Ada banyak informasi simpang siur mengenai kandungan vaksin, sayangnya informasi yang beredar banyak yang tidak benar dibandingkan yang benar. Sebenarnya, apa saja kandungan utama vaksin?

Kandungan utama vaksin biasa disebut dengan bahan aktif. Bahan aktif ini yang membuat sistem kekebalan tubuh mampu melawan penyakit. Selain bahan aktif, ada juga air, dan beberapa kandungan lainnya. Sebelum hanya bisa menebak-nebak atau percaya dengan informasi yang menyesatkan, cari tahu dulu kebenaran isi vaksin di artikel ini.

Kandungan vaksin yang paling penting: bahan aktif

Bahan aktif yang ada di dalam vaksin terbuat dari virus atau bakteri yang disebut dengan antigen. Jangan khawatir, virus atau bakteri ini sudah dilemahkan sehingga tidak membuat Anda sakit, namun justru bisa merangsang sistem kekebalan tubuh membentuk antibodi untuk melawan penyakit.

Beberapa bahan aktif di dalam vaksin dibuat dengan menggunakan teknologi DNA rekombinan. Teknologi ini memungkinkan manusia menggunakan sel virus atau bakteri untuk menghasilkan vaksin. Bagaimana caranya? Dengan mengambil bagian DNA virus atau bakteri dan dimasukkan ke dalam sel lain untuk menghasilkan bahan aktif dalam vaksin. Sederhananya, akan terjadi penggabungan antara DNA virus atau bakteri dengan DNA sel lain.

Misalnya, untuk membuat vaksin hepatitis B, bagian DNA dari virus hepatitis B diambil dan dimasukkan ke dalam DNA sel ragi. Penggabungan melalui teknologi DNA rekombinan ini akan menghasilkan salah satu protein dari virus hepatitis B. Protein ini akan dimurnikan dan digunakan sebagai bahan aktif dalam vaksin hepatitis B.

Selain bahan aktif, apa lagi bahan-bahan yang ada di dalam vaksin?

Selain bahan aktif, di dalam vaksin ada kandungan lain yang disebut dengan adjuvant atau bahan tambahan sebagai ‘pembantu’. Apa fungsinya? Untuk memaksimalkan respon sistem imun tubuh. Gabungan antigen dan adjuvant dapat dikenali tubuh lebih cepat dibandingkan hanya antigen. Adjuvant yang paling sering digunakan dalam vaksin adalah garam aluminium yang sudah digunakan lebih dari 80 tahun.

Lantas, apakah alumunium aman digunakan? Dosis garam aluminium yang diizinkan dalam pembuatan vaksin adalah 1.14 mg/dosis vaksin, dosis ini sudah ditentukan oleh FDA, yang memiliki fungsi sebagai BPOM jika di Indonesia. Tidak ada satupun vaksin yang kandungan aluminiumnya lebih dari dosis ini.

Bagaimana dengan kabar yang menceritakan bahwa aluminium dapat merusak ginjal, otak dan sebagainya? Sekali lagi, dosis yang diizinkan sangat kecil dibandingkan dengan dosis yang dapat ditoleransi tubuh. Karena isu ini berkembang terus, pada Mei tahun 2000, FDA mengundang ratusan ahli vaksin dari seluruh dunia, baik yang pro maupun yang kontra terhadap aluminium, untuk saling beradu data.

Kesimpulan FDA (tahun 2000, hingga kini tak berubah), penggunaan garam aluminium pada vaksin dinyatakan aman dan efektif.

Ada juga pelarut dan stabilizers di dalam vaksin

Pelarut adalah cairan yang digunakan untuk melarutkan vaksin hingga konsentrasi tertentu sehingga dapat disuntikkan atau diteteskan ke dalam tubuh. Bahan yang digunakan adalah air steril atau natrium klorida (cairan infus).

Kandungan vaksin selanjutnya adalah stabilizers, fungsi zat ini adalah menstabilkan vaksin saat berada pada kondisi ekstrem, misalnya panas. Dosis yang digunakan sangat kecil, yaitu kurang dari 10 mikrogram. Jenis-jenis stabilizers antara lain, gula (sukrosa & laktosa), asam amino (glisin, asam glutamat) atau protein (albumin, gelatin).

Isu yang berkembang mengenai stabilizers adalah penggunaan stabilizer jenis protein (terutama gelatin) dapat menyebabkan reaksi alergi. Namun hal ini dibantah dengan fakta kejadiannya yang amat sangat jarang.

Pro dan kontra pengawet dalam kandungan vaksin

Tidak hanya makanan yang butuh pengawet, vaksin juga butuh pengawet. Apa fungsinya? untuk mencegah tumbuhnya bakteri atau jamur selama proses pembuatan vaksin. Namun, tidak semua vaksin menggunakan pengawet. Pengawet biasa digunakan di kemasan vaksin multidosis untuk mencegah pertumbuhan mikroorganisme.

Saat ini, hanya ada empat jenis  pengawet yang diizinkan digunakan. Yang paling terkenal karena pro dan kontranya adalah timerosal. Mengapa timerosal banyak yang mengganggap tidak aman? Karena timerosal adalah turunan merkuri.

Isu mengenai aman atau tidaknya timerosal sudah dimulai pada tahun 1990. Beberapa ahli menduga bahwa timerosal dapat menyebabkan autisme dan ADHD. Penggunaan timerosal sebagai bahan pengawet dalam vaksin sempat dilarang di negara Amerika dan Eropa. Penelitian lanjutan mengenai kaitan antara timerosal dengan autisme dan ADHD tetap dilanjutkan dan banyak penelitian yang menyimpulkan bahwa tidak ada hubungan antara bahan pegawet ini dengan autisme.

Timerosal merupakan etil merkuri, namun yang perlu Anda tahu, etil merkuri berbeda dengan metil merkuri. Etil merkuri yang digunakan dalam vaksin tidak akan terakumulasi dalam tubuh karena cepat dimetabolisme dan waktu hanya 7 hari. Dosis yang digunakan pun sangat kecil. Sedangkan merkuri berbahaya yang selama ini sering Anda dengar adalah bentuk metil merkuri, yang sifatnya berbeda dengan timerosal (etil merkuri). Justru yang lebih berbahaya adalah metil merkuri yang Anda konsumsi sehari-hari dari makanan laut.

WHO dan EMA (European Medicines Agency) telah mengeluarkan pernyataan resmi bahwa tidak ada bukti bahwa timerosal membahayakan kesehatan. Namun, sejalan dengan promosi kesehatan dunia bebas merkuri pada produk apapun seperti kosmetik, obat, dan yang lainnya, tetap dianjurkan produksi vaksin tanpa merkuri. WHO sendiri tetap memperbolehkan penggunaan timerosal khususnya untuk vaksin multidosis. Vaksin yang diproduksi di AS dan Eropa saat ini pun telah bebas merkuri. Jadi, Anda tidak perlu khawatir. 

Baca Juga:

Sumber
Yang juga perlu Anda baca