untuk mengambil risiko berbahaya tertular virus. Banyak orang berbondong-bondong pergi ke mal atau berpesta. Mereka berusaha melakukan aktivitas seperti sebelum pandemi, entah karena keinginan, kebutuhan, atau bosan.

“Di awal krisis, kebanyakan orang dapat memanfaatkan lonjakan kemampuan, yakni kumpulan kemampuan adaptasi fisik dan mental untuk bertahan hidup jangka pendek dalam situasi sangat menegangkan. Namun, ketika keadaan mengerikan berlarut-larut, mereka harus mengadopsi cara adaptasi berbeda karena itu kelelahan dan demotivasi mungkin terjadi,” tulis WHO di situs resminya.

Lelah atau menurunnya motivasi untuk mengikuti protokol kesehatan pencegahan COVID-19 ini muncul secara bertahap dan semakin meningkat dari waktu ke waktu. Kondisi ini perlahan timbul karena dipengaruhi oleh sejumlah emosi, pengalaman, dan persepsi.

Dalam catatan organisasi kesehatan dunia (WHO), pandemic fatigue dilaporkan terjadi karena memiliki persepsi risiko bahaya COVID-19 yang rendah. Efektivitas imbauan untuk menjalankan protokol 3M perlahan menurun karena berbagai faktor. Oleh karena itu, pemerintah membutuhkan pendekatan lain yang lebih menyegarkan.

Tantangan mengatur pola hidup baru berkelanjutan

pandemic fatigue, jemu dengan masker dan menjaga jarak

Saat pandemi terus berlanjut, dapat dimengerti bahwa beberapa orang mulai lelah untuk terus menerus menerapkan protokol kesehatan pencegahan virus corona. Tapi bukan berarti tidak ada jalan untuk kembali termotivasi agar tetap waspada.

“Mencoba untuk mematuhi sesuatu yang ekstra selalu merupakan tantangan berat,” kata Carisa Parrish, psikolog klinis John Hopkins Medicine.

Menurut Parrish, menerapkan perubahan perilaku secara berkelanjutan itu sulit, terutama ketika tidak ada keluarga atau orang di sekitar Anda yang tertular COVID-19. Banyak orang mungkin merasa tak perlu menerapkan kebiasaan baru berdasarkan risiko yang tampaknya tidak nyata.

“Sayangnya, beberapa orang merasa sedikit senang karena melakukan sesuatu yang berisiko dan melarikan diri dari konsekuensi,” ungkap Parrish.

Oleh karena itu menurutnya komitmen untuk tetap menjaga diri demi kesehatan pribadi dan orang lain menjadi kunci utama. Sebisa mungkin tetap terinformasi dan fleksibel dalam menghadapi perubahan dan imbauan kesehatan, menjadikan protokol pencegahan sebagai kebiasaan sehari-hari, dan selalu siap sedia masker serta pencuci tangan harus terus dibiasakan.

Selain itu, memahami risiko dan konsekuensi dari berbagai kisah orang lain juga bisa menumbuhkan kesadaran dan perspektif lain dalam memahami wabah COVID-19 ini. “Menerima realita baru dan berkomitmen tetap beradaptasi dengan protokol kesehatan dapat mencegah penularan COVID-19 atau wabah lain di masa mendatang,” pungkas Parrish.

Lawan COVID-19 bersama!

Ikuti informasi terbaru dan cerita para pejuang COVID-19 di sekitar kita. Ayo gabung komunitas sekarang!


Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber
Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Ulfa Rahayu Diperbarui 31/12/2020
Ditinjau secara medis oleh dr. Andreas Wilson Setiawan
x