Memahami Bagaimana Penyakit Bisa Diturunkan ke Anak Cucu

Ditinjau secara medis oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 06/09/2017
Bagikan sekarang

Anda mungkin sudah sering melihat contoh nyata pada orang-orang di sekitar Anda, bahwa bakat penyakit bisa diturunkan dari orangtua ke anak. Bahkan dalam beberapa kasus, penyakit keturunan juga bisa meloncati satu generasi. Jadi justru cucunya yang kena penyakit yang sama dengan kakek atau neneknya.

Namun, apakah seseorang sudah pasti akan mengidap penyakit yang diidap oleh orangtua atau kakek neneknya? Mengapa penyakit tertentu bisa loncat dari kakek nenek langsung ke cucu, bukan anaknya sendiri? Berikut penjelasannya.

Bagaimana penyakit genetik bisa muncul dalam tubuh?

Sebelum menjelaskan bagaimana anak dan cucu Anda nantinya mungkin mendapat penyakit warisan dari Anda sendiri, pahami dulu bagaimana penyakit genetik bisa terbentuk dalam tubuh manusia.

Berbeda dengan penyakit influenza atau demam berdarah dengue (DBD), penyakit genetik tidak semata-mata disebabkan oleh infeksi bakteri atau virus dari luar. Penyebabnya yaitu kerusakan pada gen dalam tubuh Anda.

Kerusakan gen terjadi apabila tubuh terpapar radikal bebas dan bahan-bahan kimia yang lantas mengubah kode genetik Anda. Selain itu, kerusakan gen juga bisa terjadi kalau Anda mengalami stres berat.

Karena ada gen yang rusak, maka sel-sel dalam tubuh Anda tidak bisa berfungsi normal. Inilah yang mengakibatkan munculnya penyakit. Mulai dari penyakit genetik yang cukup umum seperti asma, penyakit jantung, diabetes, kanker, dan depresi hingga penyakit genetik langka seperti Down syndrome dan buta warna.

pengaruh genetik terhadap wajah bayi

Bagaimana penyakit bawaan bisa diturunkan ke anak cucu?

Gen yang ada di dalam tubuh Anda dibentuk dari kombinasi gen ayah dan gen ibu. Nantinya, gen yang paling dominanlah yang akan menentukan kondisi fisik dan psikologis Anda. Misalnya ayah Anda gemar merokok sejak Anda belum lahir. Racun dan bahan kimia dari rokok pun menyebabkan kerusakan pada gen ayah. Kerusakan tersebut akhirnya memicu kanker paru.

Gen ayah yang sudah rusak tersebut akan terbawa oleh sel sperma. Bila gen ini sifatnya cukup kuat dan dominan, gen ini akan tetap hidup dalam janin yang terbentuk dari pertemuan sel sperma dan sel telur. Maka, ketika Anda lahir, Anda sudah mewarisi bakat penyakit kanker paru dari gen ayah.  

Risiko kanker paru jadi makin besar kalau Anda menjalani gaya hidup yang bisa memicu penyakit ini. Misalnya Anda terpapar asap rokok ayah sejak kecil atau Anda sendiri merokok.

Penyakit keturunan bisa melompati satu generasi

Jangan salah, penyakit keturunan tak cuma diwarisi oleh anak saja, melainkan oleh cucu atau bahkan cicit Anda kelak. Sebagai gambaran, kakek Anda mengidap asma. Namun, ibu Anda ternyata tidak mewarisi penyakit ini dari kakek. Justru Anda sebagai cuculah yang akhirnya kena penyakit asma. Ini berarti penyakit tersebut melompati generasi kedua, yaitu ibu Anda, dan langsung ke generasi ketiga, yaitu Anda sendiri.

Bagaimana ini bisa terjadi? Sederhananya, tubuh ibu Anda hanya menjadi “tuan rumah” bagi gen penyebab asma. Gen ini hanya menumpang pada tubuh ibu, tidak menyerang dalam wujud penyakit. Entah karena gen ini tidak dominan dalam tubuh ibu atau karena faktor lain seperti gaya hidup sehat.

Namun, gen penyebab asma tidak lantas hilang begitu saja. Ayah Anda mungkin punya gen yang serupa. Akibatnya, Anda mendapatkan kombinasi gen penyebab asma dari ayah dan ibu. Gen tersebut berubah jadi dominan dalam tubuh Anda sehingga Anda pun kena penyakit asma bawaan.

Pada akhirnya, gen memang tidak bisa lompat generasi. Gen akan terus dibawa turun-temurun. Penyakit itu sendirilah yang mungkin lompat satu generasi.  

apa itu nutrigenomik

Mungkinkah saya menghindari penyakit bawaan dalam keluarga?

Sampai saat ini belum ada ilmu pengetahuan yang mampu menghentikan perkembangan penyakit keturunan dalam tubuh seseorang. Akan tetapi, Anda masih punya kesempatan untuk menunda atau mencegah perkembangan penyakit keturunan.   

Caranya adalah dengan menghindari pemicu penyakit (faktor risiko). Misalnya dengan menjalani gaya hidup dan pola makan sehat sedini mungkin.

Bila Anda sudah tahu ada riwayat penyakit tertentu dalam keluarga, waspadai gejala-gejalanya dan segera periksa ke dokter kalau ada keluhan. Semakin cepat Anda mendeteksi penyakit keturunan, semakin besar peluang Anda mengobati atau mengendalikan penyakit tersebut.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Berbagai Manfaat Daun Kale, Si Hijau yang Kaya Zat Gizi

Tak heran jika kale kini naik daun di kalangan para pecinta kesehatan. Sayuran hijau ini mengandung segudang manfaat, termasuk untuk kanker payudara.

Ditinjau secara medis oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
Nutrisi, Hidup Sehat 28/05/2020

Cara Diet Turun Berat Badan yang Aman Tanpa Bahayakan Kesehatan

Mau punya berat badan ideal? Diet sehat jawabannya. Namun, agar diet yang Anda lakukan tidak sia-sia, simak dulu panduan lengkap berikut ini.

Ditinjau secara medis oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Risky Candra Swari

Apa Bedanya Stres dan Depresi? Kenali Gejalanya

Stres dan depresi tidak sama, keduanya memiliki perbedaan mendasar. Maka jika penanganannya keliru, depresi bisa berakibat fatal. Cari tahu, yuk!

Ditinjau secara medis oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri

5 Penyebab Mulut Anda Terasa Pahit Saat Puasa

Penyebab mulut terasa pahit saat puasa biasanya tidak berbahaya. Bisa jadi, mulut terasa pahit karena Anda lalai melakukan hal yang satu ini! Apa ya?

Ditinjau secara medis oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Ajeng Quamila
Hari Raya, Ramadan 19/05/2020

Direkomendasikan untuk Anda

warna rambut

Warna Rambut Sesuai Karakteristik Diri, yang Manakah Anda?

Ditinjau secara medis oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
Dipublikasikan tanggal: 31/05/2020
gerimis bikin sakit

Benarkah Gerimis Lebih Bikin Sakit Daripada Hujan?

Ditinjau secara medis oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Dipublikasikan tanggal: 31/05/2020

Mengapa Perlu Matikan Lampu Saat Tidur?

Ditinjau secara medis oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Arinda Veratamala
Dipublikasikan tanggal: 29/05/2020
resep membuat bakwan

4 Resep Membuat Bakwan di Rumah yang Enak Tapi Sehat

Ditinjau secara medis oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Aprinda Puji
Dipublikasikan tanggal: 28/05/2020