Apa Penyebab Rasisme yang Masih Terjadi di Sekitar Kita?

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 05/06/2020 . Waktu baca 5 menit
Bagikan sekarang

Amerika Serikat tengah dilanda kerusuhan besar sebagai bentuk protes atas rasisme terhadap masyarakat kulit hitam. Tidak hanya di AS, perilaku rasisme juga masih sering ditemukan dalam kehidupan masyarakat di berbagai belahan dunia. Sebenarnya, apa yang menjadi penyebab dari tindakan rasisme?

Penjelasan ilmiah di balik rasisme

saksi kasus bullying

Rasisme adalah segala prasangka, diskriminasi, dan penentangan terhadap seseorang dari ras yang berbeda. Seseorang melakukan tindakan rasis karena merasa dirinya lebih unggul dibandingkan orang dari golongan lain.

Rasisme tidak hanya berwujud sikap benci, intimidasi, atau kekerasan. Anda juga dapat dikatakan rasis lewat cemoohan, bullying, atau dengan menyingkirkan orang lain dari aktivitas dan golongan tertentu hanya karena melihat asalnya.

Perilaku rasis sebenarnya adalah mekanisme pertahanan diri manusia ketika cemas atau merasa insecure (tidak aman). Seseorang bertindak rasis untuk membuat posisinya seakan lebih penting dan bernilai di mata orang lain.

Sikap ini tidak muncul begitu saja. Para ahli menemukan lima tahapan yang dialami seseorang saat berbuat rasis, yakni:

1. Munculnya rasa tidak aman

Penyebab rasisme adalah rasa insecure dan hilangnya identitas. Ketika merasa tidak punya identitas, Anda akan mencari kelompok yang mempunyai kesamaan dengan diri Anda. Kesamaan tersebut bisa berupa ras, warna kulit, suku, dan lain-lain.

Berada dalam kelompok berisi orang-orang yang mirip dengan Anda dapat memberikan rasa aman. Anda tidak lagi merasa kesepian tanpa identitas. Sebaliknya, Anda merasa lebih lengkap dan memiliki tempat dalam masyarakat. 

2. Memusuhi golongan lain

Setelah memiliki identitas diri, kini Anda punya identitas kelompok. Namun, identitas ini juga bisa membuat Anda memusuhi orang di luar golongan Anda. Permusuhan muncul karena setiap golongan ingin membuat dirinya lebih kuat.

Anda mungkin menjadi dekat dengan orang-orang dalam golongan Anda dan semakin mencintai prinsipnya. Akan tetapi, kedekatan itu justru memicu konflik dengan golongan lain. Perbedaan kecil saja bisa memantik masalah antar-ras, agama, dan sebagainya.

3. Hilangnya rasa menghargai orang lain

Rasa tidak aman yang menjadi penyebab rasisme kini membuat Anda sulit menghargai orang lain. Seseorang dalam golongan Anda mungkin berperilaku baik dengan sesama anggotanya, tapi ia dapat dengan mudah menghakimi orang dari golongan lain.

Orang yang rasis hanya mau berempati kepada golongannya. Saat berhadapan dengan orang lain, ia hanya melihat perbedaan yang ada. Hal ini menutupi kesamaan lain yang sebenarnya bisa menyatukan Anda dengan orang-orang dari kelompok lainnya.

4. Stereotip

Pada tahap ini, Anda mulai membuat stereotip. Anda menganggap bahwa setiap orang dalam suatu golongan mempunyai sifat yang sama, misalnya orang Sunda pasti malas, orang kulit hitam pasti kriminal, orang Batak biasanya kasar, dan lain-lain.

Padahal, setiap orang memiliki kepribadian berbeda. Namun, orang yang terjebak stereotip tidak dapat melihat ini. Saat bertemu dengan masyarakat kulit hitam misalnya, mereka akan langsung berprasangka bahwa orang ini pasti berniat jahat.

5. Pelampiasan pada golongan lain

Ini adalah tahap akhir yang paling berbahaya dari rasisme. Berbagai emosi terpendam yang menjadi penyebab rasisme berkumpul pada diri Anda. Kemudian, Anda melampiaskannya pada orang dari golongan lain.

Anda sebenarnya merasa memiliki kekurangan, tapi Anda melampiaskannya dengan membenci orang lain dari etnis yang berbeda. Pada beberapa kasus, kebencian ini bisa sangat ekstrem sehingga rasisme berujung pada penganiayaan atau pembunuhan.

Cara menghindari sikap rasis

mengajarkan anak teman baik

Manusia dengan sendirinya akan memberi label pada satu sama lain. Perilaku ini tidak selalu mengkhawatirkan, tapi akan berbahaya bila berubah menjadi kebencian, apalagi jika dibahanbakari oleh rasa cemas yang mengakar.

Untungnya, ada beberapa cara yang bisa Anda lakukan untuk menghindari sikap rasis, yakni:

  • Menyadari bahwa setiap orang berbeda. Jadi, Anda tidak akan terjebak dalam stereotip.
  • Jika Anda telanjur memiliki stereotip, ubahlah sedikit demi sedikit. Atau, cobalah merespons orang lain dengan cara yang lebih baik.
  • Melihat segala hal dari sudut pandang orang lain. Bila ada berada dalam posisi mereka, kira-kira apa yang Anda rasakan?

Penyebab rasisme berasal dari rasa takut akan kelemahan diri sendiri, tapi tidak semua orang menyadari ini. Beberapa orang telanjur terjebak dalam pikiran negatif dan akhirnya bertindak rasis.

Tindakan rasisme tidak boleh diabaikan karena berbahaya. Jika orang terdekat Anda melakukan perilaku ini, coba berikan pengertian sedikit demi sedikit. Di balik perbedaan ras, warna kulit, ataupun agama, pada akhirnya setiap orang adalah sama.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Yakin Mau Jadi Bapak Rumah Tangga? Pertimbangkan Dulu Hal Berikut Ini

Menjadi Bapak rumah tangga tidak semudah yang Anda kira. Banyak pertimbangan dan hambatan yang harus dipikirkan secara matang-matang.

Ditinjau oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
Ditulis oleh: Roby Rizki
Hidup Sehat, Psikologi 29/12/2019 . Waktu baca 4 menit

Dunning-Kruger Effect, Ketika Seseorang Kerap Bersikap Sok Pintar

Dalam dunia psikologi, orang-orang yang merasa dirinya pintar adalah mereka yang sedang mengalami Dunning-Kruger Effect. Seperti apa pengaruh efek ini?

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Diah Ayu
Hidup Sehat, Psikologi 08/12/2019 . Waktu baca 4 menit

5 Tips Menghadapi Pacar Defensif yang Tidak Pernah Mau Mengaku Salah

Konflik adalah hal yang lumrah dalam hubungan asmara. Namun, bagaimana jika Anda menghadapi pasangan defensif yang tidak pernah mau mengaku salah?

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Diah Ayu
Hidup Sehat, Seks & Asmara 13/08/2019 . Waktu baca 4 menit

Didiagnosis Kanker Bukan Akhir Segalanya, Hadapi Dengan Melakukan 5 Hal Ini

Didiagnosis memiliki kanker tentu membuat Anda merasa syok, cemas, takut, bahkan kebingungan. Berikut yang bisa dilakukan setelah Anda divonis kanker.

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Diah Ayu
Hidup Sehat, Tips Sehat 17/04/2019 . Waktu baca 4 menit

Direkomendasikan untuk Anda

menjelaskan rasisme kepada anak

Tips Menjelaskan Rasisme kepada Anak Sejak Dini

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Diah Ayu
Dipublikasikan tanggal: 12/06/2020 . Waktu baca 5 menit
racial trauma adalah

Mengenal Racial Trauma, Stres Berat Akibat Menjadi Korban Rasisme

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Diah Ayu
Dipublikasikan tanggal: 11/06/2020 . Waktu baca 4 menit
xenophobia di tengah pandemi covid-19

Mengenal Xenofobia yang Ada Kaitannya dengan COVID-19

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Winona Katyusha
Dipublikasikan tanggal: 20/05/2020 . Waktu baca 5 menit
efek barnum

Efek Barnum, Kondisi Psikologis yang Membuat Anda Cocok dengan Zodiak

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Diah Ayu
Dipublikasikan tanggal: 11/02/2020 . Waktu baca 4 menit