Apa keluhan Anda?

close
Tidak akurat
Susah dipahami
Yang lainnya

Hal yang Perlu Anda Lakukan Saat Menghadapi Bencana Tsunami

Hal yang Perlu Anda Lakukan Saat Menghadapi Bencana Tsunami

Sebagai negara kepulauan, masyarakat Indonesia perlu memahami cara menghadapi bencana alam, seperti tsunami. Tidak sedikit daerah di Indonesia yang mengalami gelombang tsunami. Itulah mengapa masyarakat perlu mengerti tata cara dan penyelamatan dalam menghadapi tsunami. Berikut penjelasan lengkap seputar penyelamatan dan penanganan bencana alam tsunami.

Hal yang perlu Anda lakukan saat menghadapi bencana tsunami

Tsunami berasal dari bahasa Jepang, yakni tsu yang artinya pelabuhan dan nami yang artinya gelombang.

Bencana alam ini terkenal sebagai gelombang pelabuhan karena daya hancurnya baru tampak ketika gelombang itu sampai ke pelabuhan atau pantai.

Mengutip dari Ready, gerakan lapisan tanah dasar laut dapat menyebabkan gelombang tsunami dengan pola kecepatan dan tinggi gelombang.

Semakin dekat gelombang menghampiri pantai, ketinggiannya akan meningkat sementara kecepatan menurun.

Indonesia menghadapi tsunami paling besar dalam sejarah, yaitu tsunami Aceh dan Sumatera Utara pada 26 Desember 2004 lalu.

Peristiwa memilukan tersebut menelan 200.000 korban jiwa dengan tinggi gelombang mencapai ketinggian 30 meter.

Bencana alam tersebut merupakan satu dari 75 bencana gelombang tsunami yang melanda Indonesia dalam 100 tahun terakhir.

Berikut adalah beberapa informasi dari Palang Merah Indonesia (PMI) yang harus Anda ketahui sebagai cara menghadapi bencana tsunami.

Mulai dari sebelum, saat bencana berlangsung, dan sesudah tsunami.

pertolongan pertama pada korban bencana alam

Sebelum tsunami

Semua orang pasti tidak ingin menghadapi bencana alam, tetapi Anda bisa melakukan beberapa persiapan sebelum tsunami datang.

Pertama adalah mengenal tanda-tanda terjadinya tsunami, yaitu:

  • gempa bumi besar paling tidak berkekuatan 6,5 magnitudo,
  • air laut surut melewati garis pantai normal, dan
  • biasanya tercium aroma garam yang menyengat.

Jika Anda tinggal di tepi pantai, ketahui jalur evakuasi ke tempat yang aman, seperti:

  • jalur tercepat ke tempat tinggi yang tidak terjangkau oleh gelombang tsunami dan atau
  • pilih gedung tinggi (minimal 3 lantai) dengan konstruksi yang kuat.

Anda tetap harus waspada karena bencana tsunami akan datang secara tiba-tiba.

Ketika tsunami datang

Saat air laut mulai naik ke daratan, tentu Anda akan merasa panik. Ini adalah perasaan wajar karena terkejut dengan keadaan yang tiba-tiba berubah.

Namun, Anda perlu berpikir jernih dengan cepat setelah kepanikan itu datang.

Berikut beberapa hal yang perlu Anda lakukan saat menghadapi tsunami.

  • Bergerak sesuai dengan jalur evakuasi tsunami.
  • Jika tidak mengetahui jalur evakuasi, bergerak ke tempat yang lebih tinggi (ketinggian air akibat gelombang tsunami bisa mencapai 24 meter).
  • Ajak keluarga dan orang-orang sekitar ikut menyelamatkan diri.
  • Jika tidak menemukan dataran tinggi, cari gedung yang konstruksinya kuat. Paling tidak terdiri atas tiga lantai.
  • Hindari memilih gedung yang kelihatan rapuh dan tua. Sebaiknya berlindung di lantai yang aman dan tunggu hingga keadaan membaik.
  • Kalau sudah telanjur terbawa gelombang tsunami, cari benda terapung yang dapat Anda jadikan rakit, misalnya batang pohon.
  • Usahakan tidak meminum air laut dan tetap berada di permukaan air untuk bernapas.
  • Jika gelombang membawa ke tempat yang tinggi, seperti atap rumah, bertahan di sana dan tunggu hingga air surut dan keadaan lebih tenang.

Waspada Penyakit Kulit di Saat Banjir Melanda

Setelah gelombang tsunami

Kepanikan dan kesedihan Anda rasakan setelah mengalami gelombang tsunami. Selama merasakan kesedihan, Anda tetap harus menghadapi kenyataan.

Setelah air surut, Anda mungkin berniat untuk kembali ke rumah, tetapi ikuti imbauan regu penyelamat dan jangan melewati jalan-jalan yang rusak.

Saat sudah sampai di rumah, ada beberapa hal yang perlu Anda lakukan, berikut di antaranya.

  • Jangan langsung masuk, waspadai bagian rumah yang roboh atau lantai yang licin.
  • Periksa anggota keluarga satu per satu.
  • Hindari instalasi dan kabel listrik untuk menghindari sengatan listrik.

Sesudah bencana tsunami banyak orang yang mengalami tekanan fisik maupun mental.

Berikan dukungan pada keluarga, terutama yang memiliki pengalaman mengerikan dan kehilangan.

Jaga kesehatan Anda sendiri dengan pola makan yang baik dan istirahat yang cukup sehingga dapat membantu orang lain dalam menghadapi tsunami.

Pastikan Anda juga menyediakan kotak P3K untuk membantu korban yang mengalami luka-luka.

Dampak bencana tsunami

Setiap bencana alam tentu memiliki dampak dan efek yang tidak sedikit, termasuk tsunami.

Setelah gelombang besar selesai menghantam daratan, dampak yang terlihat adalah:

  • banjir dan genangan air,
  • kerusakan sarana dan prasarana (jalan, gedung, dan jembatan),
  • pencemaran air dan lingkungan karena banyak barang terbawa arus,
  • korban harta dan jiwa.

Tsunami bisa menimbulkan dampak yang cukup besar terhadap suatu kota, mulai dari kerusakan sampai korban jiwa.

Tidak mudah untuk menghadapi datangnya gelombang tsunami karena berlangsung secara tiba-tiba.

Segera menuju tenda darurat untuk mendapat penanganan bila mengalami luka-luka.

health-tool-icon

Kalkulator BMI (IMT)

Gunakan kalkulator ini untuk memeriksa Indeks Massa Tubuh (IMT) dan mengecek apakah berat badan Anda ideal atau tidak. Anda juga dapat menggunakannya untuk memeriksa indeks massa tubuh anak.

Laki-laki

Wanita

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Palang Merah Indonesia (PMI) Divisi Penanggulangan Bencana. (2008). Ayo Siaga Bencana: Palang merah remaja wira. Jakarta: Markas PMI Pusat

Tsunamis Preparedness. (2022). Retrieved 9 February 2022, from https://www.redcross.org/get-help/how-to-prepare-for-emergencies/types-of-emergencies/tsunami.html

Tsunami Safety Tips. (2022). Retrieved 9 February 2022, from https://www.savethechildren.org/us/charity-stories/tsunami-tips

Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Adinda Rudystina Diperbarui Mar 04
Ditinjau secara medis oleh dr. Carla Pramudita Susanto