Berbagai Gangguan Kesehatan Akibat Body Image Negatif

Ditinjau secara medis oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 22/01/2020
Bagikan sekarang

Kita semua pasti memiliki sesuatu yang tidak kita sukai tentang penampilan kita – hidung terlalu pesek, kulit terlalu gelap, postur badan pendek atau terlalu tinggi, atau mata yang terlalu besar atau terlalu kecil. Biasanya kita menyadari itu adalah bagian dari ketidaksempurnaan kita, dan tidak mengganggu kehidupan sehari-hari.

Namun, media memainkan peran yang sangat besar dalam menciptakan suatu standar penampilan diri yang tidak realistis, yang pada akhirnya “memaksa” kita membangun persepsi atas tubuh kita untuk mengikuti standar tersebut agar bisa diterima oleh masyarakat—terutama dari segi idealitas kecantikan dan ekspektasi bentuk tubuh.

Ketika citra tubuh menjadi fokus utama, Anda mungkin cenderung melebih-lebihkan ukuran atau berat badan Anda, atau berpikir bahwa tubuh Anda harus lebih montok atau lebih langsing. Saat persepsi citra tubuh menjadi tercampur aduk dengan kepribadian dan penghargaan diri, ini bisa berarti bahwa ada masalah yang lebih dalam yang dapat menyebabkan gangguan makan.

Tidak ada penyebab tunggal atas ketidakpuasan tubuh atau gangguan pola makan. Tapi, berbagai penelitian membuktikan bahwa media memang memberikan kontribusi dalam porsi yang tidak main-main terhadap citra tubuh ideal, dan bahwa ekpos dan tekanan yang diberikan oleh media bisa meningkatkan rasa ketidakpuasan tubuh dan gangguan pola makan.

Dampak body image negatif terhadap kesehatan mental

Depresi

Remaja yang memiliki citra diri negatif lebih mungkin mengalami depresi, kecemasan, dan kecenderungan pemikiran dan/atau percobaan bunuh diri daripada kelompok remaja yang bisa menerima penampilan tubuh mereka apa adanya, bahkan jika dibandingkan dengan remaja pengidap penyakit kejiwaan lainnya, menurut sebuah studi terbaru oleh tim peneliti gabungan dari Bradley Hospital, Butler Hospital, dan Brown Medical School.

Contohnya, komentar “gendut”. Analisa Arroyo, PhD, dan Jake Harwood, Ph.D dari Univeristy of California mengkolaborasikan dua penelitian terpisah untuk mencari tahu apakah jenis komentar seperti ini adalah penyebab atau hasil dari kekhawatiran berat tubuh ideal dan isu kesehatan mental lainnya.

Peneliti mendeskripsikan komentar “gendut” sebagai segala jenis komentar dari orang lain mengenai apa yang partisipan makan dan olahraga yang seharusnya mereka lakukan, kecemasan mereka tentang kelebihan berat badan, bagaimana mereka memandang berat dan bentuk badan mereka, juga bagaimana mereka terlibat dalam membuat perbandingan dengan orang lain terhadap isu ini.

Hasilnya, secara keseluruhan, terlepas dari gender atau indeks massa tubuh (BMI) partisipan, semakin sering mereka berpartisipasi dalam komentar-komentar seperti ini, semakin rendah kepuasan mereka terhadap tubuh mereka sendiri dan semakin tinggi tingkat depresi yang mereka idap setelah tiga minggu. Dari dua penelitian terpisah ini, peneliti menyimpulkan bahwa gangguan pola makan, kekhawatiran akan citra tubuh untuk menjadi langsing, dan gangguan mental memang merupakan hasil dari terlibat dalam komentar “gendut”, bukan hanya dari mendengarkan saja.

Body Dysmorphia Disorder

Body dysmorphia (BDD) klasik adalah obsesi citra tubuh yang ditandai dengan kekhawatiran terus menerus hingga taraf mengganggu tentang ‘cacat’ fisik dan penampilan yang dibayangkan, atau perhatian yang sangat berlebihan tentang kekurangan tubuh yang sangat minimal, seperti hidung bengkok atau kulit yang tidak sempurna. BDD yang terkait dengan berat badan diklasifikasikan sebagai obsesi yang merusak terhadap berat dan bentuk badannya, misalnya, berpikir paha terlalu gemuk atau pinggang terlalu besar.

Pada kenyataannya, ‘cacat’ yang dirasakan mungkin hanya berupa ketidaksempurnaan minim, atau bahkan tidak ada sama sekali. Tapi untuk mereka, cacat tersebut dinilai sangat signifikan dan menonjol hingga menyebabkan tekanan emosional yang parah dan kesulitan dalam fungsi sehari-hari.

BDD paling sering timbul pada remaja dan dewasa, dan penelitian menunjukkan bahwa hal ini mempengaruhi laki-laki dan perempuan hampir sama besarnya.

Penyebab BDD tidak jelas, tetapi faktor biologis dan lingkungan tertentu dapat berkontribusi untuk pengembangannya, termasuk kecenderungan genetik, faktor neurobiologis seperti gangguan fungsi serotonin di otak, ciri-ciri kepribadian, dan pengalaman hidup.

Obsesi ini membuat sulit bagi orang-orang dengan BDD untuk fokus pada apa pun kecuali ketidaksempurnaan mereka. Hal ini dapat menyebabkan rendah diri, menghindari situasi sosial, dan masalah di tempat kerja atau sekolah. Orang dengan BDD berat dapat menghindari meninggalkan rumah mereka sama sekali dan bahkan mungkin memiliki pikiran bunuh diri atau melakukan upaya bunuh diri.

Penderita BDD dapat melakukan beberapa jenis perilaku kompulsif atau berulang untuk mencoba menyembunyikan atau menyamarkan kekurangan mereka meskipun perilaku ini biasanya hanya memberikan jalan keluar sementara, contohnya: kamuflase makeup, ukuran baju, gaya rambut), memilih prosedur operasi plastik, pengawasan diri di cermin secara obsesif, menghindari cermin, menggaruk kulit, dan sebagainya.

Anoreksia Nervosa

Banyak orang yang mengira bahwa anoreksia adalah kondisi yang dialami oleh satu individu secara sukarela.

Anoreksia adalah gangguan jiwa yang paling mematikan, membawa peningkatan risiko kematian hingga enam kali lipat – empat kali risiko kematian akibat depresi berat. Kemungkinannya bahkan lebih buruk bagi orang-orang pertama kali didiagnosis dengan anoreksia saat berusia 20-an. Mereka memiliki 18 kali risiko kematian dibandingkan orang sehat di kelompok usia yang sama menurut sebuah analisis literatur medis oleh Jon Arcelus, MD, PhD, dari University of Leicester, Inggris. Jika dibiarkan tanpa pengobatan, gangguan makan dapat mengambil alih kehidupan seseorang dan menyebabkan komplikasi medis serius yang berpotensi fatal. Meskipun gangguan makan yang umumnya terkait dengan perempuan, hal ini mempengaruhi laki-laki hampir sama besarnya.

Pengidap anoreksia nervosa mungkin melihat diri mereka sebagai orang yang kelebihan berat badan, bahkan ketika sebenarnya mereka memiliki berat badan jauh di bawah standar yang sehat.

Anoreksia menyebabkan pengidapnya untuk menyangkal kebutuhan makanan untuk dirinya sendiri hingga ke titik kelaparan yang disengaja saat ia terobsesi tentang penurunan berat badan. Selain itu, pengidap anoreksia akan menyangkal rasa kelaparan tersebut dan tetap menolak untuk makan, tetapi di saat lain ia akan membalasnya makan berlebihan dan kembali membuang asupan kalori dengan memuntahkan makanan atau berolahraga mati-matian di luar batas toleransi tubuhnya.

Gejala emosional anoreksia termasuk cepat marah, menarik diri dari situasi sosial, kurangnya mood atau emosi, tidak mampu memahami keseriusan dari situasi yang ia idap, takut makan di di depan publik dan obsesi dengan makanan dan olahraga. Seringkali pengidap anoreksia akan mengembangkan ritual makanan sendiri atau membuang keseluruhan makanan dari pola makannya, karena takut menjadi “gemuk”.

Bulimia Nervosa

Pengidap bulimia menunjukkan kehilangan kontrol saat makan dalam porsi besar di waktu singkat, kemudian mengerahkan segala kemampuan diri untuk membuang asupan kalori dengan memaksakan muntah, olahraga mati-matian, atau penyalahgunaan obat pencahar.

Perilaku ini kemudian tumbuh menjadi siklus berulang yang mengontrol banyak aspek kehidupan pengidapnya dan membawa sejumlah dampak buruk, baik secara emosional maupun fisik. Pengidap bulimia biasanya memiliki berat tubuh normal, atau bisa sedikit kelebihan berat badan.

Gejala emosional bulimia termasuk rendah diri amat parah yang berkaitan dengan citra tubuh, perasaan tidak bisa mengontrol diri, merasa bersalah atau malu terhadap aktivitas makan, dan penarikan diri dari lingkungan sekitar.

Seperti anoreksia, bulimia juga akan berdampak pada kerusakan tubuh. Siklus makan dan muntah berlebihan bisa merusak organ-organ tubuh yang terlibat dalam sistem pencernaan, gigi yang rusak akibat abrasi dari muntah, dan maag. Muntah berlebihan juga bisa menyebabkan dehidrasi yang bisa berujung pada serangan jantung aritmia, gagal jantung, bahkan kematian.

BACA JUGA:

Baca Juga:

    Apakah artikel ini membantu Anda?
    happy unhappy"

    Yang juga perlu Anda baca

    Kesehatan Mental Karyawan Kena PHK Karena Pandemi COVID-19

    PHK secara tiba-tiba karena COVID-19 berpotensi menimbulkan masalah bagi para karyawan, terutama pada kesehatan mental mereka.

    Ditinjau secara medis oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
    Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
    Coronavirus, COVID-19 15/04/2020

    Bagaimana Atlet Menjaga Fisik dan Mental Selama Pandemi COVID-19?

    Saat pandemi COVID-19 semua kejuaraan olahraga harus tertunda, ini bisa mempengaruhi performa, kesehatan fisik, dan kesehatan mental para atlet.

    Ditinjau secara medis oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
    Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
    Coronavirus, COVID-19 14/04/2020

    Curiga Terjadi Gangguan Makan pada Anak? Lakukan 6 Langkah Ini

    Bila terjadi perubahan drastis pada pola makan anak, patut dicurigai ada gangguan makan pada anak. Apa yang harus orangtua lakukan?

    Ditinjau secara medis oleh: dr Mikhael Yosia
    Ditulis oleh: Ihda Fadila

    Berbagai Faktor yang Membuat Anak Butuh Susu Penambah Berat Badan

    Ketika angka di timbangan anak balita tidak sesuai dengan usianya, minum susu penambah berat badan menjadi salah satu cara. Berikut penjelasan lengkapnya.

    Ditinjau secara medis oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Riska Herliafifah

    Direkomendasikan untuk Anda

    diagnosis hiv

    Apa Bedanya Stres dan Depresi? Kenali Gejalanya

    Ditinjau secara medis oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
    Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
    Dipublikasikan tanggal: 26/05/2020
    crab mentality adalah

    Crab Mentality, Sindrom Psikologis yang Menghambat Orang Lain untuk Sukses

    Ditinjau secara medis oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
    Ditulis oleh: Nabila Azmi
    Dipublikasikan tanggal: 13/05/2020
    pentingnya support system

    5 Alasan Pentingnya Punya Tim Support System untuk Kesehatan Mental

    Ditinjau secara medis oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Atifa Adlina
    Dipublikasikan tanggal: 07/05/2020
    Manfaat yoga bridge pose

    Manfaat Rutin Melakukan Yoga Bridge Pose pada Fisik dan Mental

    Ditinjau secara medis oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
    Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
    Dipublikasikan tanggal: 06/05/2020