Berbagai Penyakit yang Membuat Anda Berhalusinasi

Ditinjau secara medis oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 27/10/2019
Bagikan sekarang

Halusinasi adalah persepsi suara, bau, penglihatan, pengecap, dan perasaan yang kita rasakan, meskipun pada kenyataannya tidak benar-benar ada secara fisik. Sensasi ini dapat terjadi tanpa stimulus atau dorongan apapun. Pada dasarnya, asal usul kata “halusinasi” mengandung dua unsur, yaitu mimpi dan kebingungan. Oleh karena itu, halusinasi dapat diartikan sebagai sesuatu keadaan yang tidak nyata, membingungkan, dan bersifat sementara. Ada banyak penyebab halusinasi, salah satunya adalah dari penyakit mental seperti skizofrenia atau masalah sistem saraf seperti penyakit Parkinson. Untuk mengetahui apa saja faktor penyebab halusinasi, mari kita lihat di bawah ini.

Berbagai penyebab halusinasi

1. Skizofrenia

Lebih dari 70% dari orang yang menderita gangguan mental ini akan mengalami halusinasi visual, dan sekitar 60-90% dapat mendengar suara-suara yang sebenarnya tak ada. Namun, beberapa juga mungkin dapat mencium bau dan mengecap sesuatu yang sebenarnya tidak ada.

2. Parkinson

Hingga separuh dari orang-orang yang memiliki kondisi ini kadang melihat hal-hal yang sebenarnya tidak ada.

3. Alzheimer dan bentuk lain dari demensia

Kedua penyakit ini menyebabkan perubahan dalam otak yang dapat membawa seseorang pada halusinasi. Ini mungkin akan sering terjadi jika penyakit yang Anda alami semakin parah.

4. Migrain

Sekitar sepertiga dari orang-orang dengan jenis sakit kepala migrain memiliki “aura”, salah satu jenis dari halusinasi visual. Aura biasanya terlihat seperti cahaya bulan sabit yang berwarna warni.

5. Tumor otak

Halusinasi dapat terjadi tergantung pada lokasi tumor di otak. Jika tumor berada di daerah yang berkaitan dengan penglihatan, maka Anda dapat memiliki halusinasi visual. Anda mungkin akan melihat bintik-bintik atau bentuk cahaya. Tumor pada bagian lain di otak juga dapat menyebabkan halusinasi penciuman dan pengecapan.

6. Sindrom Charles Bonnet

Kondisi ini menyebabkan orang-orang yang memiliki masalah kesehatan seperti degenerasi makula, glaukoma, atau katarak untuk mengalami halusinasi visual. Pada awalnya, Anda mungkin tidak menyadari bahwa itu adalah halusinasi, tapi pada akhirnya Anda akan mengetahui bahwa hal yang Anda lihat itu tidak nyata.

7. Epilepsi

Kejang yang disertai dengan epilepsi dapat membuat Anda lebih mungkin untuk memiliki halusinasi. Jenis yang Anda dapatkan tergantung pada bagian otak yang terpengaruh.

8. Disabilitas

Orang dengan masalah sensorik yang sangat spesifik, seperti buta atau tuli sering mengalami halusinasi. Orang-orang yang tuna rungu sering mengatakan bahwa mereka mendengar suara-suara. Demikian pula dengan mereka pernah mengalami amputasi kaki, akan merasakan phantom limb (halusinasi memiliki anggota tubuh yang telah diamputasi) dan bahkan phantom pain (halusinasi merasakan rasa sakit pada anggota tubuh yang tidak ada).

9. Post-traumatic stress disorder (PTSD)

Mereka yang memiliki PTSD sering mengalami kilas balik. Ketika mereka mendengar suara-suara tertentu atau mendeteksi bau tertentu, mereka akan terkenang kembali pada trauma yang mereka alami, seperti saat perang dan kecelakaan, dan mungkin memiliki halusinasi kilas balik yang kuat dari peristiwa tertentu. Pada saat mengalami stres yang luar biasa dan pada saat berduka, beberapa orang mendengar suara-suara yang menentramkan dan dapat menenangkan mereka.

Obat-obatan juga bisa memicu halusinasi

Selain berbagai penyakit di atas, zat dan bat-obatan terlarang, termasuk alkohol, ganja, kokain, heroin, dan LSD (lysergic acid diethylamide) juga dapat menginduksi halusinasi. Ilmuwan otak tahu bahwa merangsang bagian tertentu dari otak dapat menyebabkan halusinasi mati rasa, kesemutan, kepanasan, atau mengalirnya air. Pasien dengan kerusakan otak atau masalah degeneratif mungkin mengalami halusinasi penciuman (hampir selalu berupa bau yang tidak menyenangkan) atau aural gustatory (halusinasi pengecapan) yang mungkin menyenangkan ataupun tidak menyenangkan. Demikian pula dengan masalah neurologis tertentu, dari epilepsi yang relatif umum hingga penyakit langka Ménière, telah berkaitan dengan halusinasi yang sangat spesifik dan terkadang aneh.

Yang perlu dilakukan saat mengalami halusinasi

Jika Anda mengalami halusinasi, ada baiknya untuk berkonsultasi dengan dokter. Dokter mungkin meresepkan pimavanserin (Nuplazid). Obat ini telah efektif dalam mengobati halusinasi dan delusi terkait dengan psikosis yang mempengaruhi beberapa orang dengan penyakit Parkinson.

Sesi dengan terapis juga juga dapat membantu Anda. Misalnya, terapi perilaku kognitif, yang berfokus pada perubahan dalam berpikir dan berperilaku, membantu beberapa orang untuk mengelola gejala mereka dengan lebih baik.

BACA JUGA:

Baca Juga:

    Apakah artikel ini membantu Anda?
    happy unhappy"
    Sumber

    Yang juga perlu Anda baca

    Perkuat Otak Lansia dengan Rutin Melakukan Aktivitas Sehat Ini

    Berkurangnya kemampuan ingatan jangka pendek adalah proses penuaan yang normal bagi lansia. Namun, bagaimana jika ada aktivitas sehat untuk otak lansia?

    Ditinjau secara medis oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
    Ditulis oleh: Nabila Azmi

    Manfaat Masak Sendiri bagi Kesehatan Fisik dan Mental

    Saat mengakhiri hari yang sibuk, makan di luar rasanya menjadi pilihan tercepat dan mudah, padahal masak makanan sendiri punya banyak manfaat lho.

    Ditinjau secara medis oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
    Ditulis oleh: Ulfa Rahayu

    Teman Divonis Autoimun, Lakukan 5 Hal Ini untuk Menyemangatinya

    Mendengar teman divonis sakit autoimun, ini saatnya Anda memberi dukungan yang tepat agar ia tetap semangat dan tidak merasa sendiri.

    Ditinjau secara medis oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
    Ditulis oleh: Maria Amanda

    KDRT dan Konflik Rumah Tangga Selama COVID-19 di Indonesia

    Kondisi pandemi bisa membuat hal-hal kecil menjadi pertengkaran antara suami istri, tapi konflik rumah tangga ini tidak serta-merta merupakan KDRT.

    Ditinjau secara medis oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
    Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
    Coronavirus, COVID-19 22/04/2020

    Direkomendasikan untuk Anda

    diagnosis hiv

    Apa Bedanya Stres dan Depresi? Kenali Gejalanya

    Ditinjau secara medis oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
    Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
    Dipublikasikan tanggal: 26/05/2020
    stres anak saat pandemi

    Bagaimana Cara Membantu Anak Atasi Stres Saat Pandemi COVID-19?

    Ditinjau secara medis oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
    Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
    Dipublikasikan tanggal: 17/05/2020
    Manfaat detoks digital

    Apa Itu Detoks Digital dan Manfaatnya bagi Kesehatan

    Ditinjau secara medis oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
    Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
    Dipublikasikan tanggal: 15/05/2020
    Kelulusan saat pandemi

    Fenomena Kelulusan Pelajar dan Mahasiswa yang Dilewatkan Akibat Pandemi

    Ditinjau secara medis oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
    Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
    Dipublikasikan tanggal: 13/05/2020