Kehidupan yang semakin maju dan cepat membuat tantangan hidup semakin beragam. Tantangan hidup yang mampu kita atasi mungkin dapat menghasilkan sebuah prestasi, namun beda halnya jika tantangan hidup tersebut tidak mampu diatasi. Perasaan tertekan, rendah diri, dan putus asa dapat dengan mudah datang menghinggapi. Keadaan emosional yang demikian, jika berlangsung terus menerus dapat jatuh pada keadaan depresi, salah satunya depresi terselubung yang jarang disadari.

Apa itu depresi terselubung?

Selama bertahun-tahun, berbagai penelitian dilakukan untuk menilai depresi terselubung. Depresi terselubung adalah gejala perasaan tertekan dalam diri orang-orang yang secara keseluruhan tergolong normal. Jadi, orang yang bersangkutan sebenarnya terlihat normal, dalam arti tidak menunjukan gejala kelainan jiwa, akan tetapi, terkadang menunjukkan perilaku yang bersifat depresif. Gejala depresinya tidak terlalu kentara, melainkan terselubung atau tersembunyi dalam keseluruhan perilaku normalnya di kehidupan sehari-hari.

Individu dengan gangguan depresi terselubung sering mendapat kesulitan dalam perilaku sehari-harinya. Gangguan ini tidak hanya menghambat dirinya saja, akan tetapi secara tidak langsung dapat mengganggu kehidupan di lingkungannya, terutama saat fase depresifnya sedang muncul.

Bila keadaan ini dibiarkan terus menerus, maka kepribadiannya pun akan mengalami gangguan dan bukan mustahil dapat menjadi depresi yang sebenarnya. Sudah tentu keadaan ini amat kurang menguntungkan bagi perkembangan diri orang tersebut dan orang-orang lain di sekitarnya. Dan dalam konteks yang lebih luas, dapat berpengaruh kepada kehidupan masyarakat secara keseluruhan.

Oleh karena itu, masalah depresi terselubung tidak dapat dipandang sebelah mata. Masalah ini dapat melibatkan semua pihak dan harus mendapat perhatian untuk pencegahan dan pengobatan.

Mendeteksi gejala depresi terselubung

Gejalanya yang samar dan umumnya terdapat pada orang normal, membuat diagnosis depresi terselubung (masked depresion) menjadi sulit. Namun, masing-masing individu sebenarnya dapat mengenali tanda-tandanya. Syaratnya, harus jujur kepada diri sendiri dan tidak menyangkal bila gejala tersebut ada pada diri kita. Berbagai penelitian dikembangkan untuk membuat daftar gejala yang dapat digunakan secara mandiri. Berikut checklist tersebut:

Gejala fisik dari depresi terselubung:

  • Kehilangan nafsu makan, tanpa alasan yang jelas.
  • Berat badan cenderung menurun karena hilangnya nafsu makan.
  • Mudah lelah dalam melakukan kegiatan-kegiatan fisik.
  • Badan selalu terasa lemah, kurang bergairah, tak bertenaga, dan sebagainya.
  • Mengalami gangguan tidur, misalnya sukar tidur, diganggu oleh mimpi-mimpi buruk, dan sebagainya.
  • Menstruasi yang tidak teratur (pada wanita).
  • Sembelit, yaitu susah buang air besar.
  • Berkurangnya dorongan seks.
  • Lemah syahwat (impotensi) pada pria, dan rendahnya libido pada wanita.

Gejala emosional dari depresi terselubung:

  • Suasana batin yang kurang menentu dan tidak tenteram.
  • Selalu cemas dalam menghadapi berbagai hal, walaupun hal tersebut sepele untuk sebagian besar orang.
  • Diliputi perasaan sedih yang terus menerus tanpa alasan yang jelas.
  • Marah-marah yang tidak jelas arah dan alasannya.
  • Perasaan berdosa tanpa alasan yang jelas, atas segala perbuatan-perbuatan yang selalu dilakukannya.

Gejala kognitif dari depresi terselubung:

  • Konsep diri yang negatif dan memandang diri sendiri tidak berharga.
  • Harapan-harapan yang bersifat negatif.
  • Mengkritik diri sendiri terus menerus dan cenderung tidak puas terhadap hasil yang sudah diraih sebelumnya
  • Cenderung mengutuk diri sendiri.
  • Ragu-ragu dalam membuat keputusan Memiliki pandangan yang negatif terhadap dunia luar.
  • Tidak berdaya dan putus asa terhadap masa depannya.
  • Diliputi oleh keyakinan-keyakinan tertentu yang kurang masuk akal.

Gejala motorik dari depresi terselubung:

  • Selalu gelisah dan tidak tahu arah dan tindakan secara jelas.
  • Menangis yang kurang jelas alasannya, dan sering dilakukan.
  • Ritme tindakan yang lamban dalam kegiatan sehari-hari
  • Berusaha menghindar terhadap berbagai rangsangan atau menghindari orang lain, sekali pun keluarga atau sahabat
  • Gangguan halusinasi yaitu mengamati (mendengar, melihat, meraba, dan sebagainya) sesuatu tanpa kehadiran objeknya.

Nah, dari sejumlah daftar di atas apakah Anda pernah memilikinya? Jika ya, jangan lupa untuk terus mendekat pada Tuhan. Bila perlu, segeralah meminta bantuan orang lain untuk keluar dari fase tersebut, mulai dari keluarga terdekat, sahabat, atau kerabat untuk berbagi masalah yang membuat diri Anda tertekan. Apabila Anda terus mengalami gejala-gejala tersebut dan kesulitan untuk mengatasi, ada baiknya Anda menghubungi dokter atau psikolog. Selamat merefleksi diri.

BACA JUGA:

Sumber
Yang juga perlu Anda baca