Bukan Sekadar Moody, Mood Swing Bisa Jadi Gejala Gangguan Mental

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 21/04/2020 . Waktu baca 5 menit
Bagikan sekarang

Semua orang memiliki perubahan suasana hati — dikenal sebagai mood swing. Kita bisa merasa sangat bahagia, tetapi tak lama kemudian kita mendadak diselimuti kesedihan. Suatu saat kita bisa merasa bersemangat menjalani hari, namun kemudian, di hari yang sama, kita bisa merasa sangat jenuh dan lelah dengan semua rutinitas. Hal ini mungkin wajar bagi sebagian besar orang.

Pada dasarnya, suasana hati adalah kondisi psikologis dasar sebagai reaksi tubuh terhadap lingkungan atau situasi tertentu. Terkadang, luapan emosional ini (baik atau buruk) bisa tampak berlebihan mengalahkan kepentingan rangsangan tersebut.

Apa yang menyebabkan mood swing?

Salah satu kemungkinan penyebab perubahan suasana hati adalah ketidakseimbangan dalam kimia otak yang berhubungan dengan pengaturan suasana hati dan perubahan hormon yang dihasilkan tubuh, tergantung pada banyak faktor berbeda. Apa saja faktor yang mungkin berperan?

  • Cuaca: Sinar matahari dapat mempengaruhi otak kita hampir langsung melalui bagian terluar tengkorak dan bagian lain dari otak untuk memicu produksi endorfin yang merupakan hormon “mood baik”, yang membuat kita merasa senang dan bahagia. Kurangnya paparan sinar matahari, misal saat cuaca mendung berangin dan hujan, membuat tubuh kekurangan banyak endorfin, menyebabkan banyak orang mengalami ‘SAD’ — Seasonal Affective Disorder —, yang merupakan ketergantungan berlebihan terhadap cuaca untuk mengatur suasana hati kita.
  • Makanan: Makanan dapat memiliki berbagai efek berbeda pada tubuh kita. Tidak hanya menyediakan kita dengan energi, makanan juga mencukupi asupan bahan kimia dalam otak, seperti dopamin. Dopamin adalah pusat reward dalam otak yang diproduksi setelah berhubungan seks atau saat kita melahap makanan saat lapar, untuk mendorong kita mengulang perilaku ini.
  • Sistem imun: Sistem kekebalan tubuh juga bisa memainkan peran naik turunnya mood kita. Saat kita sakit, hal ini bisa membuat tubuh kita merasa tertekan dan akhirnya juga mempengaruhi mood kita.
  • Pubertas, Pre Menstrual Syndrome (PMS), atau menopause: perubahan mood bisa terkait dengan naik turunnya kadar hormon tubuh, khususnya estrogen, sepanjang siklus menstruasi. Estrogen mulai naik secara perlahan setelah siklus menstruasi berakhir, kemudian mencapai puncaknya dua minggu kemudian. Setelah itu, kadar estrogen dalam tubuh mulai menurun tajam sebelum mulai naik perlahan dan turun lagi menjelang siklus baru dimulai.

Dalam kasus tertentu, perubahan suasana hati bisa sangat ekstrem, serius, dan tanpa alasan atau rangsangan yang jelas sehingga mengganggu fungsi individu dalam kehidupannya sehari-hari. Mood swing ekstrem ini terjadi mendadak dan melibatkan kondisi emosional yang naik-turun, bergantian antara merasa bahagia dan sejahtera, kemudian dihinggapi oleh perasaan marah, tersinggung, atau depresi, dalam waktu yang relatif singkat.

Kondisi kesehatan yang terkait dengan mood swing

Dilansir dari Good Health, beberapa kondisi kejiwaan juga dapat memicu perubahan suasana hati ekstrem. Sejumlah kondisi ini diketahui sebagai penghambat produktivitas pengidapnya hingga bahkan bisa menunjukkan kecenderungan bunuh diri atau kekerasan ekstrem. Beberapa kondisi kesehatan ini termasuk:

Attention-Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD)

Tidak ada obat penawar untuk ADHD; individu pengidap ADHD harus menjalani hidup beradaptasi dengan kondisi ini, hingga merasa frustrasi dari waktu ke waktu. Banyak orang yang memiliki ADHD tidak terdiagnosis. Perasaan ketidakmampuan dan kekurangan untuk beradaptasi sering berujung pada depresi, yang mengakibatkan mood swing tidak menentu.

Gangguan bipolar

Pengidap gangguan bipolar menderita perubahan suasana hati ekstrem. Mereka bereaksi dengan kesedihan saat menemukan situasi bahagia, atau sebaliknya — bereaksi bahagia dalam situasi sedih atau berduka — karena mereka tidak mampu untuk mengatur suasana hati sesuai dengan kondisi atau kesempatan yang tepat.

Gangguan kepribadian ambang (Borderline Personality Syndrome/BPS)

Penderita BPS tidak mampu memelihara hubungan interpersonal yang stabil karena keadaan emosi yang bergejolak mengenai diri mereka sendiri maupun orang lain. Masalah akademis, pekerjaan, keuangan, masalah hukum, dan hubungan dengan orang lain mungkin timbul sebagai akibat dari mood swing ekstrem.

Depresi

Mood swing akibat depresi bisa sangat merusak. Depresi dapat membuat Anda mengisolasi diri dari teman, keluarga, dan orang-orang yang Anda cintai. Anda mungkin tidak merasa sanggup untuk bangkit dari tempat tidur, apalagi bekerja. Selama fase manic, Anda mungkin akan berlaku sembrono, histeris, dan merasa sangat bahagia, hingga akhirnya diselimuti kembali oleh kesedihan dan ketidakberdayaan.

Penyebab lainnya dari mood swing

Selain dari kondisi di atas, mood swing juga bisa disebabkan oleh kondisi medis yang secara langsung mempengaruhi sistem saraf pusat, seperti demensia, tumor otak, meningitis, stroke, dan penyalahgunaan narkotika. Perubahan suasana hati juga dapat hasil dari kondisi yang merampas nutrisi dan oksigen dalam otak, seperti trauma kepala, penyakit paru, dan kardiovaskular. Ketika produksi neurotransmitter dalam otak, seperti serotonin, GABA, dopamin, dan norepenephrine terpengaruh, hasilnya adalah perubahan mood. Seseorang bisa secara bergantian mengalami berbagai perasaan, seperti depresi, kecemasan, kebahagiaan, stres, dan ketakutan.

Jika mood swing datang mendadak, tidak bisa dikendalikan, sangat tidak rasional, atau menunjukkan kecenderungan perilaku bunuh diri, segera dapatkan bantuan medis.

BACA JUGA:

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Baca Juga:

    Apakah artikel ini membantu Anda?
    happy unhappy"

    Yang juga perlu Anda baca

    6 Sumber Stres Utama dalam Pernikahan

    Tanpa Anda sadari, pernikahan mungkin menjadi penyebab Anda stres dan tertekan. Ayo cari tahu berbagai sumber stres dalam pernikahan dan cegah dampaknya.

    Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
    Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
    Hidup Sehat, Psikologi 19/06/2020 . Waktu baca 5 menit

    Memanfaatkan Hipnoterapi untuk Menyembuhkan Trauma Psikologis

    Bagi orang yang memendam trauma psikologis yang serius, dampaknya begitu terasa dalam hidup sehari-hari. Untungnya, metode hipnoterapi bisa membantu Anda.

    Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
    Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
    Hidup Sehat, Psikologi 18/06/2020 . Waktu baca 5 menit

    Pro dan Kontra Mengonsumsi Obat Antidepresan

    Antidepresan bisa membantu penderita depresi agar pulih, tapi ada efek samping yang perlu diwaspadai. Pahami pro dan kontra antidepresan berikut ini.

    Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
    Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
    Hidup Sehat, Psikologi 18/06/2020 . Waktu baca 5 menit

    Selain Hubungan Seks, Ada Masalah Hubungan Asmara pada Penderita ADHD

    Selain kehidupan seks, penderita ADHD juga memiliki sejumlah tantangan dalam menjalani hubungan asmara mereka dan berasal dari gejala yang dialami.

    Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
    Ditulis oleh: Nabila Azmi
    Hidup Sehat, Seks & Asmara 14/06/2020 . Waktu baca 5 menit

    Direkomendasikan untuk Anda

    Pentingnya Menjaga Kesehatan Fisik dan Mental untuk Pebisnis Startup

    Ditinjau oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
    Ditulis oleh: Willyson Eveiro
    Dipublikasikan tanggal: 07/07/2020 . Waktu baca 5 menit
    PTSD pandemi COVID-19

    Bagaimana Pandemi Membuat Seseorang Berisiko Mengalami PTSD?

    Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
    Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
    Dipublikasikan tanggal: 22/06/2020 . Waktu baca 4 menit
    Berpikir negatif demensia

    Sering Berpikir Negatif Bisa Tingkatkan Risiko Demensia

    Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
    Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
    Dipublikasikan tanggal: 20/06/2020 . Waktu baca 4 menit
    psikoterapi

    Keluar dari Lubang Hitam Anda Lewat Psikoterapi

    Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
    Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
    Dipublikasikan tanggal: 20/06/2020 . Waktu baca 5 menit