Ketakutan Ukuran Penis Menciut? Bisa Jadi Anda Alami Sindrom Koro

Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum

Cemas merupakan emosi yang Anda rasakan, selain bahagia atau sedih. Kecemasan yang seharusnya bisa menjadi alarm pada situasi yang membahayakan, namun dirasakan sangat berlebihan pada beberapa orang. Sindrom koro atau koro disease salah satunya. Sindrom ini menandakan kecemasan dan ketakutan berlebihan jika organ kelamin akan menyusut dan hilang. Pahami lebih lanjut mengenai koro disease pada ulasan berikut ini.

Apa itu sindrom koro?

Sindrom koro (koro disease) adalah gangguan kejiwaan yang ditandai dengan rasa cemas dan takut berlebihan jika penis semakin mengecil dan lama-lama akan hilang.

Kecemasan ini sebagian besar terjadi pada pria di negara-negara India, Cina, atau Jepang. Sindrom ini juga dikenal dengan genital retraction syndrome  atau sindrom retraksi genital di Amerika Serikat dan Eropa.

Sebagian besar orang dengan sindrom ini mempercayai bahwa organ intim mereka yang menyusut akan hilang. Penyusutan ukuran kelamin juga diyakini sebagai tanda peringatan bahwa kematian akan segera terjadi.

Mengapa banyak pria yang terkena sindrom ini?

gejala kanker penis

Periset mengamati bahwa sebagian besar yang mengalami koro disease adalah pria muda. Penyebabnya adalah ketidaktahuan atau kesalahpemahaman mengenai informasi mengenai pubertas dan perkembangan organ intim yang benar.

Dilansir dari laman Very Well Mind, sindrom retraksi genital juga bisa dipengaruhi oleh keyakinan budaya yang berkembang pada suatu wilayah. Misalnya saja orang-orang di negara Eropa yang masih memercayai mitos bahwa penyusutan penis merupakan kutukan penyihir pada abad pertengahan.

Sebuah studi tahun 2008 yang diterbitkan pada Journal of German Psychology menemukan bahwa banyak orang yang merasakan kecemasan dan ketakutan dengan mengecilnya ukuran penis setelah melakukan perselingkuhan atau hubungan intim di luar pernikahan. Kemungkinan besar rasa takut dan cemas tersebut muncul akibat rasa bersalah dan rasa malu yang tinggi.

Selain itu, pada beberapa kasus menunjukkan bahwa sindrom koro cenderung terjadi pada orang dengan riwayat penyalahgunaan obat-obatan terlarang atau memiliki gangguan kesehatan mental.

Perlu Anda ketahui bahwa ukuran penis memang akan menyusut dan mengecil oleh banyak faktor. Penuaan membuat timbunan lemak menumpuk di arteri sehingga aliran darah ke penis jadi berkurang. Hal ini menyebabkan ukuran penis tidak besar seperti biasanya saat ereksi (menegang).

Mengecilnya ukuran penis juga bisa disebabkan oleh adanya jaringan parut bekas operasi, cedera seks atau olahraga, dan adanya penyakit Peyronie, yaitu jaringan parut fibrosa yang terjadi di sekitar penis sehingga membuat penis bengkok dan mengecil ukurannya.

Apa saja gejala sindrom koro dan bagaimana cara mengobatinya?

mengatasi vaginismus

Hampir semua orang yang merasakan koro disease mengalami pola gejala yang sama. Awalnya mereka mengalami sensasi geli pada alat kelamin, diikuti oleh serangan panik mendadak. Kepanikan tersebut mengarah pada rasa takut bahwa organ intim akan menghilang. Perasaan tersebut muncul karena mereka memercayai bahwa hilangnya kelamin bisa membuat mereka mati.

Selain perasaan cemas dan ketidaknyaman pada alat kelamin, sindrom koro juga menyebabkan gejala lain. Kondisi ini membuat pasien kurang percaya diri untuk melakukan hubungan seksual dengan pasangan sehingga melarikan diri dengan melakukan  menarik diri dari teman atau keluarga. Bahkan pada beberapa kasus, menyebabkan keraguan jenis kelamin. Semua itu membuat pasien kesulitan tidur dan merasa depresi.

Untuk mengatasi sindrom koro, dokter akan meresepkan obat antidepresan untuk mengurangi gejala. Pasien kemungkinan juga direkomendasikan untuk mengikuti terapi untuk belajar mengatasi serangan panik dan kecemasan. Tentunya, pasien akan diberikan pengetahuan mengenai kesehatan dan perubahan pada penis.

Jika Anda merasakan tanda dan gejala dari koro disease atau ketidaknyamanan pada organ intim segera lakukan pemeriksaan pada dokter. Ini membantu Anda mengetahui penyebab, diagnosis, dan perawatan yang tepat.

Baca Juga:

Share now :

Direview tanggal: Oktober 19, 2018 | Terakhir Diedit: Oktober 11, 2018

Sumber
Yang juga perlu Anda baca