Menguasai Banyak Bahasa Asing Menurunkan Risiko Anda Terkena Demensia

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Dipublikasikan tanggal: 11/01/2018 . 4 menit baca
Bagikan sekarang

Manusia dilahirkan dengan insting berbahasa. Otak kita secara alami terikat pada bahasa. Artinya, Anda dapat belajar bahasa asing apapun, kapanpun. Nah, sebuah penelitian mengungkapkan bahwa orang yang mampu menguasai lebih dari satu bahasa asing lebih kebal terhadap risiko pikun di usia tua. Simak penjelasannya dalam artikel ini.

Apa yang terjadi saat otak belajar bahasa baru?

Penelitian menyatakan bahwa belajar bahasa asing meningkatkan fungsi otak. Kemampuan berbahasa terus-terusan melibatkan kedua bagian otak: otak kiri yang memproses logika (untuk memahami dan mengingat) dan juga otak kanan yang aktif dalam proses emosional dan sosial (untuk mengaitkan kosa kata baru dengan ingatan visual).

Belajar bahasa asing juga bisa meningkatkan ukuran otak Anda. Melalui sebuah penelitian di Swedia, hasil scan MRI otak menunjukkan bagian hipokampus dan area serebral korteks pada orang yang menguasai dua bahasa asing (bilingual) lebih besar daripada orang-orang yang hanya bisa satu bahasa saja. Area otak yang tumbuh ini terkait dengan bagian otak mana yang aktif ketika memelajari bahasa.

Orang yang berbicara lebih dari satu bahasa dengan lancar memiliki ingatan yang lebih baik dan lebih kreatif secara kognitif dan fleksibel secara mental daripada monolingual. Studi di Kanada bahkan melaporkan bahwa orang-orang bilingual memiliki ketajaman kognitif otak sampai tahun-tahun berikutnya.

Periset lain bahkan menemukan bahwa orang dewasa yang mahir menguasai dua bahasa memiliki fokus atensi dan konsentrasi lebih baik daripada mereka yang hanya berbicara satu bahasa, terlepas dari apakah mereka telah mengetahui bahasa kedua itu pada masa kanak-kanak, remaja, atau baru ketika dewasa.

Manfaat belajar bahasa asing untuk menurunkan risiko demensia

Manfaat peningkatan fungsi kognitif otak dari belajar bahasa asing dilaporkan dapat menjauhkan Anda dari risiko Alzheimer dan demensia. Keduanya adalah penyakit degeneratif yang ditandai dengan kepikunan akibat menurunnya fungsi kognitif otak.

Hal ini pun dibuktikan oleh sebuah studi yang dimuat dalam Journal American Academy of Neurology menemukan bahwa orang dewasa bilingual yang aktif menggunakan bahasa asing keahliannya secara teratur memiliki kemampuan multitasking yang lebih baik ketimbang orang-orang yang hanya menguasai satu bahasa saja. Penelitian ini juga menemukan bahwa belajar bahasa asing mampu memperlambat perkembangan gejala Alzheimer untuk 4-5 tahun lebih lama daripada orang yang hanya bisa satu bahasa saja. Demensia bisa terjadi apabila Alzheimer terus dibiarkan berkembang tanpa ditangani.

Sebuah studi lain dari Pusat Penuaan Kognitif di Universitas of Edinburgh Skotlandia juga menemukan hal yang serupa. Dalam penelitiannya, para periset menemukan bahwa orang yang menguasai lebih dari satu bahasa memiliki kemampuan kognitif otak yang lebih baik ketimbang mereka yang hanya menguasai satu bahasa saja.

Hal ini terjadi karena belajar dan berbicara bahasa asing akan membuat ingatan Anda tetap tajam sehingga mampu mempertahankan fungsi otak untuk melawan penuaan, seperti kepikunan. Bahkan para peneliti mengatakan bahwa manfaat tersebut tidak hanya terjadi pada saat mereka yang masih muda saja. Pasalnya, orang dewasa yang baru belajar bahasa asing pun akan ikut merasakan manfaat tersebut.

Nah, itu sebabnya tidak ada kata terlambat untuk belajar bahasa baru, demi peningkatan fungsi otak Anda.

Cara lain yang bisa dilakukan untuk meningkatkan fungsi otak

Selain belajar bahasa asing, ada beberapa cara lain yang bisa Anda lakukan untuk meningkatkan fungsi otak sehingga bisa mencegah risiko demensia dini.

  • Aktivitas fisik. Beraktivitas fisik membuat otak Anda bekerja secara optimal dengan menghasilkan protein brain-derived neurotrophic factor (BDNF) yang membantu meningkatkan aliran darah ke otak. Hal ini dapat mencegah kerusakan sel otak sehingga bisa mengurangi risiko terjadinya stroke dan membantu dalam pembentukan sel otak yang baru.
  • Cukup tidur. Otak memerlukan istirahat untuk menyimpan serta memproses ingatan dan hal yang sudah dipelajari dengan baik. Tidur adalah salah satu cara terbaik untuk mengistirahatkan otak. Itu sebabnya, kekurangan waktu tidur akan menurunkan fungsi otak untuk berpikir dan memproses informasi.
  • Perhatikan asupan nutrisi. Otak merupakan organ yang membutuhkan energi paling banyak untuk menjalankan fungsinya dengan baik. Memperhatikan asupan nutrisi terbaik akan menyediakan energi yang cukup bagi otak untuk melaksanakan fungsinya dengan optimal.  

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Perkembangan Kognitif Bayi Baru Lahir Sampai 11 Bulan

Berbeda dengan pertumbuhan fisik, tidak ada alat ukur untuk menentukan sejauh mana perkembangan kemampuan kognitif bayi. Seperti apa seharusnya?

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Karinta Ariani Setiaputri
Bayi, Parenting, Bayi Satu Tahun Pertama 26/11/2019 . 9 menit baca

Faktanya, Main Game di Ponsel Bisa Bantu Mendeteksi Demensia Lho!

Studi menemukan bahwa main game dapat mendeteksi demensia pada seseorang. Namun, apakah benar demikian? Baca selengkapnya di sini.

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Aprinda Puji
Hidup Sehat, Fakta Unik 25/11/2019 . 3 menit baca

Yuk, Lakukan 9 Latihan Otak Ini Agar Tidak Cepat Pikun!

Ada beberapa latihan otak yang bisa dilakukan setiap hari demi mencegah pikun. Tahukah kamu apa saja aktivitas untuk melatih otak ini?

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Annisa Hapsari
Hidup Sehat, Tips Sehat 09/10/2019 . 5 menit baca

Waspada, Detak Jantung Tidak Teratur Dapat Tingkatkan Risiko Demensia

Studi menunjukkan bahwa orang dengan detak jantung tidak teratur memiliki risiko tinggi mengalami demensia di kemudian hari. Penasaran? Yuk, baca di sini.

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Aprinda Puji
Hidup Sehat, Fakta Unik 01/07/2019 . 3 menit baca

Direkomendasikan untuk Anda

aplikasi belajar bahasa efektif

Belajar Bahasa Asing Lewat Aplikasi, Apakah Efektif?

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Dipublikasikan tanggal: 25/06/2020 . 5 menit baca
Berpikir negatif demensia

Sering Berpikir Negatif Bisa Tingkatkan Risiko Demensia

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 20/06/2020 . 4 menit baca
manfaat bilingual untuk anak

Kenalkan Bahasa Kedua di Rumah, Ini Segudang Manfaat Bilingual untuk Anak

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Dipublikasikan tanggal: 17/03/2020 . 6 menit baca
perbedaan demensia dengan delirium dan depresi

Kenali Perbedaan Demensia dengan Delirium dan Depresi

Ditulis oleh: dr. Alfonsa Angwarmase
Dipublikasikan tanggal: 09/03/2020 . 6 menit baca