Depresi adalah penyakit medis umum yang dapat mempengaruhi perasaan, cara berpikir, dan tindakan Anda. Selain dapat menyebabkan perasaan sedih, ternyata depresi juga dapat membuat Anda kehilangan minat dalam menjalankan aktivitas sehari-hari. Akibatnya, hal tersebut dapat menyebabkan berbagai masalah emosional dan fisik Anda.

Depresi sering kali dihubungkan dengan kejadian bunuh diri. Sayangnya, kepercayaan tersebut tidak benar karena nyatanya sebagian besar orang yang mengalami depresi tidak bunuh diri. Namun, jika depresi tidak diobati, maka akan meningkatkan risiko kemungkinan bunuh diri.

Mitos dan fakta seputar depresi dan bunuh diri

Berikut adalah mitos dan fakta depresi dan bunuh diri:

Mitos: Depresi bukan masalah medis yang serius

Depresi adalah kondisi nyata dan serius. Hal ini tidak berbeda dari diabetes atau penyakit jantung jika dilihat dari kemampuannya untuk mempengaruhi kehidupan seseorang. Hal ini dapat memiliki gejala baik emosional dan fisik dan membuat hidup sangat sulit bagi mereka yang memilikinya. Komunitas medis telah mengakui keseriusan depresi dan menganggapnya sebagai penyakit.

Mitos: Depresi akan pergi hilang sendirinya

Meskipun bisa saja depresi akan pergi tanpa diobati, hal tersebut jarang sekali terjadi. Karena biasanya, tanpa pengobatan yang tepat, gejala depresi dapat berlangsung selama berminggu-minggu, bulan atau bahkan bertahun-tahun. Bahkan jika gejala tersebut terus diabaikan, maka depresi dapat menyebabkan bunuh diri.

Mitos: Depresi perlu diobati dengan antidepresan

Tentunya, hal ini tidak berlaku untuk semua kasus depresi karena pengobatan depresi akan sangat bergantung pada tingkat keparahan dan penyebab depresi. Untuk depresi ringan hingga sedang, pilihan pertama pengobatan harus terapi psikologis. Tapi, jika depresi yang parah, dokter mungkin meresepkan obat untuk membantu Anda mengelola hidup Anda.

Mitos: Yang paling berisiko untuk melakukan bunuh diri adalah remaja

Menurut survei utama, gangguan depresi hampir terjadi pada 15 juta orang Amerika (hampir 7% dari populasi orang dewasa) pada tahun tertentu. Sementara depresi adalah penyakit yang dapat menimpa siapa saja setiap saat dalam kehidupan mereka, rata-rata usia dimulainya adalah 32 (meskipun usia dewasa 49-54 tahun adalah kelompok usia dengan tingkat risiko tertinggi untuk mengalami depresi).

Mitos: Negara miskin memiliki tingkat bunuh diri yang lebih tinggi

Negara miskin tidak selamanya memiliki tingkat bunuh diri yang tinggi karena ternyata banyak negara kaya yang memiliki tingkat bunuh diri yang lebih tinggi daripada negara berkembang. Sebagai contoh, terdapat 54 dari setiap 100.000 orang di Rusia, melakukan bunuh diri setiap tahunnya.

Fakta: Semakin besar ketinggian rumah, semakin tinggi risiko bunuh diri

Menurut sebuah studi, semakin besar ketinggian rumah Anda, maka akan semakin tinggi risiko bunuh diri. Tingkat risiko bunuh diri sekitar 70% lebih tinggi di daerah 2.000 meter di ketinggian, misalnya, dibandingkan dengan di permukaan laut.

Fakta: Kreativitas mempengaruhi keinginan bunuh diri

Kreativitas, depresi, dan bunuh diri telah lama dikaitkan, sehingga mungkin tidak mengejutkan bahwa beberapa individu yang paling kreatif dalam sejarah menderita penyakit mental.

Fakta: Riwayat keluarga meningkatkan risiko depresi

Adanya riwayat keluarga depresi di keluarga Anda akan memungkinkan terjadinya peningkatan risiko terjadinya depresi pada anak Anda. Namun meskipun begitu, keluarga (dan teman-teman) dapat berperan dalam mencegah bunuh diri akibat depresi. Dukungan sosial yang kuat dikenal untuk menurunkan risiko bunuh diri akibat depresi.

Fakta: Kebanyakan usaha bunuh diri berakhir gagal

Untungnya, hanya 1 dari setiap 10 sampai 25 upaya bunuh diri dapat menyebabkan kematian.

Fakta: Pengobatan dapat menurunkan keinginan bunuh diri

Tentunya, tidak ada cara untuk mencegah bunuh diri. Namun, keberhasilan pengobatan gangguan psikis dapat mengurangi risiko atau keinginan seseorang untuk melakukan bunuh diri.

Fakta: Bunuh diri dapat “menular”

Paparan orang lain yang melakukan bunuh diri dapat meningkatkan kemungkinan orang yang berada disekitarnya juga berkeinginan untuk melakukan bunuh diri.

Fakta: Pria lebih berisiko untuk melakukan bunuh diri

Meskipun jumlah perempuan yang mencoba bunuh diri tiga kali lipat daripada laki-laki, namun ternyata, jumlah laki-laki yang benar-benar melakukan bunuh diri adalah empat kali lebih banyak daripada perempuan.

Ingin hidup lebih sehat dan bahagia?
Dapatkan update terbaru dari Hello Sehat seputar tips dan info kesehatan
Yang juga perlu Anda baca