Kenali Retinopati Prematuritas (ROP), Masalah Mata Bayi Prematur yang Berpotensi Membutakan

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 10 September 2020 . Waktu baca 3 menit
Bagikan sekarang

Data terakhir dari WHO tahun 2017 menyebut Indonesia berada di urutan ke-5 sebagai negara dengan jumlah bayi prematur terbanyak di dunia. Ini tentu mengkhawatirkan karena bayi prematur belum cukup berkembang sehingga akan lebih rentan terkena komplikasi penyakit dan gangguan kesehatan lainnya. Bayi prematur bahkan lebih berisiko mengalami masalah penglihatan semenjak lahir ketimbang bayi yang lahir full-term alias tepat waktu. Salah satu masalah penglihatan paling umum pada mata bayi prematur adalah retinopati prematuritas, atau biasa disingkat ROP.

Apa itu retinopati prematuritas (ROP)?

Retinopati prematuritas (ROP) adalah kelainan mata bayi prematur yang terjadi akibat pembuluh darah yang baru terbentuk di lapisan retina berhenti berkembang. Sebagai akibatnya, retina justru akan membentuk pembuluh darah baru yang abnormal. Pembuluh darah abnormal ini sangat rentan membengkak hingga pecah atau bocor. Ketika hal tersebut terjadi, retina bisa terlepas dari bola mata dan menyebabkan masalah penglihatan serius.

ROP terutama terjadi pada bayi prematur yang lahir sebelum minggu ke-31 kehamilan dengan berat sekitar 1.250 gram atau bahkan kurang. Semakin kecil bayi ketika lahir, semakin besar kemungkinannya untuk terkena ROP.

Apa penyebab retinopati prematuritas?

Penyebab pasti dari retinopati prematuritas masih belum jelas dan terus diperdebatkan. Namun sebagian besar ahli sepakat bahwa beberapa hal di bawah ini merupakan pemicu timbulnya ROP.

  • Berat badan bayi kurang dari dari 1.500 gram saat lahir.
  • Lahir saat usia kehamilan kurang dari 34-36 minggu. Bayi yang lahir di usia kehamilan 28 minggu akan lebih rentan terkena ROP dibandingkan bayi yang lahir pada usia kehamilan 32 minggu, walaupun keduanya dikategorikan sebagai bayi prematur.
  • Bayi yang mendapatkan bantuan oksigen untuk bernapas.
  • Bayi prematur yang memiliki masalah kesehatan lainnya, seperti infeksi ataupun anemia (kekurangan sel darah merah).

Apa saja masalah yang mungkin timbul pada mata bayi prematur dengan ROP di masa depan?

Saat bayi sudah bertumbuh dewasa, berikut komplikasi penyakit ROP yang mungkin terjadi:

Pada kasus yang parah, retinopati prematuritas berpotensi membutakan mata bayi secara permanen jika tidak cepat ditangani.

Oleh karena itu, apabila Anda memiliki bayi prematur atau saudara maupun kerabat yang memiliki bayi prematur, jangan lupa untuk memeriksakan mereka ke dokter spesialis mata terdekat.

Pemeriksaan apa saja yang harus dilakukan?

Pemeriksaan retina perlu dilakukan terhadap mata bayi prematur secepat mungkin untuk mendeteksi risiko ROP sebelum terlambat. Pemeriksaan dilakukan dengan terlebih dahulu memberikan obat tetes mata yang berguna untuk melebarkan pupil (bagian hitam mata) dan juga untuk mengurangi rasa nyeri.

Pemeriksaan mata biasanya dilakukan ketika bayi memasuki usia 4–6 minggu, karena pada usia ini ROP baru dapat terdekteksi dengan baik. Pemeriksaan lanjutan akan dilakukan setiap 1-3 minggu sekali tergantung dari kondisi retina dan juga tingkat keparahan ROP yang dialami bayi.

Adakah pengobatan yang bisa dilakukan?

Terdapat beberapa jenis pengobatan yang dapat dilakukan untuk retinopati prematuritas, di antaranya :

  • Terapi laser pada tepian retina untuk menghentikan pertumbuhan pembuluh darah yang tidak normal.
  • Menyuntikkan obat khusus ke dalam bola mata untuk mengurangi pertumbuhan dari pembuluh darah.

Tindakan-tindakan ini perlu dilakukan apabila sudah terjadi tarikan pada retina.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Berbagai Penyebab Bayi Lahir Prematur

Jika bayi belum cukup umur untuk keluar dari rahim, mengapa bisa keluar sebelum waktunya? Berikut berbagai penyebab bayi lahir prematur.

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Atifa Adlina
Bayi, Bayi Prematur, Parenting 2 Oktober 2020 . Waktu baca 8 menit

Apa Akibatnya pada Janin Jika Ibu Merokok Saat Hamil?

Merokok saat hamil adalah ancaman nomor satu untuk kesejahteraan anak. Ada hubungan antara ibu perokok dan anak berbibir sumbing. Masih kurang seram?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ajeng Quamila
Kehamilan & Kandungan, Perkembangan Janin, Kehamilan 31 Mei 2020 . Waktu baca 8 menit

Tahapan Perkembangan Bayi Prematur Usia 0 Hingga 2 Tahun

Bayi mempunyai tumbuh kembangnya masing-masing. Namun, tahukah Anda jika perkembangan bayi prematur berbeda dengan bayi cukup bulan?

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Atifa Adlina
Bayi, Bayi Prematur, Parenting 20 Mei 2020 . Waktu baca 12 menit

Tabel Berat Badan Bayi Prematur untuk Melihat Perkembangannya

Ada perbedaan dari bayi yang lahir secara normal dengan bayi yang lahir secara prematur. Simak yuk, sedikit mengenai tabel berat badan bayi prematur!

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Atifa Adlina
Bayi, Bayi Prematur, Parenting 15 Mei 2020 . Waktu baca 6 menit

Direkomendasikan untuk Anda

manfaat metode kangguru untuk bayi prematur dan berat lahir rendah

Metode Kangguru untuk Bayi Prematur atau Berat Lahir Rendah

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Arinda Veratamala
Dipublikasikan tanggal: 16 Oktober 2020 . Waktu baca 7 menit
perawatan bayi prematur

9 Panduan Perawatan Bayi Prematur di Rumah

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Atifa Adlina
Dipublikasikan tanggal: 16 Oktober 2020 . Waktu baca 8 menit
kelahiran prematur bayi prematur

Semua Hal yang Perlu Diketahui Seputar Kelahiran Bayi Prematur

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Rena Widyawinata
Dipublikasikan tanggal: 16 Oktober 2020 . Waktu baca 12 menit

Apa yang Terjadi Pada Bayi Jika Ibu Stres Saat Hamil?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Arinda Veratamala
Dipublikasikan tanggal: 15 Oktober 2020 . Waktu baca 5 menit