Gejala Penyakit Jantung Koroner yang Tidak Boleh Anda AbaikanIni adalah artikel sponsor. Informasi selengkapnya mengenai Kebijakan Pengiklan dan Sponsor kami, silakan baca di sini.

Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum

Penyakit jantung koroner (PJK) adalah jenis penyakit jantung yang paling sering terjadi. Sayangnya, masih sedikit orang yang tahu tentang gejala jantung koroner yang mungkin mereka miliki. Itu sebabnya banyak orang yang terkesan meninggal dunia tiba-tiba karena serangan jantung.

Penting untuk mengetahui apa saja gejala jantung koroner. Semakin cepat penyakit dideteksi dan mendapatkan obat jantung koroner, semakin besar pula kemungkinannya untuk sembuh.

Mengenal penyakit jantung koroner

Penyakit ini terjadi akibat adanya penyumbatan pada pembuluh darah arteri, sehingga aliran darah tak lancar dan mengakibatkan otot-otot jantung tidak menerima oksigen dan nutrisi lainnya. Kondisi tersebut menyebabkan otot-otot jantung tak berfungsi dengan baik dalam melakukan tugasnya untuk memompa darah ke seluruh tubuh. Sehingga, ketika otot jantung berhenti memompa maka akan timbul komplikasi, yaitu serangan jantung atau bahkan gagal jantung.

Tanda-tanda dan gejala penyakit jantung koroner

Penyakit jantung koroner disebabkan oleh penyumbatan pembuluh darah di jantung akibat penumpukan plak. Berikut adalah beberapa tanda bahwa Anda mengalami gejala jantung koroner.

1. Nyeri dada (angina)

Angina adalah nyeri dada yang terjadi ketika area otot jantung tidak mendapatkan cukup oksigen. Angina akan terasa seperti rasa menekan pada dada, yang biasanya akan dirasakan ketika Anda terlalu banyak beraktivitas.

Selain pada dada, rasa nyerinya juga bisa menjalar ke bahu, lengan, leher, rahang, atau punggung. Menurut American Heart Association, wanita cenderung melaporkan serangan jantung yang menyebabkan rasa sakit secara khusus di perut bagian bawah dan bagian bawah dada.

Namun perlu diingat juga, tidak semua nyeri dada adalah gejala jantung koroner. Nyeri dada akibat angina juga dapat disertai oleh gejala lainnya, seperti keringat dingin.

2. Keringat dingin dan mual

Ketika pembuluh darah menyempit, otot-otot jantung akan kekurangan oksigen sehingga menyebabkan suatu kondisi yang disebut iskemia. Kondisi ini akan memicu keluarnya keringat berlebih dan penyempitan pembuluh darah, yang kemudian muncul sebagai suatu sensasi yang sering dideskripsikan sebagai keringat dingin. Di sisi lain, iskemia juga dapat memicu reaksi mual dan muntah.

3. Sesak napas

Jantung yang tidak berfungsi normal akan berimbas pada kelancaran pernapasan penderitanya, sehingga membuat Anda rentan mengalami sesak napas. Sesak napas gejala penyakit jantung biasanya mungkin terjadi bersamaan dengan nyeri dada.

Segera periksakan ke dokter kalau mengalami gejala penyakit jantung

Jika Anda mengalami beberapa tanda di atas, jangan diabaikan! Anda perlu segera berkonsultasi dengan dokter untuk mengetahui penyebab munculnya tanda-tanda tersebut.

Jika Anda menduga bahwa Anda berisiko mengalami penyakit jantung koroner, segera dapatkan bantuan medis. Semakin cepat Anda mendapatkan perawatan untuk mencegah serangan jantung, semakin baik kesempatan Anda bertahan hidup.

Penyakit jantung koroner lebih berisiko dialami wanita

Sebagian besar wanita dengan penyakit jantung koroner memiliki bentuk penyakit yang sama kondisinya pada pria. Rata-rata, wanita yang mulai mengalami penyakit jantung koroner ini, berusia 10 tahun lebih tua daripada pria yang terkena penyakit ini.

Sayangnya, lebih banyak lagi wanita dengan pria menunjukkan pola “atipikal”. Pola atipikal ini menandakan bahwa ciri, gejala dan kondisi saat wanita terserang penyakit jantung koroner bisa beragam, tidak semuanya terlihat sama.

Parahnya, kondisi penyakit jantung koroner yang atipikal ini, sering mengakibatkan diagnosis dan pengobatan yang salah pada wanita. Karena inilah, penyakit jantung koroner pada wanita sering berdampak pada hasil perawatan yang buruk.

jantung berdebar ketika berdiri mendadak

Gejala jantung koroner yang tidak semua sama pada wanita ini suka menimbulkan anggapan yang salah. Banyak orang (bahkan dokter) yang masih percaya, kalau wanita jarang, atau bahkan susah terkena penyakit jantung koroner karena 3 faktor berikut ini:

1. Gejala penyakit arteri koroner bisa berbeda pada setiap wanita

Salah satu gejala jantung koroner adalah angina. Biasanya angina pada pria digambarkan seperti gejala nyeri menusuk di dada. Akan tetapi, angina pada beberapa wanita berbeda, mereka lebih sering muncul dalam bentuk dada yang mengalami sensasi panas, terbakar, atau bahkan dada terasa lunak saat disentuh. Bukan hanya di dada, gejala tidak nyaman ini bisa dirasakan wanita di bagian punggung, bahu, lengan, atau rahang. Bahkan jarang wanita yang mengalami gejala jantung koroner di dadanya.

Berdasarkan kondisi tersebut, banyak ahli kesehatan yang salah mendiagnosis angina pada wanita. Beberapa dokter bisa salah mendiagnosis dengan hanya menyimpulkan bahwa nyeri di bagian punggung wanita disebabkan karena nyeri otot, tulang atau bahkan gangguan pencernaan.   

Selain itu, gejala serangan jantung pada wanita juga berbeda dari pria. Dibanding nyeri di dada, wanita lebih sering mengalami mual, muntah, gangguan pencernaan, napas pendek atau kelelahan ekstrem. Kondisi serangan jantung ini juga lebih sering dialami wanita dengan kondisi diabetes.

2. Diagnosis penyakit jantung koroner pada wanita lebih sulit

Tidak semua tes dan hasil diagnosis penyakit jantung koroner pada pria dan wanita sama. Tes diagnosis yang bekerja sangat baik pada pria bisa menyesatkan pada wanita. Masalah ini paling sering dialami pada tes angiografi atau angiogram.

Angiografi adalah metode metode yang menggunakan sinar X dan pewarna kontras (biasanya berupa yodium) untuk melihat gambaran saluran pembuluh darah serta mendeteksi lokasi sumbatan pada pembuluh darah arteri di jantung.

Prosedur ini penting untuk dilakukan karena untuk dilakukan tindak lanjut seperti pemasangan cincin di pembuluh darah, perlu dipastikan terlebih dahulu lokasi sumbatan.

Pada wanita dengan penyakit arteri koroner yang gejalanya tidak selalu sama, tes angiografi koroner ini sering mengalami salah diagnosis. Berbeda jika dilakukan tes pada pria, hasil diagnosis serangan jantungnya selalu akurat.

3 .Penyakit arteri koroner pada wanita bentuknya dan gejalanya tidak selalu sama

Setidaknya ada beberapa kelainan gejala penyakit koroner pada wanita. Ini biasanya muncul saat wanita belum menopause. Bila dilakukan tes angiogram, beberapa bukti bisa menunjukkan pembuluh darah di jantung yang normal (arteri koroner yang sering tampak normal di angiogram). Namun, bila dokter mempercayai hasil angiogram dan tidak mendeteksi gejala lain, diagnosis dan penanganan yang tepat bisa terlewat begitu saja.

Siapa saja yang harus menjalani angiografi?

Pada beberapa kasus selain serangan jantung, dokter dapat mempertimbangkan untuk dilakukan angiografi koroner pada Anda. Di antaranya adalah:

  • Nyeri dada pertama kali
  • Nyeri dada yang semakin parah, muncul pada saat istirahat dan tidak membaik dengan istirahat (disebut sebagai angina tidak stabil)
  • Nyeri dada yang tidak khas, sementara pemeriksaan lain dalam batas normal
  • Anda memiliki hasil tes beban jantung yang abnormal
  • Anda memiliki gagal jantung
  • Anda harus menjalani operasi jantung dan memiliki resiko tinggi penyakit jantung koroner (PJK)

Cara mengatasi jantung koroner dengan pasang ring

prosedur operasi ambeien

Jika sudah terkena penyakit jantung koroner, salah satu metode yang paling umum digunakan adalah dengan pasang ring jantung atau stent jantung. Pasang ring jantung atau dalam bahasa medisnya disebut sebagai stent jantung adalah sebuah prosedur yang dilakukan untuk melebarkan pembuluh darah koroner yang menyempit atau tersumbat di bagian jantung.

Pembuluh darah yang tersumbat ini akibat dari penumpukan plak kolesterol ataupun zat lain yang menempel di dinding pembuluh. Oleh sebab itu, pemasangan ring jantung bertujuan untuk membuka pembuluh darah koroner di jantung sehingga bisa kembali menerima suplai darah yang cukup dan memperkecil kemungkinan seseorang mengalami serangan jantung.

Stent terbuat dari logam ataupun plastik yang berbentuk tabung kecil yang tersusun dari kawat-kawat yang nampak seperti jala. Pemasangan stent ini menetap, sehingga akan melekat di jantung dan tidak bisa dikeluarkan lagi. Oleh karenanya, permukaan stent dilapisi dengan obat jantung koroner lainnya yang bisa membantu menjaga arteri yang tersumbat agar tidak tertutup.

Seperti apa prosedur pemasangan ring jantung?

Prosedur pemasangan ring jantung dilakukan pada kasus-kasus darurat seperti saat seseorang terkena serangan jantung ataupun karena adanya keluhan seseorang yang mengalami penyempitan pembuluh koroner. Penyempitan pembuluh koroner bisa terdeteksi ketika seseorang melakukan pemeriksaan ke dokter terlebih dulu.

Pemasangan ring jantung merupakan prosedur nonbedah di bawah anestesi lokal yang diberikan di daerah pergelangan tangan ataupun pangkal paha. Maka, selama tindakan berlangsung pasien akan dalam keadaan sadar. Selain itu, pemasangan stent umumnya tidak membutuhkan waktu yang lama, namun hal ini tergantung dari kesulitan dan jumlah ring yang akan dipasang.

Prosedur pasang ring jantung akan diawali dengan proses kateterisasi. Kateterisasi dilakukan dokter dengan cara memasukkan selang kateter yang pada ujungnya dilengkapi dengan balon dan sudah dipasangi ring jantung melalui pembuluh darah ke arteri koroner yang menyempit atau tersumbat.

Ketika kateter sudah berada di daerah yang dituju, dokter akan memasukan zat kontras ke dalam kateter untuk melihat kondisi jantung pasien yang terlihat dari perjalanan zat kontras di pembuluh darah, sehingga memudahkan dokter untuk melihat keadaan jantung pasien yang muncul di layar monitor.

Saat kateter sudah dimasukkan ke dalam pembuluh darah, balon yang terdapat di ujung keteter dalam keadaan mengempis bersamaan dengan ring jantung. Namun ketika kateter telah sampai di area yang mengalami penyempitan dan penyumbatan, maka balon yang ada di bagian ujung keteter akan mengembang bersamaan dengan ring jantung. Balon ini berfungsi untuk meregangkan arteri yang tersumbat sehingga memungkinkan peningkatan aliran darah.

Setelah itu balon kateter dikempeskan dan kemudian selang kateter ditarik keluar. Namun saat kateter ditarik keluar, ring jantung menetap di lokasi tersebut supaya pembuluh darah tetap terbuka.

Bagaimana mencegah dan mengobati penyakit jantung koroner

Penyakit jantung koroner merupakan kondisi yang menyebabkan otot-otot jantung tak berfungsi dengan baik dalam melakukan tugasnya  memompa darah ke seluruh tubuh. Sehingga, ketika otot jantung berhenti memompa maka akan timbul komplikasi, yaitu serangan jantung atau bahkan gagal jantung.

Oleh karena itu, fokus utama dari perawatan obat jantung koroner yang diberikan pada pengidap jantung koroner bertujuan untuk mengurangi gejala yang timbul, mengurangi risiko terjadinya penumpukan plak pada pembuluh darah, serta mencegah serangan jantung.

Meskipun Anda diberikan obat jantung koroner untuk membuat kondisi kesehatan Anda membaik, namun pengobatan medis tidak akan sepenuhnya berhasil jika tidak diiringi dengan adanya perubahan pola hidup yang Anda miliki. Bila Anda memiliki penyakit jantung koroner, maka pastikan untuk melakukan hal-hal berikut:

risiko diabetes

1. Menerapkan pola makan yang sehat

Penumpukan plak yang ada di dalam pembuluh darah Anda terjadi akibat timbunan lemak tubuh yang terlalu banyak. Oleh karena itu, mulai sekarang Anda harus mengurangi mengonsumsi makanan yang mengandung lemak jenuh, seperti gorengan dan fast food.

Selain itu, jika Anda mengonsumsi makanan berkalori tinggi, juga akan meningkatkan risiko penyumbatan pada pembuluh darah. Jadi, batasi juga makanan yang mengandung gula tinggi dan tetap mengonsumsi makanan sesuai dengan kebutuhan kalori Anda. perbanyaklah mengonsumsi makanan sumber serat.

Tak hanya porsi makan, jadwal makan juga perlu Anda perhatikan agar Anda memiliki pola makan yang sehat dan mencegah makan berlebihan.

2. Melakukan olahraga rutin

Olahraga adalah hal penting yang harus dilakukan oleh semua orang, bahkan bagi Anda yang telah terkena penyakit jantung koroner. Dengan berolahraga rutin, lemak-lemak yang sebelumnya tertimbun di dalam tubuh dan membuat pembuluh tersumbat dapat terbakar, risiko serangan jantung pun semakin rendah.

Sebelum melakukan olahraga, sebaiknya diskusikan terlebih dahulu dengan dokter Anda jenis olahraga dan intensitas seperti apa yang boleh Anda lakukan. Usahakan untuk melakukan olahraga setiap hari, meskipun dalam durasi yang tak terlalu lama.

3. Hindari stres

Stres adalah salah satu faktor yang dapat menyebabkan pembuluh darah Anda tersumbat dan oksigen tidak sampai ke jantung. Wajar memang bila seseorang mengalami tekanan dan stres, namun yang terpenting adalah bagaimana mengelola stres tersebut. Anda dapat melakukan kegiatan-kegiatan yang Anda sukai, untuk menurunkan tingkat stres yang Anda alami.

4. Tidur dengan cukup dan teratur

Kurang tidur bisa menyebabkan Anda berisiko penyakit jantung koroner, sehingga bila Anda sudah mengalami penyakit tersebut, kebiasaan begadang hanya membuat kondisi kesehatan Anda semakin buruk. Dalam berbagai penelitian diketahui bahwa orang yang durasi tidurnya kurang dari 7 jam per malam memiliki risiko penyakit jantung yang lebih tinggi.

Baca Juga:

Sumber
Yang juga perlu Anda baca