Double Pneumonia, Ketika Infeksi Menyerang Kedua Sisi Paru-Paru Sekaligus

Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum

Pneumonia biasanya hanya menyerang salah satu bagian paru dalam satu waktu, entah kanan atau yang kiri. Ketika infeksi menyerang kedua sisi paru sekaligus, perkembangan penyakitnya bisa menjadi sangat serius karena tubuh akan amat kekurangan oksigen. Kondisi ini disebut dengan double pneumonia.

Apa penyebab double pneumonia?

Pneumonia bisa disebabkan oleh infeksi virus, infeksi bakteri, jamur, atau parasit lainnya. Yang mana pun penyebabnya sama-sama berpotensi menyerang kedua sisi paru.

Namun, risiko double pneumonia cenderung lebih tinggi ketika disebabkan oleh infeksi bakteri Pseudomonas dan Staphylococcus yang seringnya didahului dengan flu tak kunjung sembuh. Pneumonia double juga lebih sering disebabkan infeksi virus dan infeksi Legionella yang serius.

Infeksi pneumonia yang disebabkan oleh jamur juga mungkin menyerang kedua sisi paru, tapi hanya pada individu dengan daya tahan tubuh rendah seperti orang-orang usia lanjut.

Pneumonia double juga dapat berupa komplikasi dari pneumonia yang disebabkan oleh sepsis sehingga menyebabkan infeksi pada paru-paru yang masih sehat.

Gejala khas dan komplikasi dari pneumonia double

Pneumonia double tidak memiliki gejala yang jauh berbeda dengan pneumonia biasa, tapi dampak yang ditimbulkannya cenderung fatal. Itu sebabnya pneumonia double hanya dapat dideteksi dengan rontgen paru.

Pneumonia double dapat berdampak pada sistem pernapasan maupun bagian tubuh lainnya, seperti:

  • Nyeri pada bagian dada saat menghirup dan mengeluarkan napas.
  • Sesak napas meskipun tidak beraktivitas berat.
  • Batuk dengan dahak yang pekat dan tak kunjung sembuh.
  • Kondisi tubuh memburuk ketika mengalami infeksi saluran napas akut.
  • Perubahan suhu tubuh seperti demam tinggi ataupun hipotermia.
  • Lemas.
  • Merasa mual dan muntah-muntah ataupun mengalami diare.
  • Sianosis (bibir dan ujung jari berwarna kebiruan).

Tanpa penanganan yang baik, pneumonia double bisa semakin parah sehingga muncul komplikasi seperti:

  • Peradangan sistemik seperti sepsis.
  • Peradangan pada lapisan pleura paru (pleurisy)
  • Abses pada paru
  • Efusi pleura, kondisi fatal terjadi ketika lapisan pleura mengandung terlalu banyak cairan atau mengalami infeksi; biasa disebut “paru-paru basah”.
  • Gagal ginjal dan kegagalan sistem pernapasan.

Siapa yang paling berisiko mengalami pneumonia double?

Infeksi pneumonia dapat dialami oleh siapa saja, namun beberapa karakteristik berikut dapat meningkatkan kemungkinan seseorang mengalami pneumonia double:

  • Berusia lanjut, khususnya diatas 65 tahun.
  • Berusia sangat muda.
  • Mengalami malnutrisi/gizi buruk.
  • Merokok.
  • Memiliki riwayat penyakit saluran napas seperti penyakit obstruksi paru kronis (PPOK), asma, atau cystic fibrosis.
  • Memiliki penyakit kronis. seperti gagal jantung kongestif.
  • Mengalami penurunan imunitas yang disebabkan oleh penyakit HIV/AIDS atau penyakit autoimun.
  • Menjalani pengobatan tertentu yang menurun kerja sistem imun.
  • Memiliki gangguan menelan.
  • Baru saja mengalami infeksi virus pada sistem pernapasan.

Penanggulangan pneumonia double

Karena infeksi terjadi pada kedua paru, maka proses bernapas menjadi sangat terganggu dan menyebabkan asupan oksigen berkurang. Hal ini dapat meningkatkan risiko kematian, namun sangat mungkin dicegah dan diobati.

Pengobatan pneumonia harus dimulai sejak dini ketika muncul gejala awal infeksi seperti sesak napas dan demam tiba-tiba, agar perkembangan penyakit bisa dikendalikan secepat mungkin.

Jika infeksi disebabkan oleh infeksi bakteri atau terjadi komplikasi seperti sepsis dan efusi pleura, pengobatannya adalah dengan obat antibiotik dan pemasangan infus. Untuk kasus pneumobia yang disebabkan oleh infeksi virus, dokter akan meresepkan obat-obatan antiviral.

Di saat yang bersamaan, dokter juga akan melakukan serangkaian tindakan preventif untuk mencegah kerusakan lanjutan pada paru dan sekaligus untuk memastikan agar pasien tetap dapat bernapas. Jika sudah sampai menyebabkan sulit bernapas, maka pasien dapat dipasangan masker oksigen.

Pneumonia biasanya disertai gejala batuk. Meski dapat mengganggu, namun batuk adalah refleks tubuh untuk mengeluarkan kuman dari dalam tubuh. Maka, Anda sebenarnya tidak dianjurkan untuk menggunakan obat pereda batuk kecuali sudah direkomendasikan dokter.

Istirahat total dan tetap mencukupi kebutuhan cairan tubuh juga dapat membantu kecepatan pengobatan.

Baca Juga:

Sumber
Yang juga perlu Anda baca