Siapa yang Jatuh Cinta Duluan, Pria Atau Wanita? Ini Hasil Penelitiannya!

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Dipublikasikan tanggal: 13 Desember 2017 . Waktu baca 4 menit
Bagikan sekarang

Coba perhatikan, biasanya pria yang akan menyatakan cinta duluan pada pujaan hatinya. Kira-kira kenapa begitu, ya? Apakah karena budaya patriarki cenderung menggambarkan wanita sebagai sosok yang pasif? Bisa jadi. Namun, sebuah penelitian baru berhasil menguak salah satu kemungkinan penyebabnya, yaitu karena memang pria jatuh cinta lebih cepat daripada wanita. Belum percaya juga? Simak penjelasannya di bawah ini.

Menurut penelitian, biasanya memang pria jatuh cinta duluan

Menurut sebuah penelitian yang diterbitkan dalam Journal of Social Psychology, Marissa Harrison yang juga seorang psikolog di Pennsylvania University melakukan survei pada 172 orang yang pernah merasakan jatuh cinta.

Pada wawancara yang dilakukan Harrison kepada para mahasiswa, mereka diberi pertanyaan mengenai apakah pernah jatuh cinta atau tidak. Lalu jika menjawab “Pernah”, Harisson akan lantas bertanya tentang beberapa lama mereka butuh waktu untuk menyatakan cinta.

Hasil wawancara dan survei membuktikan bahwa yang lebih dulu jatuh cinta adalah pria. Pria lebih cepat mengungkapkan cintanya sekitar beberapa minggu setelah mereka berkenalan atau dekat dengan sosok yang disukainya. Hal ini berbanding terbalik dengan wanita yang agak lama untuk benar-benar bisa jatuh cinta dengan pria. Wanita umumnya membutuhkan beberapa bulan untuk benar-benar yakin dan berani mengungkapkan perasaan cintanya.

Bahkan dalam survei berbeda yang dilakukan di Inggris, sejumlah 20 persen pria mengaku pernah mengalami jatuh cinta pada pandangan pertama. Jumlah tersebut tentu lebih banyak dibandingkan dengan 13 persen saja wanita yang merasa pernah jatuh cinta pada pandangan pertama.

Kenapa pria jatuh cinta lebih cepat daripada wanita?

Hasil berbagai riset ini memang cukup mengejutkan. Pasalnya, selama ini wanita adalah sosok yang selalu dianggap lebih emosional dan lebih luwes dalam mengungkapkan rasa cinta. Ternyata, justru pria yang lebih mudah jatuh cinta.

Seorang psikolog asal Inggris, Neil Lamont, menjabarkan pada VICE bahwa pria bisa jatuh cinta dengan mudah karena laki-laki cenderung punya sifat berani mengambil risiko. Hal ini kurang umum ditemui pada wanita, yang justru sangat berhati-hati dan enggan mengambil risiko soal pasangan hidupnya.

Selain itu, para psikolog juga sepakat bahwa hal ini mungkin berakar dari zaman prasejarah, di mana laki-laki diposisikan sebagai pemburu yang dominan. Pada zaman dulu, para pemburu mau tak mau harus saling berebut calon pasangan sebagai tanda dominasi dan kepemilikan. Karena itu, laki-laki didorong untuk cepat-cepat mencari pasangan. Nah, kebiasaan itu rupanya masih terbawa hingga masa modern.

bahasa cinta

Jatuh cinta lebih cepat bukan jaminan hubungan asmara yang langgeng

Ingrid Colins, seorang psikolog di London Medical Center, Inggris, menambahkan bahwa meskipun pria jatuh cinta lebih cepat, tak ada jaminan bahwa cintanya akan tahan lama. Ingrid juga menjelaskan kalau memang pria lebih menggebu-gebu ketika pertama kali jatuh cinta, tapi ini bukan berarti cintanya betul-betul tulus. 

Sayangnya, belum ada penelitian yang berhasil membuktikan apakah benar pria juga jadi sosok yang lebih cepat merasa jenuh atau kehilangan rasa cintanya dalam sebuah hubungan asmara.

Pada akhirnya, seberapa cepat seseorang jatuh cinta dan merasa jenuh itu tergantung dari sekian banyak faktor. Misalnya latar belakang sosial dan ekonomi, budaya dan tradisi, serta kondisi masing-masing. Tidak bisa ditentukan hanya dari jenis kelamin saja. Karena itu, bukti penelitian ini hanya bisa memberi gambaran secara umum.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Kenapa Cuaca Dingin Bikin Rematik Kumat dan Bagaimana Mengatasinya?

Istilah 'dingin sampai menusuk tulang' bisa terjadi pada penderita rematik Nyeri sendi akibat rematik kambuh bisa disebabkan oleh cuaca, bagaimana bisa?

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
Hidup Sehat, Tips Sehat 24 September 2020 . Waktu baca 3 menit

Terapi Urine dengan Minum Air Kencing, Benarkah Efektif?

Terapi urine dengan minum air kencing yang terdengar menjijikkan telah dipercaya sejak berabad-abad lalu. Apakah manfaatnya?

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Urologi, Kandung Kemih 23 September 2020 . Waktu baca 8 menit

Benarkah Terlalu Sering Minum Paracetamol Sebabkan Gangguan Pendengaran?

Hati-hati jika Anda sering minum obat penghilang nyeri, seperti paracetamol. Efek samping paracetamol berlebihan dapat menimbulkan gangguan pendengaran.

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
Hidup Sehat, Tips Sehat 23 September 2020 . Waktu baca 3 menit

Alergi Paracetamol

Paracetamol sering diresepkan untuk merdakan demam dan nyeri. Tapi tahukah Anda bahwa ada orang yang alergi obat paracetamol?

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Novita Joseph
Alergi, Penyakit Alergi Lainnya 22 September 2020 . Waktu baca 6 menit

Direkomendasikan untuk Anda

ensefalopati uremikum

Ensefalopati Uremikum, Komplikasi Gangguan Ginjal yang Menyerang Otak

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Dipublikasikan tanggal: 25 September 2020 . Waktu baca 4 menit
hubungan suami istri terasa hambar

3 Hal yang Membuat Seks Tidak Lagi Terasa Memuaskan, dan Cara Mengatasinya

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novita Joseph
Dipublikasikan tanggal: 24 September 2020 . Waktu baca 4 menit
melihat bullying

5 Hal yang Harus Anda Lakukan Ketika Menyaksikan Bullying

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Yuliati Iswandiari
Dipublikasikan tanggal: 24 September 2020 . Waktu baca 5 menit
kencing berdiri

Apakah Posisi Kencing Berdiri Berbahaya untuk Kesehatan?

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Novita Joseph
Dipublikasikan tanggal: 24 September 2020 . Waktu baca 5 menit