Kenapa Kita Sering Membandingkan Diri Dengan Orang Lain di Media Sosial?

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 3 Agustus 2020 . Waktu baca 4 menit
Bagikan sekarang
Artikel ini berisi:

Setiap orang pasti pernah membandingkan diri dengan orang lain. Bahkan sebenarnya bibit budaya perbandingan ini sudah tumbuh sejak kecil dalam lingkup keluarga. Beberapa orangtua mungkin tak sadar membandingkan anaknya dengan orang lain.

Seiring berjalannya waktu, rasa iri dan ketidakmampuan untuk mengendalikan diri membuat kebiasaan buruk ini terus tumbuh dan berkembang. Ya, membandingkan diri sendiri dengan orang lain memang tidak pernah ada habisnya. Terlebih lagi saat media sosial kini memudahkan kita mengakses berbagai informasi seputar orang-orang yang dikenal hingga yang tidak dikenal sama sekali.

Istilah rumput tetangga selalu lebih hijau memang paling pas untuk menggambarkan kondisi ini. Lantas, mengapa kita selalu memiliki keinginan untuk membandingkan diri dengan orang lain? Bagaimana caranya menghilangkan kebiasaan buruk yang satu ini? Simak ulasan lengkapnya di bawah ini.

Wanita lebih sering membandingkan diri dengan orang lain di media sosial

FOMO adalah

Di Internet, papan reklame, di majalah, di televisi, hingga di toko kelontong banyak gambar iklan yang memajang model-model rupawan dengan fisik yang sempurna. Tak jarang hal ini membuat banyak orang, khususnya wanita, tidak percaya diri dan merasa rendah diri.

Bagi wanita, paparan gambar-gambar yang memperlihatkan kemolekan wajah para model secara tidak langsung dapat memicu rasa minder, depresi, kecemasan, hingga perubahan perilaku yang tidak pernah disangka-sangka sebelumnya.

Meski kebanyakan wanita tahu bahwa standar kecantikan para model yang ada di berbagai media tidak realitis, hal tersebut tak menghentikan mereka untuk terus membandingkan dirinya sendiri dengan orang lain.

Sebuah penelitian baru oleh para peneliti dari University of Syndey, Macquarie University, dan UNSW Austria menemukan bahwa terlepas dari berapa banyak waktu yang dihabiskan wanita untuk menonton TV, video musik, dan menggunakan Internet, mereka akan lebih sering membandingkan penampilan mereka dengan foto yang ada di majalah atau media sosial. Bahkan, media sosial sering dijadikan ajang perbandingan diri, terutama oleh mereka para wanita muda.

Lantas, apa penyebabnya?

kecanduan media sosial

Sebenarnya, alasan paling sederhana mengapa kita sering membandingkan diri dengan orang lain adalah karena kita mencari kepastian bahwa diri kita lebih baik dibanding orang lain. Mencari pengakuan atas kemampuan diri sendiri inilah yang membuat Anda terus membandingkan diri dengan orang lain. Selain itu, perasaan yang tidak pernah cukup atas apa yang sudah diraih dan dicapai selama ini membuat banyak orang sering membandingkan dirinya sendiri dengan orang lain.

Dalam istilah psikologi, kondisi ini disebut sebagai social comparison atau perbandingan sosial. Perbandingan sosial adalah kecenderungan seseorang untuk merasakan hal baik dan buruk dalam dirinya berdasarkan perbandingan dirinya sendiri dengan orang lain.

Sayangnya, tidak semua orang dapat menghadapinya dengan bijak. Alih-alih mendapatkan alasan untuk berbenah diri, hal ini justru membuat banyak orang jadi tertekan dan frustrasi. Pasalnya kebanyakan orang hanya terus membandingkan dirinya dengan orang lain tanpa mau berusaha dan introspeksi diri. Nah, inilah yang membuat orang akhirnya terjebak.

Berhenti membandingkan diri dengan orang lain!

aktif di media sosial

Anda memang membutuhkan seorang yang menginspirasi dan memacu untuk melakukan segala hal lebih baik lagi. Namun, apabila “mengintip” kehidupan orang lain justru malah membuat Anda iri, frustasi, atau bahkan merasa tidak cukup baik, ini adalah tanda Anda harus berhenti membandingkan diri.

Cobalah lihat kembali diri Anda dan kenali kebenaran yang sebenarnya. Daripada Anda fokus memikirkan kelebihan orang lain, Anda lebih baik memperbaiki diri Anda lebih dalam lagi. Dengan begitu, Anda akan lebih menghargai dan mensyukuri apa yang sekarang dimiliki.

Bila hal tersebut masih sangat sulit dilakukan, pertimbangkan untuk mengurangi kebiasaan main media sosial. Caranya yaitu dengan menjadwalkan waktu khusus dalam hari Anda untuk mengecek media sosial. Misalnya setelah Anda pulang beraktivitas yaitu pada pukul 6 sore. Di luar jam itu, jangan membuka media sosial Anda.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Yang Perlu Ortu Lakukan Saat Memergoki Anak Masturbasi

Mengetahui anak Anda melakukan masturbasi mungkin akan menimbulkan rasa kaget pada orang tua. Lalu bagaimana sebaiknya orang tua menyikapi hal tersebut?

Ditulis oleh: Novita Joseph
Parenting, Tips Parenting 8 Oktober 2020 . Waktu baca 4 menit

3 Gerakan Dasar Senam Otak untuk Tingkatkan Fokus dan Kreativitas

Senam tak hanya untuk tubuh, senam otak yang dapat mengasah pikiran Anda dan membuat Anda lebih fokus. Bagaimana gerakan dasar senam otak dilakukan?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Hidup Sehat, Tips Sehat 8 Oktober 2020 . Waktu baca 4 menit

Tanda yang Muncul Jika Anak Anda Jadi Korban Bullying

Bullying bisa terjadi pada siapa saja termasuk anak Anda. Kenali tanda saat anak menjadi korban bullying dalam ulasan berikut.

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Atifa Adlina
Remaja, Kesehatan Mental Remaja, Parenting 1 Oktober 2020 . Waktu baca 10 menit

7 Tanda Stres yang Sering Tidak Anda Sadari

Gejala-gejala berikut ini sering diabaikan dan dianggap normal, padahal ini adalah tanda jika Anda sedang mengalami stres.

Ditulis oleh: Lika Aprilia Samiadi
Hidup Sehat, Psikologi 1 Oktober 2020 . Waktu baca 5 menit

Direkomendasikan untuk Anda

pria sulit menangis

Alasan Psikologis Mengapa Pria Lebih Sulit Menangis Dibanding Wanita

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Yuliati Iswandiari
Dipublikasikan tanggal: 29 Oktober 2020 . Waktu baca 4 menit
KDRT konflik rumah tangga

Alasan Psikologis Mengapa Korban KDRT Susah Lepas dari Jeratan Pasangan

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Dipublikasikan tanggal: 22 Oktober 2020 . Waktu baca 4 menit
tips menghindari perceraian

7 Rahasia Menghindari Perceraian dalam Rumah Tangga

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novita Joseph
Dipublikasikan tanggal: 22 Oktober 2020 . Waktu baca 5 menit
bahaya cyber bullying

Benarkah Bahaya Cyber Bullying Bisa Memicu Bunuh Diri?

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Karinta Ariani Setiaputri
Dipublikasikan tanggal: 14 Oktober 2020 . Waktu baca 4 menit