Hipotensi Ortostatik, Pusing Berkunang-kunang Saat Bangkit dari Duduk

Pada saat berbaring, sekitar 30% darah Anda berada dalam rongga dada. Saat Anda berdiri, gaya gravitasi akan menyebabkan darah mengalir jatuh ke bagian tubuh bagian bawah, yaitu perut dan kaki. Hal tersebut menyebabkan penurunan tekanan darah, karena sirkulasi darah yang kembali ke jantung menjadi berkurang.

Penurunan tekanan darah akibat gravitasi ini akan dideteksi oleh tubuh, kemudian untuk menanganinya, sebuah mekanisme bernama barorefleks akan bekerja memicu sistem jantung dan pembuluh darah untuk mempertahankan tekanan darah tubuh Anda.

Namun, bila terjadi kegagalan mekanisme barorefleks, atau jika ada gangguan pada sistem organ, ini akan memicu hipotensi ortostatik. Hipotensi ortostatik, atau dikenal juga dengan istilah hipotensi postural, adalah kondisi saat tekanan darah sistolik (angka atas) menurun sebanyak 20 mmHg atau lebih, atau tekanan darah diastolik (angka bawah) menurun sebanyak 10 mmHg atau lebih, dalam waktu 3 menit setelah berdiri.

Kondisi yang menyebabkan Anda sering mengalami hipotensi ortostatik

Meskipun cukup umum terjadi, kepala pusing berkunang-kunang saat Anda baru berdiri ini bisa lebih sering muncul apabila Anda mengalami salah satu kondisi berikut ini: 

1. Dehidrasi

Demam, muntah, kurang minum, diare berat, dan olahraga berat dengan pengeluaran keringat yang berlebih, semua itu dapat menyebabkan dehidrasi yang dapat menurunkan volume darah. Dehidrasi ringan dapat menimbulkan gejala hipotensi ortostatik seperti pusing dan kelelahan.

2. Masalah jantung

Beberapa kondisi jantung yang dapat menyebabkan tekanan darah rendah di antaranya adalah detak jantung yang lambat (bradikardia) secara ekstrem, masalah pada katup jantung, serangan jantung, dan gagal jantung. Kondisi tersebut menghalangi tubuh Anda merespons cukup cepat untuk memompa lebih banyak darah saat berdiri.

3. Masalah endokrin

Kondisi tiroid, penyakit Addison, dan gula darah yang rendah dapat menyebabkan hipotensi ortostatik.

4. Gangguan sistem saraf

Hipotensi ortostatik neurologis dapat disebabkan oleh keadaan neuropati akibat penyakit diabetes melitus, maupun adanya lesi pada pusat seperti pada keadaan penyakit Parkinson.

Apa saja gejala hipotensi ortostatik?

Hipotensi ortostatik karena penyebab apapun, akan mengakibatkan kurangnya aliran darah ke jaringan otak, sehingga kadar oksigen di otak menjadi kurang. Akibatnya, kepala menjadi pusing dan pandangan kabur berkunang-kunang ketika Anda berdiri dari posisi duduk atau berbaring. Gejala yang muncul biasanya berlangsung kurang dari beberapa menit.

Tanda dan gejala lain yang dapat menyertai adalah:

  • Pandangan berkunang-kunang
  • Lemah
  • Detak jantung berdegup cepat
  • Keringat dingin
  • Pingsan
  • Mual

Bagaimana mengatasi hipotensi ortostatik?

Tujuan dari pengelolaan hipotensi ortostatik adalah menaikkan tekanan darah saat berdiri tanpa menaikkan tekanan darah ketika berbaring. Selain itu, ada pula beberapa penanganan untuk mengurangi gejala intoleransi ortostatik, serta meningkatkan kemampuan dalam melakukan aktivitas sehari-hari.

Berikut ini adalah beberapa hal perubahan gaya hidup yang dapat dilakukan dengan mudah dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari untuk membantu mengatasi hipotensi ortostatik:

1. Menggunakan kompresi pada perut

Pada suatu percobaan, ditemukan bahwa memberi kompresi pada perut dapat menaikkan tekanan darah saat berdiri. Pengikat harus cukup ketat dan memberi tekanan yang lembut, digunakan ketika akan beranjak dari tempat tidur saat bangun di pagi hari dan dilepas saat hendak berbaring.

Kompresi pada perut dapat digunakan sesuai dengan kebutuhan masing-masing orang. Bila kompresi perut saja dirasakan tidak cukup, Anda dapat menambah kompresi pada kaki berupa stoking.

2. Minum 2 liter air sehari 

Ketika Anda sedang jalan-jalan ke tempat wisata, belanja ke pasar, maupun kegiatan lain yang memerlukan Anda untuk berdiri berkepanjangan, cobalah minum 2 gelas air dingin berukuran 500 ml dengan cepat, yang dapat meningkatkan tekanan darah sistolik serta memperbaiki gejala dan daya tahan ortostatik.

3. Bangkit dari tidur secara pelan-pelan

Berbaringlah dengan kepala sedikit dinaikkan 15-20 derajat. Kemudian, bila hendak bangun dari tempat tidur, lakukan secara bertahap yaitu duduk terlebih dahulu pada sisi tempat tidur selama 5 menit sebelum beranjak berdiri.

4. Latihlah otot tungkai bawah Anda selama 30 detik

Hal tersebut dapat meningkatkan aliran darah kembali ke jantung dan membantu mempertahankan tekanan darah selama aktivitas sehari-hari. Teknik yang dapat dilakukan adalah latihan otot betis, mengangkat jari-jari kaki, dan menaikkan kaki. Olahraga ringan seperti berenang dan bersepeda juga dianjurkan untuk meningkatkan volume plasma.

5. Asupan natrium secukupnya

Kandungan natrium dalam garam juga membantu mengatasi gejala hipotensi ortostatik. Asupan garam yang dianjurkan sebanyak 10-20 gram sehari. Namun, hal ini harus dilakukan dengan hati-hati dan harus didiskusikan terlebih dahulu dengan dokter. Terlalu banyak garam malah dapat menyebabkan tekanan darah meningkat terlampau tinggi.

Kapan harus menemui dokter?

Hipotensi ortostatik biasanya berlangsung dalam hitungan kurang dari beberapa menit, namun bila terjadi berulang kali dalam waktu yang lama, hal tersebut bisa merupakan tanda dari gangguan medis yang lebih serius.

Karena hipotensi ortostatik dapat disebabkan oleh banyak kemungkinan, dokter akan melakukan evaluasi dari gejala yang dirasakan, melakukan pemeriksaan fisik, dan mungkin pemeriksaan tambahan lainnya untuk menemukan penyebab yang mendasarinya.

Hipotensi ortostatik ringan biasanya akan membaik dengan perubahan gaya hidup namun bila belum ada perbaikan, sebaiknya konsultasikan juga ke dokter dan dapat dipertimbangkan dengan pemberian obat selain dari modifikasi gaya hidup. 

Baca Juga:

Sumber