Terapi Okupasi, Perawatan untuk Orang Berkebutuhan Khusus Agar Lebih Mandiri

Ditinjau secara medis oleh: | Ditulis oleh:

Dipublikasikan tanggal: 03/11/2017
Bagikan sekarang

Kondisi kesehatan tertentu memang membuat pasiennya kesulitan melakukan kegiatan sehari-hari. Mulai dari yang sederhana seperti makan dan mandi hingga aktivitas yang cukup rumit seperti belanja keperluan bulanan atau bekerja. Untungnya, saat ini ada terapi okupasi yang ditujukan bagi orang-orang berkebutuhan khusus agar bisa menjalani aktivitas hariannya dengan lebih lancar dan mandiri.

Apa itu terapi okupasi?

Terapi okupasi adalah perawatan khusus yang bertujuan untuk membantu orang dengan keterbatasan fisik, mental, atau kognitif agar bisa lebih mandiri dalam berbagai aspek kehidupan.

Entah itu untuk melakukan perawatan diri (makan, mandi, dan berpakaian), pengolahan diri (membaca, berhitung, atau bersosialisasi), latihan fisik (mempertahankan gerakan sendi, kekuatan otot, dan kelenturan), menggunakan alat bantu, serta kegiatan lainnya.

Tujuan utama terapi ini adalah membantu meningkatkan kualitas hidup pasien. Terapi ini bisa diikuti oleh orang dari semua kalangan usia, yaitu anak-anak hingga orang lanjut usia.

Siapa saja yang membutuhkan terapi okupasi?

Seperti yang sudah dijelaskan di atas, terapi okupasi sebenarnya digunakan untuk membantu memudahkan seseorang yang mengalami kesulitan dalam mengerjakan tugas sehari-hari. Hal ini bisa terjadi karena hal-hal berikut ini.

1. Kondisi medis tertentu

  • Arthritis, yaitu kondisi terjadinya peradangan dalam satu atau beberapa sendi. Kondisi ini membuat sendi menjadi kaku dan sulit untuk digerakkan.
  • Multiple sclerosis (MS), kondisi yang memengaruhi sel saraf dalam otak dan tulang belakang. MS bisa menyebabkan kelumpuhan sedang hingga parah.
  • Penyakit Parkinson, kondisi yang memengaruhi cara kerja otak dalam mengendalikan gerakan tubuh. Gejala yang banyak diketahui orang dari penyakit ini adalah tremor atau gemetaran.
  • Skizofrenia, kondisi kesehatan mental kronis yang menyebabkan gejala psikologis seperti halusinasi, pikiran kacau, atau perubahan perilaku.
  • Depresi, yakni gangguan mood yang menyebabkan perasaan sedih atau putus asa dalam jangka panjang. Gangguan ini juga bisa menghambat aktivitas fisik dan mental seseorang.

Selain untuk orang dewasa, terapi ini juga bisa dilakukan pada anak-anak yang menderita kondisi tertentu, seperti:

  • Cerebral palsy, kelainan yang memengaruhi otot, saraf, gerakan, dan kemampuan motorik seseorang untuk bergerak secara terkoordinasi dan terarah.
  • Sindrom Down, yaitu kondisi genetik yang menyebabkan gangguan belajar dan ciri fisik tertentu.
  • Autisme, kelainan neurologis dan perkembangan yang dimulai pada masa kanak-kanak dan bertahan seumur hidup. Autisme dapat memengaruhi interaksi penderita dengan orang lain serta cara pasien berkomunikasi dan belajar.
  • Dyspraxia, yaitu gangguan kemampuan motorik berupa gangguan koordinasi otak, mata, dan otot anggota gerak untuk melakukan kegiatan seperti berlari, melompat, atau menggunting.
  • Gangguan perkembangan yang membuat anak kesulitan memproses informasi dan berkomunikasi dengan orang lain.
  • Spina bifida, cacat lahir yang memengaruhi perkembangan tulang belakang dan sistem saraf.

2. Kondisi terkait penuaan

Terapi okupasi juga bisa digunakan untuk mengatasi masalah yang berkembang akibat bertambahnya usia. Misalnya, Anda kesulitan melakukan gerakan tertentu, seperti bangun tidur di pagi hari. Nah, terapis okupasi bisa menyarankan alat yang memudahkan Anda untuk melakukan gerakan tersebut atau mengajarkan teknik baru yang mungkin bisa membantu.

3. Pemulihan terkait kondisi medis tertentu

Terapi okupasi dapat digunakan setelah:

  • Patah tulang pinggul
  • Cedera kepala parah
  • Amputasi
  • Stroke
  • Diabetes
  • Penyakit jantung

Jika ada anggota keluarga atau seseorang di lingkungan sekitar Anda yang memiliki kondisi di atas, maka tidak ada salahnya jika mereka diberi saran untuk mendapatkan terapi okupasi. Namun, sebelum melakukannya, mereka disarankan berkonsultasi dulu ke agar terapi yang diberikan benar-benar bisa memperbaiki kualitas hidup pasien.

Di mana saja bisa melakukan terapi okupasi?

Terapi okupasi bisa dilakukan di beberapa tempat, seperti:

  • Rumah sakit
  • Pusat rehabilitasi
  • Rumah pasien (home visit)
  • Rumah singgah atau panti

Di Indonesia, tidak semua rumah sakit menyediakan terapi okupasi karena jumlah tenaga ahli yang mampu memberikan pelayanan ini masih terbatas. Itu sebabnya, sebelum memutuskan untuk melakukan terapi ini, konsultasi dulu ke dokter agar mendapatkan rujukan tempat melakukan terapi okupasi yang tepat dari dokter.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Rutin Minum Madu Saat Sahur Bisa Memberikan 5 Kebaikan Ini

Katanya, minum madu saat sahur bisa memberikan segudang manfaat baik bagi tubuh selama menjalani puasa. Tertarik ingin coba? Simak beragam khasiatnya.

Ditinjau secara medis oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Karinta Ariani Setiaputri
Hari Raya, Ramadan 17/05/2020

3 Buah Selain Kurma yang Baik untuk Berbuka Puasa

Kurma bukan satu-satunya buah yang baik dimakan saat berbuka puasa. Lihat berbagai pilihan lainnya.

Ditinjau secara medis oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Monika Nanda
Hari Raya, Ramadan 14/05/2020

7 Cara Menjaga Tubuh Agar Tetap Fit Saat Puasa

Jangan sampai karena puasa Anda jadi lemas, lesu, dan mudah sakit. Simak rutinitas yang bisa dilakukan agar tetap fit saat puasa.

Ditinjau secara medis oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Risky Candra Swari
Hari Raya, Ramadan 09/05/2020

Kenapa Saya Sakit Perut Setelah Buka Puasa?

Pernahkah Anda sakit perut setelah buka puasa? Bisa jadi ini karena pengaruh makanan yang Anda konsumsi saat berbuka. Apa lagi sebab lainnya?

Ditinjau secara medis oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Adelia Marista Safitri
Hari Raya, Ramadan 07/05/2020

Direkomendasikan untuk Anda

resep membuat bakwan

4 Resep Membuat Bakwan di Rumah yang Enak Tapi Sehat

Ditinjau secara medis oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Aprinda Puji
Dipublikasikan tanggal: 28/05/2020

Berbagai Manfaat Daun Kale, Si Hijau yang Kaya Zat Gizi

Ditinjau secara medis oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
Dipublikasikan tanggal: 28/05/2020
panduan diet sehat untuk menurunkan berat badan, cara diet sehat, menu diet sehat, makanan diet sehat, diet sehat alami

Cara Diet Turun Berat Badan yang Aman Tanpa Bahayakan Kesehatan

Ditinjau secara medis oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Risky Candra Swari
Dipublikasikan tanggal: 28/05/2020
diagnosis hiv

Apa Bedanya Stres dan Depresi? Kenali Gejalanya

Ditinjau secara medis oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Dipublikasikan tanggal: 26/05/2020