Tren Tato Blackout, Kenapa Lebih Berisiko Dibanding Tato Biasa?

Oleh

Bagi Anda penggemar tato, mungkin sudah tidak asing lagi dengan tren terbaru yang sedang naik daun di sosial media belakangan: Tato blackout.

Tidak seperti sejumlah tren terdahulu, tato blackout menutupi sebagian besar — hingga hampir keseluruhan — tubuh, mulai dari lengan, dada, kaki, perut, dan punggung dengan tinta hitam legam. Beberapa dilakukan untuk menutupi tato lama; yang lainnya, memang khusus dilakukan untuk alasan estetika.

Namun, apakah aman? Berikut ini sejumlah risiko yang mungkin akan ditimbulkan oleh tato berupa area hitam pekat di tubuh Anda.

1. .Tinta hitam pekat akan menyulitkan dokter mendiagnosis risiko kanker kulit

Marie Leger, M.D., Ph.D, asisten profesor dermatologi di New York University, seperti dikutip dari SELF, berpendapat bahwa ada kemungkinan tato blackout bisa mempengaruhi sintesis vitamin D dalam tubuh, yaitu kemampuan tubuh Anda menyerap dan memecah vitamin D dari paparan sinar matahari. Selain itu, tinta hitam berpigmen sangat pekat juga akan menyulitkan dokter untuk mendiagnosis kanker kulit pada bagian tubuh tersebut. Lima puluh persen dari kanker kulit (melanoma) berasal dari tahi lalat tubuh yang sudah ada sebelumnya.

2. Beberapa tinta hitam dicurigai sebagai agen penyebab kanker

Jenis tinta yang digunakan memainkan peran besar dalam menentukan risiko yang menyelimuti tren tato blackout.

Warna hitam pada tato biasanya terbuat dari tinta berbahan dasar karbon. Tetapi, tidak menutup kemungkinan tinta hitam tersebut juga mengandung polycyclic aromatic hydrocarbons dan benzo(a)pyrene (BaP), yang dicurigai sebagai agen penyebab kanker. Selain itu, beberapa tinta tato juga dapat mengandung bahan berbahaya, seperti kobalt dan timah kromat, yang tidak seharusnya ada di dalam tubuh Anda. Artinya, semakin tinggi volume tinta yang ada di dalam tubuh Anda, semakin tinggi pula peluang Anda untuk menderita konsekuensi negatif dari zat berbahaya ini.

3. Tato bisa mengganggu saat scan MRI

Tato blackout juga bisa mengacaukan proses scan MRI. Tinta hitam mengandung oksida besi, hal ini akan menyulitkan alat pemindai MRI untuk bekerja dan menghasilkan pemindaian yang akurat. Area kulit bertato hitam legam juga mungkin akan membengkak atau terasa panas seperti terbakar saat dipindai oleh MRI.

Dilansir dari Women’s Health Magazine, penelitian juga menunjukkan bahwa tubuh memetabolisme sebagian kecil pigmen tato, sehingga bisa larut dalam air dan terbawa ke dalam kelenjar getah bening, yang bisa mengakibatkan pengerasan jaringan. Pengerasan jaringan ini akan dengan mudah disangka sebagai tumor kanker.

4. Proses penyembuhan tato mungkin memakan waktu lebih lama

Seperti semua tato, tato besar seperti ini memiliki risiko infeksi dari jarum atau dari tinta tato itu sendiri, walaupun tinta hitam memiliki risiko alergi yang lebih kecil daripada warna-warna lainnya, misalnya tinta warna kuning yang jika terekspos oleh radiasi infra-red akan membentuk senyawa kanker.

“Proses pemulihan juga bisa menjadi lebih lama daripada tato lainnya yang berwarna-wani, yang akan membuat pembentukan jaringan parut lebih mungkin,” ujar Eric Schweiger, pendiri Schweiger Dermatology Group di New York, dilansir dari Fox News. Selain itu, menurut Schweiger, proses pewarnaan yang tidak merata lebih umum terjadi pada tato blackout dibandingkan proses tato lain pada umumnya.

Ada juga kekhawatiran dari apa yang harus dilakukan jika Anda mendapatkan tato blackout dan memutuskan untuk menghapusnya. Walaupun sangat mungkin untuk menghilangkan tato hitam, namun proses penghilangan tato akan memakan waktu yang lebih lama dan menyakitkan akibat tingkat kepadatan pigmen warna yang begitu intens dalam kulit.

Tetapi, tato dianggap bisa meningkatkan sistem kekebalan tubuh

Menurut penelitian dari University of Alabama, mendapatkan beberapa tato bisa menguatkan respon sistem imun Anda dan membuat Anda lebih mampu melawan infeksi umum, sedangkan mendapatkan tato untuk pertama kalinya setidaknya bisa membuat Anda lebih rentan terhadap flu, setidaknya untuk jangka waktu yang singkat. Dilansir dari Medical Daily, Christopher Lynn, rekanan profesor antropologi yang terlibat dalam penelitian ini mengibaratkan proses menerima tato sebagai olahraga saat tubuh Anda sedang tidak fit: Sesi pertama akan terasa sangat menyakitkan, namun jika diteruskan, tubuh Anda akan semakin kuat dan rasa sakit tersebut akan memudar.

Lanjut Lynn, setelah ditempa tanpa henti oleh stres, tubuh Anda akan merespon dengan sedemikian rupa sebelum kembali ke kondisi seimbang seperti sedia kala. Akan tetapi, jika Anda terus menerus menempatkan tubuh Anda di bawah stres berkelanjutan, bukannya kembali ke titik awal, tubuh akan menyesuaikan titik baliknya dan bergerak ke ambang ketahanan yang lebih tinggi.

Penelitian Lynn menemukan bahwa kadar immunoglobulin A menurun cukup jauh pada partisipan yang mendapatkan tato pertama, dikalahkan oleh lunjakan kortisol yang dilepaskan sebagai respon terhadap stres. Penurunan immunoglobulin A terlihat jauh lebih sedikit pada partisipan yang sudah memiliki banyak tato sebelumnya dan mendapatkan tato baru.

Tubuh mengirimkan agen imunologis ke lokasi tato baru tersebut, untuk berjaga-jaga melawan infeksi. Tubuh partisipan yang sudah beberapa kali menerima proses tato terlihat meningkatkan ambang batas pemicu respon tersebut. Singkatnya, tubuh mereka sudah beradaptasi dan terbiasa dengan tekanan tersebut seiring waktu.

Namun, sebelum Anda bergegas pergi ke tempat tato terdekat untuk mendapatkan tato blackout demi menguatkan kekebalan tubuh, sebaiknya pertimbangkan segala macam risikonya, dan jangan pergi menato saat Anda sedang sakit — respon kortisol justru akan mengacaukan proses pemulihan Anda.

BACA JUGA:

Sumber