Bagaimana Cara Mengendalikan Ego yang Tinggi?

Ditinjau secara medis oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 15/12/2017
Bagikan sekarang

Banyak orang yang mengeluhkan bahwa orang terdekatnya punya ego tinggi. Atau, justru Anda sendirilah yang punya ego setinggi langit? Memang, apa, sih, ego itu? Kenapa punya ego tinggi selalu dikaitkan dengan karakter yang negatif?

Apakah ego Anda tinggi?

Cara termudah untuk menentukan apakah ego Anda sedang bermain adalah mengajukan salah satu dari dua pertanyaan berikut:

  • Apakah saya merasa lebih unggul dari orang lain?
  • Apakah saya merasa minder terhadap orang lain?

Jika Anda menjawab ya untuk salah satu dari pertanyaan di atas, maka kemungkinan ego Anda sedang mengambil alih pikiran Anda.

Ego adalah bagian dari kepribadian Anda

Sigmun Freud, seorang psikolog kenamaan, pernah mengatakan bahwa kepribadian manusia terdiri dari tiga komponen utama: id, ego, dan superego. Sederhananya, ego adalah bagian dari identitas yang kita bangun sendiri.

Semua keyakinan yang Anda pegang teguh seputar prinsip, aspek kepribadian, bakat, hingga keterampilan dan/atau kemampuan Anda, turut membangun ego. Itu sebabnya ego seringkali dikaitkan dengan rasa percaya diri atau harga diri. Ego adalah bagian diri yang bertujuan untuk mencari persetujuan dari orang sekitar.

Pada akhirnya, ego membantu Anda membentuk citra diri sendiri. Citra diri dibentuk ketika kita memiliki gagasan tentang suatu aspek diri yang juga kita setujui. Misalnya saja, “Saya tidak pandai matematika,” atau “Saya pintar,” atau “Tidak ada yang menyukaiku,” atau “Aku lebih baik daripada kamu.”

Dengan mempercayai hal-hal ini, Anda juga lambat laun mencerminkan gagasan tersebut dalam segala tindak-tanduk sehari-hari sehingga Anda memang tampak tidak pandai matematika, misalnya — padahal pada kenyataannya, mungkin tidak demikian.

Ego bisa dikatakan sebagai kulit lapisan perlindungan terluar yang Anda bangun selama ini. Ego selalu fokus pada kepentingan mengutamakan diri sendiri dan tidak peduli pada realita yang dimiliki orang lain. Ego juga yang bermain dalam pikiran Anda, bahwa ketika terjadi suatu masalah, orang lainlah yang harus disalahkan, sedangkan Anda selalu dalam posisi yang benar.

Itu sebabnya kadang ego menjadi pertanda karakter yang kurang terpuji.

ego tinggi

Berbagai cara mengendalikan ego yang tinggi

Pada dasarnya ego tidak selalu negatif. Ego bisa menjadi suatu hal yang positif jika Anda tahu cara mengendalikannya. Penelitian menunjukkan bahwa orang yang tidak menempatkan ego di atas segalanya adalah orang yang paling bahagia.

1. Memahami bahwa hidup adalah proses

Ego tidak peduli dengan proses. Asalkan bisa mendapatkan hasil yang diinginkan dan jauh mengungguli yang lain, ego sudah bisa terpuaskan. Sayangnya, mengikuti ego tinggi membuat Anda tidak bisa menikmati hidup.

Ego akan selalu membuat Anda merasa seperti pecundang, jika tidak berhasil mencapai sesuatu. Untuk itu, atasi ego Anda dengan menikmati setiap proses dalam hidup dan berusaha dengan sebaik-baiknya.

Ketika Anda menanamkan dalam pikiran bahwa hidup adalah perjalanan bukan tujuan, maka Anda akan menyadari bahwa proses itulah yang jauh lebih penting ketimbang hasil. Dalam proses kita melewati berbagai fase dari mulai senang, sedih, marah, dan hal lainnya yang dapat membuat hidup jauh lebih bermakna. Anda pun jadi bisa belajar dari asam garam pengalaman lalu.

2. Jangan menyiksa diri dengan berandai “bagaimana jika” atas sesuatu yang telah terjadi

Anda harus mengakui bahwa dalam hidup, tidak semua hal berjalan sesuai kehendak. Ada kalanya, sesuatu berjalan berkebalikan dengan yang Anda harapkan dan itulah jalan terbaiknya yang seharusnya terjadi.

Menyesali hal-hal yang telah terjadi dan memikirkannya terlalu dalam tidak akan mengubah apapun. Ego Anda akan mengarahkan pada pemikiran negatif lainnya jika Anda tidak mengendalikannya. Perlu diingat bahwa apa yang Anda inginkan tidak selalu apa yang Anda butuhkan.

3. Jangan membandingkan diri sendiri dengan orang lain

Ego adalah hasrat dalam diri untuk selalu membandingkan kelayakan Anda dengan orang lain. Jika pencapaian Anda dirasa tidak sesukses dengan teman sebelah, ego akan menghukum Anda dan membuat Anda merasa rendah dan tidak berguna.

Jika Anda tidak bisa mengendalikannya, maka sama saja Anda tidak menghargai diri sendiri. Sebaliknya, jika dalam suatu prestasi Anda berhasil dan mengalahkan orang lain, ego akan membuat Anda percaya bahwa Anda lebih unggul dan tak terkalahkan.

Pada dasarnya membandingkan diri dengan orang lain boleh saja, selama dalam konteks yang positif. Namun Anda tetap harus bisa menilai diri secara subjektif. Setiap manusia adalah individu yang unik dan tidak bisa dibandingkan satu sama lain. Dengan tidak berusaha membandingkan diri dengan orang lain, Anda akan lebih fokus untuk belajar menghargai diri sendiri.

4. Ketahui motivasi Anda

Dalam mengerjakan segala sesuatu, Anda harus tahu apa yang mendorong Anda melakukan hal tersebut. Ego akan memaksa Anda untuk termotivasi oleh apa yang akan dicapai dan dikuasai, sedangkan diri Anda biasanya berkata sebaliknya.

Anda ingin melakukan suatu hal karena merasa akan mendapatkan pembelajaran berharga yang penting untuk bekal hidup. Perlu diingat, Anda selalu bisa belajar dari sebuah proses meskipun tidak berhasil.

5. Berlatih untuk memaafkan dan ikhlas 

Cara yang paling ampuh untuk belajar melepaskan ego adalah menjadi pribadi yang pemaaf. Anda harus belajar memaafkan orang-orang yang menyakiti Anda dan yang terpenting belajar untuk memaafkan diri sendiri. Mengikhlaskan segala sesuatu yang tidak dapat Anda kendalikan menjadi cara sederhana untuk mengendalikan ego.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Manfaat Masak Sendiri bagi Kesehatan Fisik dan Mental

Saat mengakhiri hari yang sibuk, makan di luar rasanya menjadi pilihan tercepat dan mudah, padahal masak makanan sendiri punya banyak manfaat lho.

Ditinjau secara medis oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu

Teman Divonis Autoimun, Lakukan 5 Hal Ini untuk Menyemangatinya

Mendengar teman divonis sakit autoimun, ini saatnya Anda memberi dukungan yang tepat agar ia tetap semangat dan tidak merasa sendiri.

Ditinjau secara medis oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
Ditulis oleh: Maria Amanda

KDRT dan Konflik Rumah Tangga Selama COVID-19 di Indonesia

Kondisi pandemi bisa membuat hal-hal kecil menjadi pertengkaran antara suami istri, tapi konflik rumah tangga ini tidak serta-merta merupakan KDRT.

Ditinjau secara medis oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Coronavirus, COVID-19 22/04/2020

Tips Mengatasi Rasa Insecure yang Sering Muncul

Rasa insecure bisa dirasakan oleh siapa saja, terkadang kebiasaan membanding-bandingkan diri dengan orang lain tidak bisa tertahankan.

Ditinjau secara medis oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Winona Katyusha

Direkomendasikan untuk Anda

diagnosis hiv

Apa Bedanya Stres dan Depresi? Kenali Gejalanya

Ditinjau secara medis oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Dipublikasikan tanggal: 26/05/2020
stres anak saat pandemi

Bagaimana Cara Membantu Anak Atasi Stres Saat Pandemi COVID-19?

Ditinjau secara medis oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 17/05/2020
Manfaat detoks digital

Apa Itu Detoks Digital dan Manfaatnya bagi Kesehatan

Ditinjau secara medis oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 15/05/2020
Kelulusan saat pandemi

Fenomena Kelulusan Pelajar dan Mahasiswa yang Dilewatkan Akibat Pandemi

Ditinjau secara medis oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 13/05/2020