Mengenal Badai Sitokin, Kondisi Fatal yang Mengintai Pasien COVID-19

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 18 Desember 2020 . Waktu baca 5 menit
Bagikan sekarang

Baca semua artikel tentang coronavirus (COVID-19) di sini.

Dampak COVID-19 memang lebih parah pada lansia, terutama bagi mereka yang telah menderita penyakit penyerta seperti diabetes, penyakit jantung, dan penyakit paru. Akan tetapi, tidak sedikit pula laporan kematian akibat COVID-19 pada pasien berusia 20 atau 30-an. Para ilmuwan menduga penyebab kematian COVID-19 teresbut berkaitan dengan badai sitokin.

Sitokin merupakan salah satu bagian dari sistem kekebalan tubuh. Sitokin seharusnya berfungsi melindungi tubuh dari infeksi. Namun, pada kondisi yang salah, keberadaan sitokin justru dapat membahayakan jiwa. Apa itu sitokin dan bagaimana kaitannya dengan COVID-19? Berikut penjelasan selengkapnya.

Fungsi sitokin sebelum terjadi badai sitokin pada infeksi COVID-19

Sumber: The Conversation

Sistem kekebalan tubuh terdiri dari banyak komponen. Ada sel-sel darah putih, antibodi, dan sebagainya. Tiap komponen bekerja sama untuk mengenali patogen (bibit penyakit), membunuhnya, dan membentuk pertahanan tubuh jangka panjang.

Agar dapat menjalankan fungsinya, tiap komponen pada sistem kekebalan tubuh harus berkomunikasi antara satu sama lain. Di sinilah peran sitokin dibutuhkan. Sitokin adalah protein khusus pembawa pesan antara sel 0pada sistem kekebalan tubuh.

Sitokin terbagi berdasarkan jenis sel yang memproduksinya atau cara kerjanya dalam tubuh. Ada empat macam sitokin, yakni:

  • Limfokin, diproduksi oleh sel limfosit-T. Fungsinya untuk mengarahkan respons sistem imun menuju daerah infeksi.
  • Monokin, diproduksi oleh sel monosit. Fungsinya untuk mengarahkan sel-sel neutrofil yang akan membunuh patogen.
  • Kemokin, diproduksi oleh sel sistem imun. Fungsinya untuk memicu perpindahan respons imun ke daerah infeksi.
  • Interleukin, diproduksi oleh sel darah putih. Fungsinya untuk mengatur produksi, pertumbuhan, dan pergerakan respons imun dalam reaksi peradangan.
COVID-19 Outbreak updates
Country: Indonesia
Data

1,347,026

Confirmed

1,160,863

Recovered

36,518

Death
Distribution Map

Ketika SARS-CoV-2 memasuki tubuh, sel-sel darah putih akan merespons dengan memproduksi sitokin. Sitokin lalu bergerak menuju jaringan yang terinfeksi dan berikatan dengan reseptor sel tersebut untuk memicu reaksi peradangan.

Sitokin terkadang juga berikatan dengan sel darah putih lain atau bekerja sama dengan sitokin lain saat terjadi infeksi. Tujuannya tetap sama, yakni mengatur sistem kekebalan tubuh dalam membasmi patogen.

Saat terjadi peradangan, sel-sel darah putih akan bergerak menuju darah atau jaringan yang terinfeksi untuk melindunginya dari penyakit. Pada kasus COVID-19, sitokin bergerak menuju jaringan paru-paru untuk melindunginya dari serangan SARS-CoV-2.

Peradangan sebenarnya berguna untuk membunuh patogen, tapi reaksi ini juga dapat menimbulkan demam dan gejala COVID-19 lainnya. Setelah beberapa waktu, barulah peradangan mereda dan sistem imun tubuh dapat melawan virus dengan sendirinya.

Mengenal badai sitokin pada pasien COVID-19

penyakit gagal napas akut ARDS adalah

Banyak pasien COVID-19 meninggal karena sistem kekebalan tubuhnya tidak mampu melawan infeksi. Virus pun memperbanyak diri dengan cepat, menyebabkan kegagalan beberapa organ sekaligus, dan akhirnya mengakibatkan kematian.

Namun, beberapa dokter dan ilmuwan menemukan pola tidak biasa pada sejumlah pasien COVID-19. Pasien-pasien ini mengalami gejala ringan, tampak membaik, tapi selang beberapa hari, kondisi mereka menurun drastis hingga kritis atau meninggal.

Dr. Pavan Bhatraju, dokter ICU di Harborview Medical Center Seattle, AS, menyebut hal ini dalam penelitiannya. Penurunan kondisi pasien umumnya terjadi setelah tujuh hari dan lebih banyak ditemukan pada pasien COVID-19 yang sehat dan masih muda.

Mereka meyakini bahwa penyebabnya adalah produksi sitokin yang berlebihan. Hal ini dikenal sebagai cytokine storm atau badai sitokin. Alih-alih melawan infeksi, kondisi ini justru dapat menyebabkan kerusakan organ dan berakibat fatal.

Sitokin normalnya hanya berfungsi sebentar dan akan berhenti saat respons kekebalan tubuh tiba di daerah infeksi. Pada kondisi badai sitokin, sitokin terus mengirimkan sinyal sehingga sel-sel kekebalan tubuh terus berdatangan dan bereaksi di luar kendali.

Paru-paru mengalami peradangan parah karena sistem kekebalan tubuh berusaha keras membunuh virus. Peradangan pun bisa terus terjadi meski infeksi sudah selesai. Selama peradangan, sistem imun juga melepas molekul bersifat racun bagi virus dan jaringan paru-paru.

Jaringan paru-paru pun mengalami kerusakan. Kondisi pasien yang tadinya sudah baik berakhir memburuk. Dr. Bhatraju mengatakan, pasien yang awalnya hanya memerlukan sedikit oksigen bisa saja mengalami gagal napas hanya dalam waktu semalam.

Dampak badai sitokin begitu drastis dan cepat. Tanpa penanganan yang tepat, fungsi paru-paru pasien dapat menurun hingga membuat pasien sulit bernapas. Di sisi lain, infeksi terus bertambah parah dan mengakibatkan kegagalan organ.

Menangani badai sitokin pada pasien COVID-19

cara menyimpan obat padat

Ada beberapa jenis obat yang dapat meredakan badai sitokin pada pasien COVID-19, salah satunya dikenal sebagai interleukin-6 inhibitors (IL-6 inhibitors). Obat ini bekerja dengan menghambat kerja sitokin yang memicu reaksi peradangan.

Meski perlu dikaji lebih dalam, laporan dari Prancis dan Tiongkok menunjukkan bahwa IL-6 inhibitors cukup berpotensi meredakan badai sitokin.

Pada satu kasus, seorang pasien yang sudah hampir menggunakan ventilator dapat bernapas lagi beberapa jam setelah mengonsumsi obat tersebut.

Pasien lain yang diberikan obat ini hanya sebentar menggunakan ventilator, padahal ia seharusnya memakai ventilator selama beberapa minggu. Saat ini, tugas para ilmuwan adalah memastikan bahwa IL-6 inhibitors memang efektif mengatasi badai sitokin.

Waspada, COVID-19 Bisa Menular Sebelum Gejala Muncul

Sementara itu, masyarakat dapat berperan aktif dengan melakukan upaya mencegah COVID-19. Lindungi diri Anda dengan mencuci tangan dan menjaga daya tahan tubuh.

Hindari pula interaksi dengan orang lain guna mengurangi risiko penyebaran COVID-19 yang dapat mengakibatkan badai sitokin pada beberapa orang.

Bantu dokter dan tenaga medis lain mendapatkan alat pelindung diri (APD) dan ventilator untuk melawan COVID-19 dengan berdonasi melalui tautan di bawah ini.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Was this article helpful for you ?
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Vaksinasi COVID-19 Tahap 2 Dimulai, Siapa Saja Targetnya?

Pemerintah Indonesia mulai melakukan vaksinasi COVID-19 tahap 2 pada kelompok lansia dan petugas layanan publik. Bagaimana pelaksanaannya?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
COVID-19, Penyakit Infeksi 17 Februari 2021 . Waktu baca 3 menit

WHO Investigasi Asal Muasal COVID-19, Bagaimana Perkembangannya?

Setahun sejak kemunculannya, belum diketahui benar bagaimana asal muasal virus SARS-CoV-2 penyebab COVID-19 ini. Berikut temuan terbarunya.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
COVID-19, Penyakit Infeksi 16 Februari 2021 . Waktu baca 5 menit

Reaksi Alergi Vaksin COVID-19 dan Hal-hal yang Perlu Diketahui

Sejumlah kecil penerima vaksin COVID-19 mengalami reaksi alergi, namun tidak semua berbahaya. Apa saja syarat kelayakan menerima vaksin?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
COVID-19, Penyakit Infeksi 15 Februari 2021 . Waktu baca 5 menit

Proses Vaksinasi COVID-19 di Indonesia, Kelompok Prioritas Sampai Masyarakat Umum

Pelaksanaan vaksinasi COVID-19 di Indonesia telah berjalan, berikut tahapan cara registrasi hingga kondisi kesehatan yang perlu diperhatikan.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
COVID-19, Penyakit Infeksi 10 Februari 2021 . Waktu baca 5 menit

Direkomendasikan untuk Anda

kopi untuk diabetes

Potensi Manfaat Kopi pada Penderita Prediabetes dan Diabetes di Masa Pandemi COVID-19

Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 5 Maret 2021 . Waktu baca 3 menit
Vaksin covid-19

Antisipasi dan Data Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi COVID-19 di Indonesia

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 25 Februari 2021 . Waktu baca 5 menit
Alergi vaksin covid-19

Setelah Vaksinasi COVID-19 Berjalan, Kapan Indonesia Mencapai Herd Immunity?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 23 Februari 2021 . Waktu baca 5 menit
Harimau dan Kasus Hewan Peliharaan yang Tertular COVID-19

Bayi Harimau Mati Diduga COVID-19, Bisakah Hewan Peliharaan Tertular Virus Corona?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 22 Februari 2021 . Waktu baca 5 menit