Ini Daftar Bahan yang Terkandung di Dalam Vaksin (Benarkah Ada Merkuri?)

Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum

Ada banyak informasi yang simpang siur mengenai kandungan vaksin. Misalnya vaksin yang mengandung merkuri. Informasi yang beredar justru bisa lebih banyak yang tidak benar dibandingkan yang benar. Sebenarnya, apa saja kandungan utama vaksin? Benarkah ada merkurinya? Anda perlu mencari tahu fakta-faktanya di bawah ini. 

Mengenal kandungan vaksin

Kandungan utama vaksin biasa disebut dengan bahan aktif. Bahan aktif adalah bahan yang akan merangsang aktivitas sistem kekebalan tubuh sehingga lebih mampu melawan penyakit. Vaksin yang bertujuan untuk menjaga sistem kekebalan tubuh manusia ini juga mengandung beberapa bahan lainnya seperti air.

Kandungan vaksin yang utama adalah virus atau bakteri. Mengapa virus atau vakteri disuntikkan ke tubuh manusia? Tenang, Anda tidak perlu khawatir, virus dan bakteri ini sudah dilemahkan. Natinya, ketika bibit penyakit yang sudah dilemahkan ini masuk ke dalam tubuh, Anda tidak akan kena penyakit tersebut. Justru sistem kekebalan tubuh Anda bertambah kuat.

Pasalnya, sistem kekebalan tubuh Anda sudah mengenali bibit penyakit berbahaya ini lewat vaksin sehingga suatu hari nanti bila bibit penyakit yang asli masuk ke dalam tubuh, Anda sudah kebal melawan penyakit tersebut.

Vaksin diproduksi untuk menghasilkan manfaat maksimal bagi tubuh manusia. Bebeberapa bahan aktif sebagai kandungan vaksin dibuat dengan mengambil bagian DNA virus, dan dimasukkan ke dalam sel lainnya agar jadi aktif. Kombinasi DNA dan virus ini memang ampuh mencegah beberapa penyakit menular.

Beberapa vaksin yang kandungannya telah dikombinasi dengan virus atau bakteri lain yaitu vaksin hepatitis. Vaksin ini menggunakan DNA virus hepatitis B dan DNA sel lain. Nantinya kombinasi ini akan menghasilkan protein. Protein inilah bahan aktif kandungan vaksin yang akan mencegah hepatitis.

Bahan apa lagi yang ada di dalam vaksin?

Selain bahan aktif, ada adjuvant yang ada di dalam kandungan vaksin. Ini dikenal sebagai bahan pembantu. Di mana bahan-bahan ini fungsinya memaksimalkan keampuhan vaksin dalam melawan penyakit.

Kombinasi bahan bahan aktif utama (antigen) dan adjuvant ini lebih ampuh daripada menggunakan vaksin antigen saja. Akan tetapi, perlu diketahui juga bahwa adjuvant ini lebih sering dipakai menggunakan bahan garam aluminum.

Ya, aluminium garam ini diizinkan oleh FDA (Foods and Drugs Administration, setara dengan Badan POM di Indonesia) hanya sebanyak 1,14 miligram per dosis vaksin. Badan POM mengatakan bahwa penggunaan garam aluminium pada vaksin aman dan efektif.

Selain kedua bahan aktif dan bahan pembantu, vaksin juga mengandung pelarut cairan. Biasanya menggunakan air bersih atau natrium klorida, yang juga digunakan sebagai cairan infus.

Selain bahan pelarut, ada stabilizers. Kandungan ini berfungsi untuk menstabilkan vaksin pada saat kondisi panas atau dingin misalnya. Biasanya, kandungan stabilizers ini antara lain terbuat dari gula (sukrosa dan laktosa) atau protein (albumin dan gelatin).

vaksin demam berdarah

Terdapat pengawet dalam kandungan vaksin

Selain ketiga bahan, ada pula pengawet di dalamnya. Pada dasarnya, vaksin memang butuh pengawet, tapi tidak untuk semua jenis vaksin. Pengawet ini dibutuhkan untuk mencegah pertumbuhan mikroorganisme agar vaksin tetap berfungsi baik.

Sayangnya, dari 4 jenis pengawet, ada 1 pengawet yang banyak dijadikan perdebatan. Thimerosal adalah jenis pengawet pada vaksin yang isunya bisa menyebabkan autisme dan ADHD karena terbuat dari merkuri. Namun, beberapa penelitian lanjut tidak menemukan adanya kaitan antara vaksin dengan autisme atau ADHD. 

Sedangkan kandungan merkurinya sendiri telah terbukti aman bagi tubuh dalam berbagai penelitian di seluruh dunia. Lagipula thimerosal yang terbuat dari merkuri ini juga termasuk zat kimia yang mudah dan cepat dibuang oleh tubuh. Karena itu, merkuri tidak akan mengendap dan membahayakan Anda.

Namun, untuk mengurangi risiko dan keresahan masyarakat, vaksin modern saat ini sudah tidak menggunakan thimerosal lagi. Beberapa jenis vaksin memang masih mengandung thimerosal, tapi dosisnya sangatlah kecil. Penting diingat juga, risiko terkena penyakit yang seharusnya bisa dicegah dengan pemberian vaksin masih lebih besar daripada risiko yang mungkin ditimbulkan oleh thimerosal.

Baca Juga:

Sumber