Saat Demam Sebaiknya Kompres Dingin atau Hangat?

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 15 September 2020 . Waktu baca 5 menit
Bagikan sekarang

Demam adalah salah satu gejala yang sangat umum dari berbagai penyakit. Bahkan, hampir setiap orang pernah mengalami demam. Gejala ini juga sudah diketahui sejak berabad-abad lalu. Maka, tak heran jika penanganan demam pun sudah menjadi tradisi yang diwariskan secara turun-temurun. Mungkin salah satu cara menurunkan demam yang biasa dilakukan oleh keluarga Anda adalah dengan menempelkan kompres pada dahi. Tapi, mana yang lebih baik? Kompres dingin atau hangat?

Kompres dingin lebih sering digunakan oleh banyak orang untuk mengatasi demam tinggi. Diharapkan suhu dingin dari kompres bisa menyerap panas dari tubuh sehingga demam lebih cepat turun. Namun, tahukah Anda bahwa kompres dingin bisa jadi malah memperparah demam? Ingat, Anda perlu berhati-hati dalam menangani demam. Penanganan yang keliru bisa berakibat fatal. Jadi penting bagi Anda untuk menyimak baik-baik informasi seputar kompres demam di bawah ini.  

Mengapa tubuh bisa demam?

Demam ditandai dengan suhu tubuh yang meningkat, badan menggigil atau berkeringat, lemas, sakit kepala, dan nyeri otot. Pada bayi dan anak-anak, demam biasanya muncul saat suhu tubuh lebih dari 37 derajat Celsius. Sementara itu, orang dewasa akan terserang demam ketika suhu tubuh mencapai kira-kira 38 sampai 39 derajat Celsius.

Anda akan demam jika ada infeksi dalam tubuh yang disebabkan oleh virus atau bakteri. Biasanya virus dan bakteri akan berkembang biak dengan sangat pesat dalam tubuh pada suhu 37 derajat Celsius. Untuk mempertahankan diri dan mencegah perkembang biakan virus dan bakteri ini, suhu tubuh pun akan meningkat. Maka, demam merupakan pertanda bahwa tubuh sedang melawan infeksi.  

Umumnya, penyakit yang menyebabkan muncul demam adalah flu, radang tenggorokan, sinusitis, radang paru, tuberkulosis, dan infeksi saluran kencing. Beberapa penyakit berbahaya lain yang bisa mengakibatkan demam adalah demam berdarah, malaria, radang selaput otak (meningitis), dan HIV. Demam juga bisa muncul ketika anak habis menjalani imunisasi atau giginya mau tumbuh. Maka, jika Anda atau anak Anda mengalami demam, sebaiknya segera periksakan ke dokter untuk mencari tahu sumber penyakitnya sehingga bisa ditangani dengan baik.

Sebaiknya kompres dingin atau hangat?

Hati-hati kalau ingin memberikan kompres penurun demam. Biasanya jika Anda atau anak Anda demam, Anda akan dikompres dengan es batu yang dibungkus kain atau dengan kain yang sudah dicelupkan dalam air dingin. Ternyata, cara tradisional ini merupakan cara yang salah untuk menurunkan demam. Dokter dan tenaga kesehatan di seluruh dunia tidak menganjurkan Anda untuk memberikan kompres dingin pada orang yang sedang demam. Kompres dingin biasanya manjur untuk meredakan nyeri otot, bukan untuk menurunkan demam.

Saat Anda demam, tubuh jadi panas karena memang hal tersebut merupakan reaksi alamiah yang diperlukan oleh tubuh Anda dalam mempertahankan diri. Jika Anda menempelkan kompres dingin, tubuh justru akan menerjemahkannya sebagai ancaman terhadap proses melawan infeksi. Akibatnya, tubuh akan semakin meningkatkan suhunya dan demam pun jadi semakin parah. Selain itu, kompres dingin juga berisiko menurunkan suhu tubuh secara tiba-tiba. Hal ini akan memicu badan jadi menggigil. Oleh sebab itu, sebaiknya Anda menghindari kompres dingin saat demam, apalagi mandi air dingin.  

Jika demam yang menyerang sudah cukup tinggi dan Anda jadi sulit tidur atau merasa sangat tidak nyaman, sebaiknya bantulah dengan kompres hangat. Namun, pastikan bahwa suhunya tidak terlalu panas. Kain yang dibasahi dengan air suam-suam kuku sudah cukup untuk membantu mengendalikan demam. Kompres hangat memicu produksi keringat sehingga suhu tubuh akan menurun secara alamiah dari dalam. Selain itu, kompres hangat mampu membantu melancarkan aliran darah dan membuat Anda lebih nyaman.

Cara lain untuk menurunkan demam

Perlu diingat bahwa kompres dingin atau hangat bukanlah metode yang dianjurkan dokter untuk menurunkan demam. Kompres hanya akan membantu Anda merasa lebih nyaman ketika demam menyerang. Cara terbaik untuk menurunkan demam yaitu mengobati penyakit yang menjadi penyebab demam. Maka, Anda sebaiknya selalu berkonsultasi pada dokter jika Anda atau anak Anda diserang demam. Setelah itu, ikuti saran dokter dan minumlah obat-obatan yang diresepkan dokter Anda.

Beberapa trik lain untuk membantu Anda merasa lebih baik saat demam adalah banyak minum air putih, menjaga suhu ruangan agar tidak terlalu panas atau dingin, dan makan yang cukup. Selain itu, jangan mengenakan pakaian atau selimut yang terlalu tebal. Kenakan satu lapis pakaian saja yang tipis dan mampu menyerap keringat. Jika Anda menyelimuti diri dengan kain tebal, panas tubuh justru akan semakin terperangkap di dalam sehingga demam pun tak kunjung reda.

BACA JUGA:

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Nyeri Punggung, Ketahui Penyebab Hingga Pengobatan yang Efektif

Nyeri atau sakit punggung adalah sakit yang dirasakan sepanjang atau dekat tulang punggung. Bagaimana mengatasi kondisi ini?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Annisa Hapsari
Kesehatan Muskuloskeletal 27 Oktober 2020 . Waktu baca 10 menit

Cari Tahu Gejala, Penyebab dan Pengobatan untuk Sakit Pinggang

Sakit pinggang adalah keluhan yang umum dengan banyak kemungkinan penyebab. Cari tahu gejala, pengobatan, dan cara mengatasi nyeri pinggang di Hello Sehat.

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Annisa Hapsari
Kesehatan Muskuloskeletal 27 Oktober 2020 . Waktu baca 10 menit

4 Tips Mudah Mengatasi Bentol di Kulit Bayi

Kulit bayi Anda ada benjolan berwarna merah kecil? Cari tahu cara mengatasi bentol di kulit bayi agar si kecil tidak terus rewel!

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Yuliati Iswandiari
Bayi, Perawatan Bayi, Parenting 27 Oktober 2020 . Waktu baca 4 menit

Apakah Benar Otak Lebih Besar Artinya Lebih Pintar?

Meskipun terdapat beragam pendapat, tapi ada satu hal yang disepakati para ilmuwan: ukuran otak tidak bisa dijadikan indikator kecerdasan seseorang.

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Risky Candra Swari
Hidup Sehat, Fakta Unik 26 Oktober 2020 . Waktu baca 5 menit

Direkomendasikan untuk Anda

mitos tentang tidur

Mengenal 4 Tahapan Tidur: Dari “Tidur Ayam” Hingga Tidur Pulas

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ajeng Quamila
Dipublikasikan tanggal: 29 Oktober 2020 . Waktu baca 7 menit
manfaat menangis

3 Manfaat Menangis Bagi Kesehatan Fisik dan Mental

Ditulis oleh: Arinda Veratamala
Dipublikasikan tanggal: 29 Oktober 2020 . Waktu baca 4 menit
manfaat efek musik pada otak

5 Efek Musik Terhadap Kinerja Otak Manusia

Ditulis oleh: Kemal Al Fajar
Dipublikasikan tanggal: 29 Oktober 2020 . Waktu baca 4 menit
proses inflamasi

Proses Inflamasi Ternyata Penting Bagi Tubuh, Begini Mekanismenya

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Kemal Al Fajar
Dipublikasikan tanggal: 27 Oktober 2020 . Waktu baca 4 menit