Tren Tato Blackout, Kenapa Lebih Berisiko Dibanding Tato Biasa?

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 24/01/2020 . Waktu baca 6 menit
Bagikan sekarang

Bagi Anda penggemar tato, mungkin sudah tidak asing lagi dengan tren terbaru yang sedang naik daun di sosial media belakangan: Tato blackout.

Tidak seperti sejumlah tren terdahulu, tato blackout menutupi sebagian besar — hingga hampir keseluruhan — tubuh, mulai dari lengan, dada, kaki, perut, dan punggung dengan tinta hitam legam. Beberapa dilakukan untuk menutupi tato lama; yang lainnya, memang khusus dilakukan untuk alasan estetika.

Namun, apakah aman? Berikut ini sejumlah risiko yang mungkin akan ditimbulkan oleh tato berupa area hitam pekat di tubuh Anda.

1. .Tinta hitam pekat akan menyulitkan dokter mendiagnosis risiko kanker kulit

Marie Leger, M.D., Ph.D, asisten profesor dermatologi di New York University, seperti dikutip dari SELF, berpendapat bahwa ada kemungkinan tato blackout bisa mempengaruhi sintesis vitamin D dalam tubuh, yaitu kemampuan tubuh Anda menyerap dan memecah vitamin D dari paparan sinar matahari. Selain itu, tinta hitam berpigmen sangat pekat juga akan menyulitkan dokter untuk mendiagnosis kanker kulit pada bagian tubuh tersebut. Lima puluh persen dari kanker kulit (melanoma) berasal dari tahi lalat tubuh yang sudah ada sebelumnya.

2. Beberapa tinta hitam dicurigai sebagai agen penyebab kanker

Jenis tinta yang digunakan memainkan peran besar dalam menentukan risiko yang menyelimuti tren tato blackout.

Warna hitam pada tato biasanya terbuat dari tinta berbahan dasar karbon. Tetapi, tidak menutup kemungkinan tinta hitam tersebut juga mengandung polycyclic aromatic hydrocarbons dan benzo(a)pyrene (BaP), yang dicurigai sebagai agen penyebab kanker. Selain itu, beberapa tinta tato juga dapat mengandung bahan berbahaya, seperti kobalt dan timah kromat, yang tidak seharusnya ada di dalam tubuh Anda. Artinya, semakin tinggi volume tinta yang ada di dalam tubuh Anda, semakin tinggi pula peluang Anda untuk menderita konsekuensi negatif dari zat berbahaya ini.

3. Tato bisa mengganggu saat scan MRI

Tato blackout juga bisa mengacaukan proses scan MRI. Tinta hitam mengandung oksida besi, hal ini akan menyulitkan alat pemindai MRI untuk bekerja dan menghasilkan pemindaian yang akurat. Area kulit bertato hitam legam juga mungkin akan membengkak atau terasa panas seperti terbakar saat dipindai oleh MRI.

Dilansir dari Women’s Health Magazine, penelitian juga menunjukkan bahwa tubuh memetabolisme sebagian kecil pigmen tato, sehingga bisa larut dalam air dan terbawa ke dalam kelenjar getah bening, yang bisa mengakibatkan pengerasan jaringan. Pengerasan jaringan ini akan dengan mudah disangka sebagai tumor kanker.

4. Proses penyembuhan tato mungkin memakan waktu lebih lama

Seperti semua tato, tato besar seperti ini memiliki risiko infeksi dari jarum atau dari tinta tato itu sendiri, walaupun tinta hitam memiliki risiko alergi yang lebih kecil daripada warna-warna lainnya, misalnya tinta warna kuning yang jika terekspos oleh radiasi infra-red akan membentuk senyawa kanker.

“Proses pemulihan juga bisa menjadi lebih lama daripada tato lainnya yang berwarna-wani, yang akan membuat pembentukan jaringan parut lebih mungkin,” ujar Eric Schweiger, pendiri Schweiger Dermatology Group di New York, dilansir dari Fox News. Selain itu, menurut Schweiger, proses pewarnaan yang tidak merata lebih umum terjadi pada tato blackout dibandingkan proses tato lain pada umumnya.

Ada juga kekhawatiran dari apa yang harus dilakukan jika Anda mendapatkan tato blackout dan memutuskan untuk menghapusnya. Walaupun sangat mungkin untuk menghilangkan tato hitam, namun proses penghilangan tato akan memakan waktu yang lebih lama dan menyakitkan akibat tingkat kepadatan pigmen warna yang begitu intens dalam kulit.

Tetapi, tato dianggap bisa meningkatkan sistem kekebalan tubuh

Menurut penelitian dari University of Alabama, mendapatkan beberapa tato bisa menguatkan respon sistem imun Anda dan membuat Anda lebih mampu melawan infeksi umum, sedangkan mendapatkan tato untuk pertama kalinya setidaknya bisa membuat Anda lebih rentan terhadap flu, setidaknya untuk jangka waktu yang singkat. Dilansir dari Medical Daily, Christopher Lynn, rekanan profesor antropologi yang terlibat dalam penelitian ini mengibaratkan proses menerima tato sebagai olahraga saat tubuh Anda sedang tidak fit: Sesi pertama akan terasa sangat menyakitkan, namun jika diteruskan, tubuh Anda akan semakin kuat dan rasa sakit tersebut akan memudar.

Lanjut Lynn, setelah ditempa tanpa henti oleh stres, tubuh Anda akan merespon dengan sedemikian rupa sebelum kembali ke kondisi seimbang seperti sedia kala. Akan tetapi, jika Anda terus menerus menempatkan tubuh Anda di bawah stres berkelanjutan, bukannya kembali ke titik awal, tubuh akan menyesuaikan titik baliknya dan bergerak ke ambang ketahanan yang lebih tinggi.

Penelitian Lynn menemukan bahwa kadar immunoglobulin A menurun cukup jauh pada partisipan yang mendapatkan tato pertama, dikalahkan oleh lunjakan kortisol yang dilepaskan sebagai respon terhadap stres. Penurunan immunoglobulin A terlihat jauh lebih sedikit pada partisipan yang sudah memiliki banyak tato sebelumnya dan mendapatkan tato baru.

Tubuh mengirimkan agen imunologis ke lokasi tato baru tersebut, untuk berjaga-jaga melawan infeksi. Tubuh partisipan yang sudah beberapa kali menerima proses tato terlihat meningkatkan ambang batas pemicu respon tersebut. Singkatnya, tubuh mereka sudah beradaptasi dan terbiasa dengan tekanan tersebut seiring waktu.

Namun, sebelum Anda bergegas pergi ke tempat tato terdekat untuk mendapatkan tato blackout demi menguatkan kekebalan tubuh, sebaiknya pertimbangkan segala macam risikonya, dan jangan pergi menato saat Anda sedang sakit — respon kortisol justru akan mengacaukan proses pemulihan Anda.

BACA JUGA:

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Baca Juga:

    Apakah artikel ini membantu Anda?
    happy unhappy"
    Sumber

    Yang juga perlu Anda baca

    Bagaimana Cara Menjaga Kesehatan Kandung Kemih bagi Pria dan Wanita?

    Hati-hati, tidak menjaga kesehatan kandung kemih membuat Anda rentan kena berbagai gangguan sistem kemih seperti infeksi saluran kencing hingga kanker.

    Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
    Ditulis oleh: Diah Ayu
    Urologi, Kandung Kemih 06/08/2020 . Waktu baca 6 menit

    5 Ramuan Alami Terbaik untuk Mengatasi Rambut Kering

    Rambut kering memang bikin penampilan terlihat kusam. Mari simak cara mengatasi rambut kering menggunakan 5 bahan alami pada penjelasan di sini.

    Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Novita Joseph
    Perawatan Rambut & Rambut Rontok, Hidup Sehat 04/08/2020 . Waktu baca 4 menit

    Tips Menghadapi Kecemasan Kembali Beraktivitas di Era New Normal

    Wajar jika merasa khawatir terhadap ketidakpastian di tengah pandemi COVID-19. Yuk, cari tahu solusi menghadapi kecemasan di new normal di sini.

    Ditinjau oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
    Ditulis oleh: Willyson Eveiro
    Konten Bersponsor
    menghadapi kecemasan di new normal
    Hidup Sehat, Tips Sehat 03/08/2020 . Waktu baca 5 menit

    Penuhi Nutrisi Ini untuk Mencegah Penularan Coronavirus saat New Normal

    Nutrisi memegang peranan yang besar untuk mencegah kemungkinan risiko COVID-19. Yuk, cari tahu nutrisi utama yang perlu ditambahkan dalam menu harian Anda.

    Ditulis oleh: Maria Amanda
    Nutrisi, Hidup Sehat 30/07/2020 . Waktu baca 9 menit

    Direkomendasikan untuk Anda

    rileksasi tubuh

    5 Cara Sederhana untuk Relaksasi Sehabis Olahraga

    Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Aprinda Puji
    Dipublikasikan tanggal: 07/08/2020 . Waktu baca 4 menit
    cara menghilangkan varises dengan skleroterapi

    Sering Menggoyang-goyangkan Kaki Saat Tidur? Ini Penyebabnya

    Ditulis oleh: Novita Joseph
    Dipublikasikan tanggal: 06/08/2020 . Waktu baca 3 menit
    sering kencing di malam hari

    7 Cara Mengatasi Sering Buang Air Kecil yang Mengganggu

    Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
    Ditulis oleh: Adelia Marista Safitri
    Dipublikasikan tanggal: 06/08/2020 . Waktu baca 6 menit
    nokturia adalah

    Nokturia, Penyebab Sering Buang Air Kecil pada Malam Hari

    Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
    Ditulis oleh: Rizki Pratiwi
    Dipublikasikan tanggal: 06/08/2020 . Waktu baca 6 menit