Data teranyar dari Badan Kesehatan Dunia (WHO) tahun 2017 lalu menyebutkan bahwa ada lebih dari 300 juta orang yang menderita depresi dan 260 juta orang menderita gangguan kecemasan di dunia.  Banyak di antaranya yang hidup dengan kedua kondisi tersebut. Tingginya angka kasus gangguan jiwa tidak lepas dari beberapa faktor penyebab, seperti genetik, trauma berat, tuntutan pekerjaan, kondisi sosial-ekonomi, hingga perubahan gaya hidup termasuk pola makan yang tinggi gula dan lemak. Ya. Studi menunjukkan bahwa tingginya kadar gula dan lemak darah akibat pola makan buruk dapat memicu gejala gangguan jiwa.

Bahkan, sebuah penelitian tahun 2017 memaparkan bahwa bukan tidak mungkin bila suatu saat kolesterol dapat dijadikan faktor pengukur risiko depresi.

Apa hubungannya antara kadar gula dan lemak darah dengan risiko gangguan jiwa?

Sudah banyak penelitian yang melaporkan bahwa orang yang makan banyak gula, garam, dan lemak cenderung mengalami depresi dan gangguan kecemasan. Sebuah penelitian di Iran bahkan menyebutkan kasus depresi pada pasien kencing manis menembus angka 70 persen.

Makan makanan manis sesekali memang bisa bikin hati senang. Namun jika porsinya berlebihan dan dilakukan terus-terusan, gula bisa menimbulkan kecanduan yang efeknya sama seperti kecanduan narkoba atau miras. Ini karena gula memicu otak memproduksi dopamin, senyawa yang bertanggung jawab menimbulkan suasana hati riang dan bahagia.

Ketika Anda makan gula, tubuh akan menghasilkan hormon ini. Saat kadar dopamin kembali surut, otak membacanya sebagai “ancaman” sehingga memberi sinyal ke tubuh supaya Anda makan lagi agar hormon bahagia tersebut dihasilkan kembali. Ironisnya, sensasi ngidam ini akan memicu Anda mulai ketagihan. Semakin banyak gula yang Anda makan, hormon dopamin yang dihasilkan jadi di luar batas wajar. Ketika jumlah dopamin dalam tubuh sangat banyak, respon yang ditimbulkan malah justru sebaliknya. Anda malah jadi lebih gampang bad mood.

makanan junk food bikin imun agresif

Sama seperti kebanyakan makan gula, pola makan yang serba asin dan berlemak juga ikut andil memengaruhi risiko seseorang mengalami gangguan jiwa. Makanan ini sama-sama dapat menimbulkan efek ketagihan seperti makanan manis, nikotin, atau minuman beralkohol yang pada akhirnya membuat otak jadi memproduksi dopamin secara berlebihan. Telah banyak studi yang membuktikan bahwa tingginya kadar lemak darah, terutama kolesterol jahat LDL dan trigliserida, berhubungan erat dengan peningkatan risiko depresi, termasuk percobaan bunuh diri.

Ditambah lagi, asupan gula dan garam berlebihan diketahui dapat memicu peradangan pada sel-sel di dalam tubuh Anda. Peradangan sel, terutama sel-sel otak, dan ketidakseimbangan hormon otak adalah faktor risiko utama yang diduga memicu gejala gangguan jiwa, termasuk depresi dan gangguan kecemasan. Tingginya kadar gula dan lemak darah juga berhubungan dengan peningkatan risiko munculnya gangguan panik dan gangguan bipolar, dan masalah mental lainnya.

Penyakit yang muncul akibat pola makan tinggi gula dan lemak juga bisa picu depresi

Kadar gula darah tinggi adalah faktor risiko utama dari penyakit diabetes, sementara kadar lemak darah yang berlebihan terkait dengan risiko penyakit jantung dan masalah pembuluh darah seperti aterosklerosis.

Kondisi tubuh yang terus menurun akibat penyakit-penyakit kronis ini, termasuk juga selama menjalani pengobatannya — banyaknya obat yang diminum, pantangan ini-itu, serta biaya yang harus dikeluarkan — dapat menjadi sumber stres berat dan berkelanjutan. Stres yang timbul akibat penyakit kronis sudah sejak lama diakui sebagai salah satu faktor risiko pemicu gangguan jiwa.

Bagaimana mencegahnya?

Memang, tidak semua orang yang gemar makan manis dan asin akan pasti mengidap gangguan jiwa. Gangguan jiwa itu sendiri merupakan masalah kesehatan yang rumit, dan bisa disebabkan oleh banyak faktor lainnya.

Apabila selama ini pola makan Anda tinggi gula dan lemak, sekarang saatnya untuk mulai membatasi kebiasaan makan buruk ini. Kadar gula dan lemak darah harus dikontrol dengan memulai makan sehat dan olahraga serta tes kesehatan rutin agar risiko timbulnya gangguan jiwa dapat diminimalisir.

Baca Juga:

Sumber
Ingin hidup lebih sehat dan bahagia?
Dapatkan update terbaru dari Hello Sehat seputar tips dan info kesehatan
Yang juga perlu Anda baca